Spektrum Al’Alamin

(Untuk Anak Cucu Maiyahku, 6)

Alamilah sendiri betapa Maiyah mencintai Indonesia, meskipun ia tak berguna di Negerimu. Satu bangsa bisa menjajah bangsa lain karena nasionalisme bangsa penjajah itu tidak diletakkan dalam spektrum universalisme kemanusiaan. Maiyah tidak begitu, tetapi bangsa yang dijajah itu kemudian malah menyetujui spektrum itu, bahkan mengikuti jejak penjajahnya yang nasionalismenya bermakna primordialisme dan egosentrisme suatu rumpun manusia yang secara “brutal” disebut bangsa.

Maka Maiyah tidak bermanfaat di Negerimu. Dan pada hakikatnya yang terjadi antara bangsa yang menjajah dengan yang dijajah bukanlah penjajahan, melainkan hubungan transaksional antara yang melacur dengan pelacurnya. Maiyah tak sanggup menjadi dholimun, madhlumin maupun fasidin.

Maka Negerimu itu tidak punya kerangka berpikir untuk menerima Maiyah. Sebab kategorisasi pemikiran modern meletakkan Maiyah di kotak “alergi politik”. Yang dikenali sebagai politik adalah perangkat keras kekuasaan. Kepemimpinan adalah jabatan. Derajat adalah pangkat sosial. Itu pun dalam penyempitan spektrum kehidupan yang dinamakan Negara.

Sementara negeri Maiyah adalah Al’alamin. Maiyah memahami manusia sebagai pusat komprehensi antara konteks insaniyah, ‘ubudiyah dan khilafah. Dialektika dari posisi rebah dalam semesta uluhiyah menjadi transformator rububiyah, membangun rahmah lil’alamin. Sebatas kadar liutammima makarimal akhlaq. Dengan ketergantungan kepada mulkiyatullah. Itu pun tidak mbentoyong memanggul kewajiban lebih dari wala tansa nashibaka minad-dunya. Skala Nasionalisme adalah bidang garapnya.

Para pereguk mataair Maiyah tidak meliterasikan itu semua secara akademis, melainkan langsung mengalami dan menikmatinya. Maiyah sangat meringankan perjalanan hidup, tapi sekaligus menyodorkan tantangan yang mungkin takkan pernah bisa dilunasi. Sebab Maiyah menemukan tidak ada benda, tema dan peristiwa yang berdiri sendiri secara steril, parsial dan linier.

Seorang koruptor bisa kirim biaya untuk membangun Masjid di kampungnya. Pelacur kelas tinggi bisa menyisihkan uang untuk membagi modal kepada ratusan kelompok usaha kecil rakyat bawah. Pejabat tinggi memberantas maksiat sehingga mulus jalannya menuju jabatan lebih tinggi. Dengan baju Pewaris Nabi, seseorang bisa mengkapitalisasikan sejumlah tema Agama, Nabi, bahkan Allah dan firman-Nya.

Sedangkan Maiyah saling mempersaudarakan, saling mengamankan, menolong, menggembirakan dan membahagiakan satu sama lain, dengan pamrih maksimal memperbanyak jumlah Al-Mutahabbina Fillah. Puluhan tahun hingga detik ini tak secuil pun terdapat perilaku Maiyah yang indikatif terhadap kekuasaan, pangkat, jabatan, materialisme dan kapitalisme.

Maka tahun politik di Negerimu mulai tahun depan ini disyukuri oleh Maiyah karena: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk sorga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?”. Allah menganugerahkan ujian itu kepada Maiyah.

Mataair Maiyah 9,
Kadipiro, November 2017

Alamilah sendiri betapa Maiyah mencintai Indonesia, meskipun ia tak berguna di Negerimu. Satu bangsa bisa menjajah bangsa lain karena nasionalisme bangsa…