Spiritual Journey Bersama Syaikh Kamba

Catatan Majelis Ilmu Gambang Syafaat, 25 Agustus 2017

Tentu kita ingat lagu “Tombo Ati”. Sebuah lagu tuntunan jika kita sedang gundah gulana, galau dengan berbagai macam sebab. Salah satu penggalan lagu tersebut adalah “wong kang sholeh kumpulono”, berkumpulah dengan orang yang saleh. Kami anak-anak Gambang Syafaat membenarkan lagu itu, entah mengapa kedamaian dan ketentraman menyelimuti kami saat menyertai Syaikh Nursamad Kamba.

Syeikh Nursamad Kamba di Gambang Syafaat Agustus 2017
Syeikh Nursamad Kamba di Gambang Syafaat Agustus 2017

Pertemuan kami dengan beliau terjadi pada Kamis (24/8) setelah beliau mengisi acara di sebuah perguruan tinggi di Kudus. Bakda Maghrib kami bersama dengan Sedulur Maiyah Kudus berziarah ke makam Sunan Kudus. Kami menyaksikan kekhusukan beliau berdoa di makam Sunan Kudus. “Jika saya tinggal di sini, saya akan menyempatkan seminggu sekali datang kemari. Saya merasakan ada energi yang sama dengan di Masjidil Haram”. Begitu kata beliau setelah keluar dari Makam Sunan Kudus. Sebuah pernyataan yang membuat kami malu. Kami yang dekat saja dan punya kesempatan berziarah setiap saat tidak selalu sempat melakukannya. Tentu kami percaya, beliau yang berulangkali ke Makkah sedangkan kami belum pernah.

Pagi harinya (25/8) perjalanan kami lanjutkan. Kali ini bersama Sedulur Maiyah Kudus, Demak, dan Semarang. Kami menuju ke makam Kanjeng Sunan Kalijaga di Kadilangu Demak. Kami mengikutinya dari belakang, beliau berhenti di beberapa makam dan berdo’a yang kami tidak tahu alasannya. Sampailah kami ke Makam Sunan Kalijaga. Makam Sunan Kalijaga yang biasanya ditutup rapat pada hari itu dibuka. Kami masuk di ruang tanpa lampu itu. Teman-teman yang menyertai berziarah sebagian besar baru pertama kali masuk ke Makam Sunan Kalijaga. Kami menyaksikan kekhusyukan beliau membaca sholawat di makam Sunan Kalijaga. Di dalam mobil menuju Masjid Agung Demak beliau bilang, “Luar biasa indah. Ketika saya dulu berkesempatan masuk di makam Rasulullah, saya mendapatkan tempat persis seperti tadi”.

Di Masjid Agung Demak kami disambut Remaja Masjid Agung Demak yang kebetulan juga anak Maiyah. Waktu Jumatan masih lama. Kami sempatkan untuk berziarah ke makam Raden Fatah dan Sultan Trenggono. Tibalah saatnya kami mengikuti sholat Jumat di Masjid Agung Demak. Suasana tenteram di dalam Masjid. Muadzin yang suaranya lembut. Hingga khotbah yang menenteramkan. Ada sedikit perbedaan dari masjid-masjid lain yaitu dipukulnya kentongan dan bedug tanda dimulainya Jumatan pada hari itu.

Malam harinya beliau diagendakan menemui Jamaah Maiyah di Masjid Baiturahman Simpang Lima Semarang dalam acara Gambang Syafaat yang terlaksana setiap tanggal 25 Masehi. Acara pada malam hari itu dimulai tepat pukul 20.00 WIB. Selain karena pengisi acara yang padat, kami tidak ingin melepaskan kesempatan belajar dalam waktu yang panjang bersama Syaikh Kamba. Kesempatan yang tidak setiap saat bisa terjadi.

Malam itu Gambang Syafaat digembirakan dengan dipentaskan teater Wayang Gugur Gunung yang membawakan lakon Percakapan Jabang Bayi kepada diri, juga Wakijo and band yang melantunkan beberapa lagu dan salah satunya Jalan Sunyi. Abah Budi Maryono membacakan cerpen berjudul Kambing Kurban. Selain Syaikh Kamba, malam itu Gambang Syafaat juga ditemani oleh Pak Ilyas, Mas Agus, Kang Ali Fatkhan. Pak Saratri sempat hadir untuk bercengkrama dengan Syaikh kamba tetapi pamit dulu karena punya gawe keluarga.

Malam itu Syaikh Kamba mengudar tema yang diangkat pada malam hari itu yaitu Al Baqiyyat Al Baaqiyah, pejuang yang tersisa. Selain itu beliau juga mengurai makna atau pengertian ulama. Masuk dalam tanya jawab. Untuk beliau ada tujuh pertanyaan dari jamaah yang harus beliau jawab.

Menerangkan al baqiyyat al baaqiyah beliau mengatakan: bangsa ini dari berbagai kalangan baik itu buruh hingga ilmuwannya sudah terjebak pada kultur konsumtivisme. Mereka menjadi pusaran pasar, penumpukan harta, injak- menginjak. Kultur ini mirip dengan kultur jahiliyah sebelum Islam datang. Kultur ini adalah wajah baru dari ideologi imperialisme. Sebuah cara menjajah yang tidak disadari oleh yang dijajah. Yang membuat bangsa ini tertinggal adalah karena tidak berdaulat. Kita menilai keberhasilan dan kesuksesan melalui definisi dan rumusan yang dibuat orang lain.

Gambang Syafaat 25 Agustus 2017
Gambang Syafaat 25 Agustus 2017

Lalu Maiyah ini hadir, ia menjadi pejuang yang terakhir karena setidaknya anak-anak Maiyah memiliki kesadaran itu. mereka melihat garis batas itu. Maiyah ibarat perahu Nuh. Ada dua pilihan mengagungkan benda-benda dan keyakinan akan kekuatan dirinya atau masuk ke kapal Nuh dengan keyakinan kebersamaan dengan Allah. “Pejuang yang tersisa adalah orang-orang yang tidak silau pada kesuksesan dunia. Ia ikhlas dan ke Allah tanpa pamrih. Orang yang ikhlas itu tidak mengharapkan apa-apa, pasrah kepada Allah. Ibadahnya dilakukan bukan untuk tawar-menawar dengan Allah.

Syaikh Kamba juga menerangkan tentang iman. Kata beliau, iman itu dinamis dan bukan statis. Iman juga adalah proses kerja. Nabi mengatakan bahwa tak akan mencuri, berzina, jika ia beriman. Logika untuk tidak boleh fanatik terhadap apa yang kita dapat saat ini adalah agar terbuka terhadap kemungkinan hadirnya cahaya. Beliau menerangkan tentang bumi dan matahari, untuk mendapatkan cahaya dari matahari kita harus berani bergeser tempat.

Tentang ulama beliau menerangkan bahwa ulama itu pasti sekelompok, jika sendiri satu orang disebut alim. Ulama menurut Syaikh Kamba adalah orang yang telah menemukan nuraninya. Ia merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, sebagai mana cermin melihat diri pada orang lain. Ulama atau alim adalah penggenggam ilmu. Ilmu adalah menunjukkan potensi menjadi aktualitas. Ilmu adalah cahaya yang menerangi sesuatu yang potensial menjadi faktual. Seorang ulama harus bisa mewujudkan wujud potensi dan ke wujud faktual.

Mengaku sebagai seorang ulama setidaknya ia memiliki intuisi. Intuisi ini digunakan untuk memprediksi ke depan. Ibarat sebuah pertandingan, orang yang memiliki intuisi yang baik, ia akan memprediksi kemungkinan yang akan terjadi di lapangan sehingga mampu mereaksi dengan cepat dan tepat sehingga ia muncul sebagai juara. Intuisi tersebut terbentuk melalui pengetahuan yang benar, pelatihan intensif, serta instruktur yang ahli. Dalam konteks ini, ibadah seperti salat yang dilakukan secara berulang-ulang terus-menerus adalah sebagai pelatihan intensif untuk mempertajam intuisi. “Dalam bahasa agama intuisi adalah Ihsan. Ulama harus tahu hal itu.

Tujuh pertanyaan melaui dua sesi dijawab Syaikh Kamba dengan jelas dan gamblang. Salah satu penanya bernama Hasan bertanya “Dalam salat yang terpenting yang mana apakah sujud rukuknya, apakah tuma’ninahnya?”

Syaikh Kamba menjawab pertanyaan itu, “Harusnya bukan seperti itu cara berpikirnya, berukuk sujudlah yang benar maka tuma’ninah akan terwujud. Karena tuma’ninah tidak bisa dibuat-buat. Tuma’ninah itu dibangun mulai dari pikiran yang tenang, benar, baru gerakan salat seperti rukuk dan sujud juga tenang dan tuma’ninahlah sholat kita”.

Gambang Syafaat di Masjid Baiturrahman Semarang
Gambang Syafaat di Masjid Baiturrahman Semarang

Syaikh kamba menambahkan bahwa tuma’ninah tidak bisa dipaksakan secara tiba-tiba, ia akan hadir dengan sendirinya jika kita sudah bersih dari iri, dengki, dan penyakit hati lainya.

Acara dipuncaki pukul dua dini hari (26/8) dengan melantunkan Shohibu Baiti secara bersama-sama dan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Syaikh Kamba. Beliau masih ada waktu untuk istirahat sebentar, karena pada paginya beliau harus kembali ke Jakarta dengan penerbangan jam pertama. “Sudah satu minggu saya meninggalkan rumah,” kata beliau. Semoga ilmu dan perjalanan yang dihadiahkan kepada kita berkah. (Muhajir Arrosyid)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image