Slilit Sang Kiai dan Tiket Masuk Surga

Anak saya, duduk di kelas satu SMA, membawa pulang buku Slilit Sang Kiai. Ini sebuah kejutan sekaligus menimbulkan tanya di benak saya, mengingat putra sulung saya cenderung mengakrabi tantangan sains dan matematika. Atau, jangan-jangan saya telah terjebak pada polarisasi, misalnya antara jurusan IPA dan Sosial yang memilah siswa ke dalam spesialisasi-paradoks mata pelajaran?

Sejak memiliki edisi pertama buku Slilit Sang Kiai tahun 1993-an, tak terhitung berapa kali saya mengkhatamkannya. Sore itu buku edisi kedua, cetakan kedua, dengan cover yang baru, ada di samping laptop anak saya. Tak tahan saya untuk tidak membacanya, entah untuk yang keberapa kali. Aroma, nuansa, getaran rasa, sikap berpikir selalu tiba-tiba menyelinap di tengah membaca deretan kalimat dan susunan paragraf. Selalu ada yang baru, walaupun teks dalam buku Slilit Sang Kiai nyaris tidak berubah sejak terbit pada Cetakan I, Desember 1991.

Anak bungsu saya, berusia empat tahun, tiba-tiba bertanya: ”Buku apa itu, Pak?” Dia belum bisa baca sehingga saya sebut saja judul bukunya. “Ayo, Pak, aku didongengi slilit!” pintanya. Saya terperanjat—bukan karena gaya spontan anak kecil yang khas, melainkan umpama saya harus mendongeng, cerita apa yang akan saya tuturkan? Apakah saya akan mengisahkan “Aku Sakit, Engkau Tak Menjengukku”, “Makan Minum Dak Tentu”, “Melodi Perjalanan”, “Ketonggeng”, atau yang abstrak sekalian seperti “Humanisme Tropis: Realisme Senen Kemis”?

Saya menjelaskan ini bukan buku dongeng seperti yang sering saya bacakan untuknya. Saya dikejar terus. “Ada gambarnya?” dia bertanya lagi.

“Buku Mbah Nun tidak ada gambarnya, Le.”

“Cak Nun yang di Padhangmbulan itu ta?”

Mlete bener anak saya, ikut memanggil Cak Nun. Ibunya segera mengoreksi.

“Mbah Nun, Le.”

“Lha Bapak biasanya memanggil Cak Nun.”

Waduh, saya tidak berkutik.

Demi menjaga adab dan sikap tatakrama kepada sesepuh dan orangtua, sejak saat itu saya membuat kesepakatan dengan istri untuk nimbali beliau dengan Mbah.

Ideologi Nuthul dan Keseimbangan Berpikir

Apa sesungguhnya yang hendak saya sampaikan melalui cerita paling sehari-hari itu? Adalah kenyataan tentang Slilit Sang Kiai, baik sebagai buku kumpulan kolom maupun “slilit”, yang mengatasi karakter dan watak dari generasi ke generasi, memasuki lorong kereta waktu, menerbitkan matahari pencerahan.

Fakta kontekstualitas saat tulisan itu diberangkatkan mungkin sudah sangat berbeda dengan era ke-kini-an. Media sosial menjadi gerakan yang menuntun kesadaran masal dan merasuki sel-sel berpikir hampir setiap orang. Kita sedang berada di era informasi yang kadar kemubadzirannya tumpah ruah. Dan Slilit Sang Kiai kembali hadir, kelak akan kembali hadir, terus hadir menyapa kita semua yang tersesat di belantara hutan informasi yang dipanglimai oleh ideologi nuthul.

Kolom, esai, feature, cerpen, puisi, novel serta sejumlah bentuk tulisan lainnya, atau gerakan-gerakan yang diinisiatifi oleh perkumpulan komunitas merupakan wadah, selembar kanvas lukis, yang dimuati oleh kelembutan inti-pandang, inti-sikap, inti-jarak pandang yang setiap “penampilan” komunikasinya perlu diwataki oleh prinsip keseimbangan.

Khusushon untuk teman-teman yang rajin menulis: berpikir yang seimbang sebelum menulis, ketika sedang menulis, dan sesudah menulis adalah konsekwensi atas tanggung jawab sikap ikhlas bahwa audiens utama adalah Allah dan Rasulullah. Kita tidak ingin kecelek dan diriwuki slilit “supaya”, “agar”, “demi”—pamrih yang sangat ringan, sepele dan ecek-ecek, walaupun itu semua sering “digoreng” sedemikian rupa oleh motivator untuk mengeruk uang receh sebanyak-banyaknya.

Ada saja pertanyaan yang bikin budrek kata seorang teman, misalnya “Berapa harga tiket Maiyah di Kenduri Cinta?” Pertanyaan yang merefleksikan para motivator telah berhasil mengedukasi penganutnya dan men-setting cara berpikirnya untuk bisa masuk surga kita harus memiliki tiket dengan membayar sejumlah harga yang tidak murah. Inilah surga yang dikapling.

Antitesa dan Detoksifikasi

Dengan demikian, menulis tidak demi dan untuk meraih surga yang dikapling itu—menulis serupa berhenti sejenak di terminal, atau seperti kehidupan dunia ini, yang sejenak saja kita singgahi. Dan perjalanan harus dilanjutkan. Menulis serta aktivitas kerja dunia bukan mata rantai utama. Ia adalah salah satu mata rantai dari mata rantai lainnya—makelaran sepeda, mencangkul di sawah, mencuci baju, menjadi ketua takmir masjid, serta peran dan fungsi sosial lainnya—yang itu semua melingkar-lingkar dalam satu skema perjalanan yang pasti akan berjumpa dan berkumpul kembali di halaman Rumah-Nya. Di tengah relativitas setiap mata rantai itu kita sedang meng-kholidina dan abada.

Kholidina dan abada itu ditemukan dalam titik keseimbangan antara rumput dan lauhul mahfudh, antara tutup botol dan gendruwo, antara kamera digital dan malaikat Jibril, antara asbak rokok dan perahu Nabi Nuh.

Buku Slilit Sang Kiai adalah satu diantara formula “titik tengah” maiyahan yang menjadi “antitesa” di tengah kholidina dan abada yang di-materi-kan oleh materialisme. Antitesa dari pilar utama pendidikan yu’minuuna bil ghoibi yang di-benda-kan. Antitesa dari gerakan iqra’ yang dipersempit sekadar gerakan membaca teks tulisan. Antitesa dari ikhitar kebudayaan yang menjadikan wadagisme sebagai kesuksesan paling agung. Antitesa dari surga yang ditiketkan.

Antitesa ini pun perlu dicermati sebagai bukan semata-mata lawan dari “pihak” tesa yang sengaja dilawan, karena kita sedang memerlukan detoksifikasi yang bekerja dalam internal kesadaran kita.

Pantas saja saya gelagapan saat anak bungsu saya minta didongengi buku Slilit Sang Kiai. Hidup saya masih dimuati oleh slilit ketidakseimbangan.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image