Spiritual Bukan Versus Sosial

Saya sebenarnya sangat berharap bisa seperti dulur-dulur yang lain yaitu membaca, memahami, dan merespon Daur perjalanan Markesot yang pada saat saya menulis ini sudah mencapai lebih dari seratus edisi. Namun setiap mau menulis respon saya pasti bingung hendak menulis apa dan bagaimana. Alam berpikir saya terasa mati. Kemampuan rasional saya seperti melewati lintas dimensi yang sangat jauh sehingga hanya berputar-putar dalam logika kepala saya. Mungkin ini bukan hanya sekedar masalah kemampuan berpikir saja, akan tetapi ini permasalahan rasa dan laku.

Saya hanya bisa meminta maaf kepada sang penulis Daur. Saya mengaku murid beliau tetapi perilaku saya belum seperti yang beliau contohkan. Tapi walau bagaimanapun, saya selalu berharap beliau tetap berkenan mengakui saya sebagai murid beliau. Pada Daur 63 – Dunia Bukan Tempat Membangun beliau menulis :

Dunia bukan tempat membangun, melainkan tempat mencari menemukan bahan-bahan bangunan

Di dunia ini kewajiban saya adalah belajar mengidentifikasi, mana bahan bangunan yang berguna bagi masa depan abadi saya dan mana yang bukan. Setelah mampu mengidentifikasi, syukur saya benar-benar bisa menemukan bahan-bahan bangunan itu. Mencarinya di tengah indahnya hiasan dunia yang melenakan. Tapi saya tetap harus berusaha menemukannya, sebagai bekal saya untuk masa depan saya.

***

Pada bagian lain dari Daur, yakni pada Daur 25 – Pandai Kepada Diri Sendiri, beliau menjelaskan bahwa dalam berperilaku, kita harus bisa menempatkan mana kewajiban dan hak. Jika hak dijadikan sebagai dasar berprilaku dan berpikir maka hasilnya adalah fatalistik.

Kalau engkau menyangka hidup ini isi utamanya adalah hak, dan itu menjadi landasan utama dari perilakumu, menjadi hulu-ledak dari kelakuanmu, menjadi dasar pikiran untuk mengambil keputusan menuju masa depanmu — aku tidak akan mempersalahkanmu. Tidak akan membantahmu. Juga tidak mengecam atau menghardik dan mengutukmu.

Sebagai hamba dan abdi Tuhan, perilaku atau peran kita dalam segala hal harus didasari oleh kewajiban beribadah, baik dalam konteks mahdloh maupun muamalah. Aktualisasi kewajiban mahdloh dan muamalah sekarang terdikotomi sangat luar biasa bahkan mengidentitas menjadi aliran, yakni satu menjadi aliran spiritualis dan satu menjadi aliran sosial. Padahal seharusnya dua hal tersebut merupakan sesuatu yang terintegrasi.

Banyak orang yang karena tingkat ketaatan ibadah mahdloh-nya melebihi yang lain maka dia merasa lebih dekat dengan Tuhan. Bahkan ia tidak sadar sudah mengambil alih peran Tuhan dengan men-judge orang lain kafir, sesat, atau musyrik. Maqom yang seharusnya transenden menuju Ilahi, justru menjadi obsesi eksistensialisme. Sebuah tindakan yang bukannya produktif, tapi justru membuat terlena pada kewajiban peran sosialnya. Sedangkan di sisi sebaliknya, kesibukan pekerjaan-pekerjaan sosial membuat seseorang merasa tidak butuh menekuni ibadah. Karena ibadah dianggap tidak memberi hasil kongkrit sebagaimana hasil yang ia peroleh dalam proyek-proyek sosial.

Sholat, zakat, puasa, berkeluarga, bekerja, dan segala aktivitas kita, harus kita dasari dengan peran kewajiban kita sebagai abdi. Dalam kesadaran abdi, tidak sinkron jika kita memisah-misahkan ritual ibadah dan kerja sosial, mahdoh dan muamalah. Mencoba mengkapling-kapling keduanya justru akan membuat kita bingung sendiri. Membangun cara berpikir yang benar mengenai hal tersebut, diharapkan akan berdampak pada peningkatan kualitas penghambaan kita pada Tuhan. Kita semakin transenden dan meningkat, menuju teraihnya predikat Muttaqin.

***

Pada bagian Daur lainnya lagi, yakni Daur 30 – Ilmu Peta Diri saya melihat betapa cintanya beliau terhadap manusia dan alam semesta ini. Sehingga beliau melakukan begitu banyak hal tanpa pamrih apapun.

Tetapi, meskipun demikian, hasil puncak dari beratus kegiatan Markesot itu adalah pertanyaan umum: “Markesot? Siapa itu? Apa kegiatannya? Kok tidak eksis?”.

Sehingga kalau ada yang menanyakan “bagaimana Markesot menilai dirinya sendiri berdasarkan cara pandang Ilmu Peta Diri yang Markesot sendiri yang sering memakainya untuk menjelaskan manusia dan masyarakat?”, Markesot pasti menjawab: “Lihatlah seluruh hidup saya, maka akan kelihatan contoh manusia yang paling gagal dari cara pandang itu”.

Betapa hal ini semakin membuat saya yakin bahwa saya memang benar-benar tidak menginginkan identifikasi akal saya tentang diri beliau. Akal saya hanya mampu berpikir tentang peran-peran beliau pada wilayah sosial: menjadi mediator dari berbagai macam masalah kenegaraan, kemasyarakatan, kebudayaan, lingkungan hidup, dan lain sebagainya tanpa berharap pengakuan eksistensi dari khalayak. Namun, menurut saya kenyataannya beliau lebih negarawan dari seorang presiden, lebih adil dari kaum sosialis, dan lebih tawadlu’ dari seorang agamawan. Terlebih lagi beliau  rela ‘menumbalkan’ diri demi terciptanya peradaban yang bermartabat dan mendapat rahmat dari Tuhan. Dalam peran sosial beliau yang saya ketahui itu pun saya baru sebatas takjub dan merasa belum mampu menghikmahi secara mendalam peran demi peran beliau. Apalagi mencontohnya, sama sekali saya masih nol besar.

Tentang diri beliau, saya tanggalkan akal saya karena sangat saya sadari bahwa akal saya tidak akan mampu menjangkau diri beliau. Meski kebanyakan cara pandang orang sekarang menilai bahwa yang beliau kerjakan tidak akan mendapatkan apapun dan bukan pragmatis, namun hal itu semakin meyakinkan hati ini untuk berguru pada beliau. Saya tidak akan melakukan klarifikasi apapun tentang diri beliau.

Dengan diam tanpa pertanyaan apapun saya berharap diakui menjadi murid beliau meski diri ini belum bisa memerankan diri menjadi santri yang baik, apalagi membantu mentransformasi nilai-nilai yang beliau perjuangkan. Saya sangat yakin akan apa yang beliau perjuangkan akan bermanfaat besar bagi peradaban alam semesta ini.

***

Apa yang saya tulis ini semoga mendapat nilai sebagai bentuk kesetiaan sebagaimana Sapron yang lulus mempersembahkan kesetiaan di rumah hitam Patangpuluhan. Serta semoga apa yang saya tulis ini tidak mencerminkan saya sebagai Markuwat si pemain Ludruk, yang ketika dimintai respon, ia menanggapinya dengan berlipat-lipat.

Terakhir, saya haturkan do’a kepada Tuhan, semoga Simbah Muhammad Ainun Nadjib senantiasa dipanjangkan umur dunianya diberi kesehatan dan kemudahan-kemudahan dalam setiap urusan. Aamiin.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image