Sinau Daur, Sinau Nandur

Setelah membaca dan sedikit menelaah beberapa judul yang ada di rubrik Daur, pikiran dan hati saya jadi bertanya-tanya. Paling tidak ada dua hal yang menjadi fokus pertanyaan saya. Pertama, apakah tulisan di rubrik Daur adalah tulisan lama Mbah Nun yang didaur ulang, artinya tulisan lama beliau yang mungkin tersebar di berbagai buku dan surat kabar kemudian dikumpulkan lagi agar bisa disimak oleh seluruh Jamaah Maiyah. Kedua, ada motif atau tujuan apakah rubrik Daur mesti ditampilkan di laman website caknun.com.

Pertanyaan pertama saya terjawab ketika saya bertanya langsung kepada Redaktur Maiyah via pesan singkat. Dan jawabannya bahwa semua tulisan di rubrik Daur merupakan tulisan baru,  fresh from the oven, yang ditulis sendiri oleh Mbah Nun. Kaget campur terharu saya mendengarnya. Bagaimana mungkin Mbah Nun yang saban hari sudah digilir oleh masyarakat luas untuk mengisi banyak acara, namun masih bisa meluangkan waktu untuk berpikir, menyerap, menyaring, dan menuangkan pandangan serta ilmu beliau lewat tulisan. Ini luar biasa. Dengan metode, cara, kekuatan atau treatment khusus apakah sehingga Mbah Nun masih bisa sangat produktif untuk terus menulis hingga saat ini.

Jujur, pada awal saya mengenal dan belajar banyak tentang sosok seorang Emha Ainun Nadjib justru bermula lewat tulisan-tulisannya. Baik yang berupa buku, esai, puisi, sajak, kolom, cerpen, dan karya sastra lainnya. Dan barulah pada tahun 2010 lalu saya diperjalankan Tuhan untuk bisa bertatap muka langsung, ngaji bareng, sinau bareng bersama beliau di Majelis Maiyah Kenduri Cinta Jakarta. Sejak saat itulah, dalam hati saya berani memproklamirkan diri sebagai Jamaah Maiyah Nusantara. Hari, bulan dan tahun, langkah-langkah, keputusan-keputusan dan hampir seluruh hidup saya ditemani oleh ilmu dan nilai-nilai Maiyah yang saya dapatkan selama ini. Pikiran saya menjadi luas, hati makin jembar, hidup begitu nyaman dan itu membawa saya jadi lebih nyedak sama Gusti Allah, tambah tresna sama Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Kembali ke topik Daur. Semenjak rubrik Daur muncul di caknun.com, maka saya tidak pernah absen untuk mengunjunginya. Daur sudah menjadi “menu makanan” saya sehari-hari. Ndak afdhol rasanya apabila satu hari tidak menyantap khasiat yang terkandung disetiap judul Daur. Sampai akhirnya saya pun menemukan jawaban atas pertanyaan kedua yang sempat membuat diri saya bertanya-tanya. Apa tujuan dari munculnya Rubrik Daur di caknun.com? Dan jawaban itu muncul dan tersirat pada tulisan Daur 19, yang berjudul Ajaran Kulit Mangga.

Mohon maaf, ternyata selama ini sebagian besar dari kita dan terutama saya sendiri yang bodoh ini, selalu dan lebih senang langsung memakan daging buah mangga. Selama ini pula Cak Nun yang bertindak sebagai simbah guru selalu rajin memberikan buah mangga, lalu dengan telaten mengupasnya, mengirisnya untuk kemudian menghidangkannya dalam sebuah nampan. Dan kita dengan mudahnya langsung menyantapnya tanpa ba bi bu ba. Tanpa pernah mau mencari asal usul si mangga tersebut. Enak benar jadi kita ini. Tidak pernah menanam, tidak pernah memupuk, merawat apalagi memelihara (meng-uri-uri) tetapi selalu saja menikmati hasil panennya. Ini memprihatinkan.

Para pengikut Muhammad tidak cukup hanya makan mangga, atau seratnya, atau ternyata kulitnya, tanpa menghayati asal usul mangga. Tidak bisa makan nasi tanpa ingat para petani yang menanam padi. Tidak bisa makan buah apapun tanpa mengapresiasi tukang-tukang kebunnya. Daur 19 – Ajaran Kulit Mangga

Oleh sebab itu, Mbah Nun dengan setia mengajak kita semua untuk belajar nandur. Sinau menjadi petani atau produsen. Beranjak dari hanya ngemplok thok, tanpa mengerti bagaimana proses panjang nandur itu sendiri. Mulai detik ini jiwa konsumtif mesti kita tekan dalam-dalam. Kita set ulang mindset kita. Menjadi produsen itu adalah mulia. Maksud produsen di sini tentu dengan perspektif yang luas dan memakai cakrawala yang jembar. Berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi produsen di segala lini atau bidang, baik sosial, ekonomi, politik, budaya, pendidikan, dan juga ilmu kemasyarakatan. Minimal bisa kita mulai dari hal-hal kecil di kehidupan kita sehari-hari, baru kemudian merambah ke lingkaran lingkungan sekitar kita.

Termasuk kebiasaan copy-paste di medsos yang memberi dampak keburukan harus dihentikan. Setiap membaca tulisan, artikel atau berita di media apapun hendaknya menggunakan filter sebagai penyaring agar tidak timbul salah persepsi. Mari berani untuk berpikir jernih, bersikap arif, berbicara jujur, dan menulis dengan pemahaman dan pengetahuan yang mendalam. Kuncinya satu, dapat memberi manfaat baik bagi yang meng-konsumsi-nya.

Sebagai penutup, saya haturkan berjuta terimakasih kepada Gurunda Simbah Muhammad Ainun Nadjib. Melalui karya, cinta, dan pengasuhan beliau, hidup saya menjadi “terbuka”, bahwa dunia ini bukanlah tujuan. Dunia hanyalah ladang untuk bercocok tanam. Fokus saja untuk terus nandur, nandur, dan nandur kebaikan. Tak perlu sibuk memikirkan panen-nya kapan.

“Ya Allah, semoga simbah, dan seluruh Jamaah/ Jannatul Maiyah yang mencintai-Mu dan Rasul-Mu, memperoleh kasih sayang dan cinta-Mu. Engkau pelihara segitiga cinta diantara kita (Allah-Rasulullah-Hamba) serta Kau kenankan kelak kami memetik buah cinta di kebun Surga-Mu.

Sragen, 17 Februari 2017

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image