Sinau Kesempurnaan dalam Hati yang Bahagia

Catatan Bangbang Wetan 4 Desember 2017

De Simpangsche Societeit atau yang saat ini dikenal dengan Balai Pemuda Surabaya kembali diramaikan tanggal 4 Desember 2017, malam hingga menjelang pagi setelah jeda renovasi sepanjang 2017. Sejak tahun 1900-an, bangunan yang letaknya di simpangan tengah kota tersebut menjadi saksi berbagai komunitas (secieteit) untuk beraktivitas bersama. Bangunan ini ikonik, dikenal dan didokumentasi rapi potretnya sejak dahulu, baik oleh media lokal maupun internasional.

Melalui Google saya terbantu untuk menemukan foto lawas Balai Pemuda tahun 1910 di laman katalog Universitas Leiden Belanda. Tidak mengherankan jika negeri jauh tersebut masih menyimpan arsip fotonya, karena pemuda-pemudi Belanda juga dulu banyak mengisi waktu luang di Balai Pemuda. Berbagai pertemuan juga diadakan di sana hingga menjelang masa kemerdekaan, termasuk dalam usaha perlawanan arek suroboyo dengan Belanda.

Bangbang Wetan termasuk salah satu komunitas pemuda Maiyahan yang tumbuh di lokasi Balai Pemuda. Sebelas tahun yang lalu, halamannya menjadi saksi Maiyahan pertama di Kota Surabaya dan sampai sekarang masih istiqomah berlangsung setiap bulan.

Dimensi Kebahagiaan Dalam Maiyah

Sudah bukan hal mengagetkan jika Maiyahan di manapun selalu ramai meski diliput suasana hujan. Sejak ba’da isya sudah banyak jamaah merapat ke panggung atau sekadar duduk memenuhi pelataran Perpustakaan Kota di sebelah timur lokasi. Beberapa pegiat mengawali nderes Qur`an, kemudian dilanjutkan sholawat kepada Nabi Muhammad saw. Bulan ini masih dalam suasana Maulid Baginda Muhammad, suasana hati jamaah harus tetap gembira dan penuh kebahagiaan.

Tema BBW bulan Desember adalah Manah Meneb; Manah adalah istilah jawa yang merujuk pada Hati, dan Meneb adalah kondisi yang tenang. Mas Amin dan beberapa jamaah saling mendiskusikan bagaimana pendapat masing-masing seperti apa suasana hati yang dianggap tenang tersebut. Bicara soal hati memang sulit bagi seseorang untuk lugas menyatakan keadaannya di tengah kerumunan jamaah. Tetapi kalau boleh kondisi malam itu pada skala antara 1-10, Piro kebahagiaan-mu pas wahaye Maiyahan, Rek?” tanya Mas Amin. Spontan dijawab jamaah bahwa jumlahnya melebihi angka tersebut, bahkan tak terhingga.

Dimensi kebahagiaan dalam Maiyahan barangkali yang membedakannya dengan forum keilmuan lain. Dengan audiens beragam latar belakang profesi, usia, tingkat pendidikan, kondisi ekonomi, dan seterusnya, Maiyahan menjadi jujugan ribuan orang untuk serawungan tanpa ngotot cari-cari siapa paling benar di antara yang lain.

Pada sebuah kesempatan, Mbah Nun pernah mengingatkan pentingnya memiliki hati yang bahagia. Tidak boleh kita putus asa pada Rahmat Allah. Apalagi dengan keadaan di luar diri yang semakin tidak menentu, penuh potensi kekecewaan jika kita berharap pada sesuatu selain Allah saja.

Menemukan Inti Kedamaian

Bahasan tentang kuantitas kebahagiaan dan kedamaian ini bukan sesuatu yang absurd. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengagendakan hari kebahagiaan internasional (International Happiness Day) setiap tanggal 20 Maret sejak tahun 2012. Peringatan tahunan ini diinisiasi oleh Jayme Illien, seorang konsultan sekaligus perwakilan Economics for Peace and Security, badan yang bertanggung jawab dalam penilaian kandidat peraih nobel perdamaian.

Setiap tanggal 20 Maret dirayakan penghargaan atas kebutuhan dasar universal setiap manusia, yakni hak untuk bahagia. Di tanggal yang sama dirilis laporan tingkat kebahagiaan negara-negara di seluruh dunia. Ini merupakan catatan penilaian atau semacam rapor untuk negara di dunia agar mereka tahu berapa nilai kebahagiaan yang dirasakan rakyatnya.

Belum lagi ada takaran Indeks Kedamaian Global (Global Peaceful Idex), setiap tahun pula ditulis rangking keberhasilan pembangunan manusia di suatu negara. Dan dipantau sekian banyak indikator-indikator tersebut oleh para pengampu kebijakan, sebab mereka dinilai bertanggung jawab menciptakan kondisi yang baik bagi masing-masing warganya.

Kendati demikian bagi manusia secara pribadi, ketenangan hati tidak bisa sertamerta ditemukan atau didapatkan hanya melalui benda-benda atau capaian faktor eksternal saja. Sebab tidak akan pernah selesai deret keinginan di atas kebutuhan setiap orang selama hidup.

Kyai Muzzammil yang tiba dari Madura langsung bergabung di panggung ditemani dr. Chris dari Simpul Relegi Malang, juga Dr. Suko Widodo yang selalu menyempatkan diri meski terlihat dalam kondisi kurang fit.

Kyai Muzzammil mengawali diskusi Manah Meneb dengan kalimat Salah satu cara merasa dengan hati adalah dengan diam. Beliau menekankan pentingnya melibatkan hati dalam berlaku, sehingga tahu kapan waktunya berhenti dan merasa cukup. Ditambahkan pula ungkapan dari Syaikh Ibn Athoillah “Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat terhadap hati, sebagaimana ‘uzlah dalam memasuki medan bertafakur.Uzlah (mengasingkan diri) yang dimaksud bukan lantas menjauh secara fisik dari kehidupan sosial, tetapi lebih pada keadaan hati yang berjarak dengan hal-hal duniawi.

Kyai Muzzammil melanjutkan tentang urgensi belajar dari masa lalu untuk mengambil keputusan jangka panjang; diibaratkan anak panah yang melesat kuat, karena ditarik busurnya jauh ke belakang. Beliau berpesan agar jamaah semakin berhati-hati dalam berperilaku. Juga menghindarkan diri dari kebanggaan berlebih saat merasa menjadi bagian dalam Maiyah. Bahwa maiyahan bukanlah sesuatu yang padat sehingga dia menjadi ‘benda’ lain yang mesti dipamer-pamerkan. Maiyah adalah esensi yang menyebabkan kita semakin menjadi manusia pada akhirnya.

dr. Chris ikut menambahkan pentingnya seseorang berani bertanggung jawab atas keputusan hidup yang telah diambil. Ini menjadi salah satu upaya melatih hati dalam memahami pelajaran sepanjang hidup. Berlatih tanggung jawab juga termasuk bersedia menjalani konsekuensi, sehingga manusia bisa memahami batasan dirinya. Mengetahui indikator dari pencapaian perjalanan batinnya sendiri.

Belajar Ilmu Menep

Menep adalah pengetahuan yang wajib dimiliki oleh manusia. Dr. Suko Widodo berbagi paparan Ilmu Komunikasinya di tengah jamaah Maiyah. Beliau mengatakan bahwa diam adalah salah satu proses penting dalam alur komunikasi. Dalam level mendengar, kita mesti lebih tahu bagaimana makna di balik yang terlihat. Mengambil jeda berupa diam adalah cara mengenali faktor-faktor lain di balik konten komunikasi yang disampaikan dalam bentuk verbal maupun visual kata-kata.

Apalagi sejak sekarang kita semakin akrab dengan bentuk komunikasi tanpa tatap muka (virtual). Banyak komponen informasi yang terabaikan penyerapannya. Dr. Suko merasakan pula betapa susah mencari kabar terpercaya di tengah rimba informasi saat ini. Maka beliau mengapresiasi istiqomahnya jamaah Maiyah yang mau bertatap muka, serawungan, mendatangi forum keilmuan Maiyahan di berbagai tempat, karena inilah yang menghidupkan kembali potensi pemahaman mengenai keakraban dari Traditional Communication. Bentuk komunikasi komunal seperti Bangbang Wetan dan semacamnya adalah oase bagi keringnya hubungan antar-individu yang semakin digantikan perannya oleh media sosial. 

Mendekati Kesempurnaan dengan Hati Yang Ikhlas

Diskusi Bangbang Wetan memang tidak selamanya diisi bahasan dari tinjau akademis maupun keagamaan saja. Di sela acara selalu diramaikan oleh penampilan jamaah, baik performance band, musikalisasi puisi, teatrikal, dan sebagainya. Tidak jarang para pengisi acara ikut meramaikan secara spontan, apa adanya, ekspresif sekali karena tidak terpagar kecurigaan satu sama lain. Dalam  hati masing-masing jamaah seperti punya indikator tersendiri tentang batas-batas kepatutan. Sehingga sepanjang berlangsungnya acara, semua saling menjaga kedamaian dan ketenangan.

Penghargaan atas hak setiap jamaah sebagai individu dalam Maiyahan bukan hal yang baru. Di Maiyah, konsepsi kesempurnaan setiap inividu bukan ditentukan oleh satu ukuran saja sehingga menuntut orang lain mencapai titik yang sama. Saya teringat di tengah kesempatan ulang tahun ketiga Diskusi Martabat Yogyakarta bulan November lalu, Mbah Nun memberi pemahaman penting tentang kesempurnaan. Manusia meraih kesempurnaan bukan berarti tercukupi dan punya banyak kemampuan sehingga dia disebut sempurna seperti apa yang dipahami orang saat ini.

Sempurnanya manusia adalah ketika dia mampu memerankan dirinya apa adanya”, ucap beliau. Dan selanjutnya proses mendekati kesempurnaan membutuhkan hati yang ikhlas. Tauhid, adalah sempurnanya hubungan Tuhan dan Manusia. Sebagaimana bersedekah, berlatih ikhlas mengupayakan keseimbangan dalam hati.

Demikian pula seperti apa yang pernah dibahas di Bangbang Wetan bulan November tahun lalu, Mas Sabrang menjelaskan kepada jamaah tentang kuda-kuda kebahagiaan dalam kaitan tema Taat.

Jangan hanya mencari kebahagiaan dalam hidup. Pahamilah kebahagiaan, kesedihan, kemarahan, kekecewaan dan semua aspek kehidupan. Karena itu adalah bagian dirimu. Hidup adalah mencari keutuhan bukan mencari kesenangan. Karena tanpa utuh kamu tak akan menemukan dirimu yang sesungguhnya”, jelas Mas Sabrang.

Maqom orang rela adalah derajat yang lebih tinggi di mata Tuhan. Wujud kecintaan pada ketaatannya itulah yang membuat seseorang dicintai lebih dari mereka yang beribadah dengan terpaksa. Terhadap orang-orang taat, Allah membukakan jalan untuk segala macam permasalahan. Mereka yang taat tidak membutuhkan garis finish untuk mendapatkan kebahagiaaan. Karena pada kerelaan itulah letak kebahagiaan”, ungkap Mas Sabrang.

Kaitan pembahasan di atas dengan bahasan Manah Meneb Bangbang Wetan Desember 2017 yang lalu adalah, bahwa hati yang tenang bukanlah satu titik akhir. Tetapi lebih kepada posisi presisi yang senantiasa kita usahakan dalam mencapai kesempurnaan hidup. Epilog Kyai Muzzammil pada saat itu juga senada: hati yang tenang itu bukan tujuan — tetapi kondisi yang selalu kita usahakan selagi menjalani hidup terus-menerus mengingat Allah. Beliau pun menutup diskusi dengan doa bersama yang diawali dan diakhiri oleh Sholawat. Pukul tiga pagi Bangbang Wetan diakhiri dengan hati yang kembali menep dalam koordinatnya masing-masing.

Semoga kita semua termasuk orang-orang berhati bahagia, yang tidak lagi mencari-cari alasan untuk mencapainya, juga tidak kunjung berhenti dan menyerah untuk menata ulang posisi hati sehingga tetap tegak lurus hanya kepada Allah. (D. Ratuviha)

De Simpangsche Societeit atau yang saat ini dikenal dengan Balai Pemuda Surabaya kembali diramaikan tanggal 4 Desember 2017, malam hingga menjelang pagi…