Sisa-sisa (Hikmah) Badai Siklon Tropis Cempaka

Badai Siklon Tropis Cempaka menyisakan banyak hal. Beberapa di antaranya adalah kerusakan fisik seperti jembatan ambrol, tanggul sungai jebol, rumah hanyut terbawa sungai, buku dan berkas-berkas penting rusak karena air masuk ke dalam rumah dengan ketinggian yang cukup tinggi. Selain luka fisik, juga luka psikis karena kepanikan-kepanikan dan kekhawatiran-kekhawatiran.

Apapun saja peristiwa yang menimpa kita pastilah tidak hanya menyisakan sesuatu yang dianggap negatif saja, tetapi juga menyisakan sesuatu yang positif. Mungkin tidak hanya sekedar menyisakan, tetapi malah menghasilkan sesuatu yang positif. Itu menurut apa yang saya yakini. Kalau ada yang punya keyakinan lain silakan.

Ketidaklenyapannya suatu kumpulan manusia karena bencana merupakan salah satu tanda bahwa Allah masih memberikan manusia kesempatan untuk mengambil pelajaran yang berharga dari peristiwa tersebut.

Oleh karenanya, pada suatu pagi, beberapa hari pasca Badai Siklon Tropis Cempaka yang salah satunya menimpa wilayah tempat tinggal saya, saya mencoba gresek-gresek mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut.

Saya memulainya dengan mengingat-ingat keadaan malam itu. Tepatnya Selasa malam, 28 November 2017 selepas Shalat Isya’ sampai Rabu dini hari, 29 November 2017 paling tidak sampai jam 02.00 dini hari, benar-benar terjadi kepanikan yang luar biasa di Dusun tempat tinggal saya. Arus air sungai sangat deras, volumenya sangat banyak sehingga tingginya jauh diatas ketinggian biasanya, jembatan ambrol, tanggul jebol. Bapak-bapak dan pemuda ronda mengawasi keadaan sungai. Ibu-ibu, pemudi dan anak-anak ada yang diungsikan kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Yang ada di pikiran saya hanya pasrah dan pasrah. Dan mungkin karena lebaynya saya, saya jadi teringat cerita Nabi Nuh.

Setelah mengingat-ingat kejadian tersebut, saya menegok ke kiri. Di kiri saya ada buku Daur jilid I. Kemudian saya membukanya di halaman yang saya kasih pembatas buku. Tepatnya pada halaman 91, berjudul Darurat Aurat (2). Saya baca paragraf pertama,

Anak-anak dan cucu kita saling melempar caci maki, fitnah, dhonn, klaim, dan segala macam jenis api kebodohan. Mereka bermusuhan dengan merasa saling mempertahankan kebenaran. Padahal, kebenaran yang mereka maksud adalah kebenaran jadi-jadian yang direkayasa dan dicuciotakkan ke pikiran mereka. Kita merasa sengsara rohani, melebihi nenek moyang anjing-anjing yang meratapi anak-cucunya berebut tulang.”–Daur 17Darurat Aurat (2)

Kemudian saya terhenti sejenak.

Mak thek, rasa-rasanya kok saya seperti dingingatkan bahwa bencana yang bersifat fisik itu tidak lebih buruk dari bencana-bencana rohani. Sebagaimana di kalimat pertama pada paragraf pertama Darurat Aurat (2), “anak-anak dan cucu kita saling melempar caci maki, fitnah, dhonn, klaim dan segala macam jenis api kebodohan.

Bencana fisik recovery-nya mungkin beberapa bulan beres. Kalau bencana rohani yang kesengsaraannya melebihi nenek moyang anjing-anjing yang meratapi anak-cucunya berebut tulang, mungkin berpuluh-puluh tahun, beratus-ratus tahun, atau bahkan berabad-abad baru bisa beres.

Dan sekarang, itu sedang terjadi, sedang menimpa negeri kita tercinta. Sekilas saya merasa agak lega, kira-kira seperti ini, “alah rapopo, dampak badai siklon ora luwih ngeri seko dampak bencana rohani ”. Tetapi setelah itu menjadi khawatir lagi, “waduh, kan bencana koyo ngono kuwi lagi kedaden nang Indonesia”.

Terakhir saya menjadi ingat bahwa Allah tidak akan membiarkan orang hanya mengaku beriman saja, pasti Allah juga akan mengujinya.

Kemudian saya membacanya sampai paragraf terakhir. Setelah saya baca sampai akhir ternyata begitu banyak pelajaran yang bisa diambil, yang mungkin tadaburnya tidak akan cukup jika hanya disampaikan dalam satu tulisan.

Badai Siklon Tropis Cempaka menyisakan banyak hal. Beberapa di antaranya adalah kerusakan fisik seperti jembatan ambrol, tanggul sungai jebol, rumah hanyut…