Sinau Cablaka yang Mengintegrasikan

Reportase Sinau Bareng "Cablaka dan Patriotisme mBanyumasan", Purwokerto, 18 November 2017

Dulu Samuel P. Huntington menyiarkan risalahnya berjudul The Clash of Civilizations buat memprediksi masa depan hubungan Barat dan Timur. Relasi yang bakal penuh konflik antarbudaya atau antar peradaban. Tapi, perlu diingat, beberapa tahun kemudian, dia menulis lagi sebuah tulisan ringkas yang setengahnya “menyesali” tesisnya itu. Ia sedikit meralat pendapatnya. Tulisan itu berjudul Cultures Count. Artinya, budaya itu punya andil. Punya arti. Budaya tak mesti berbenturan. Bisa bersandingan saling menyumbangkan peran bagi kemajuan. Walaupun, nanti dulu soal apa dan bagaimana kemajuan itu.

Foto: Adin.

Kalau saja Pak Huntington datang ke Indonesia, ada kans dia mendapatkan sejumlah contoh lebih kaya tentang bagaimana budaya itu punya andil. Maksud saya, datang ke Sinau Bareng. Misalnya, tadi malam di Purwokerto. Pak Bupati Banyumas Ahmad Husain menyatakan dalam prolognya, “Bersama Cak Nun yang susah jadi senang, yang sulit jadi mudah. Yang sedih jadi gembira. Semua jadi bersaudara.” Ini testimoni tentang Sinau Bareng yang sejauh ini Beliau simak. Bulan Agustus lalu, Cak Nun dan KiaiKanjeng sudah ke Purwokerto, dan kali ini diminta lagi. Pak Bupati ingin acara seperti ini diisi oleh kekuatan “lokal”, bukan import.

Saya mendengarkan testimoni itu bersama ribuan warga masyarakat Banyumas yang memenuhi Jalan Merdeka Purwokerto yang malam tadi baru untuk kali pertama boleh digunakan untuk berkumpulnya orang sebanyak itu. Bermacam-macam orang duduk bersama. Keluarga-keluarga. Generasi muda dan mudi. Anak-anak juga terlihat. Bahkan satu “regu” polisi yang masih muda-muda, mungkin masih dalam masa pendidikan, juga hadir menempati depan kanan panggung. Hanya itu? Tidak. Para anggota Forkompida duduk berjajar menemani Cak Nun di panggung. Sementara, di belakang panggung masih berdiri jamaah lainnya di depan Tugu Pancasila yang menjadi backdrop panggung KiaiKanjeng.

Tampak oleh mata, dengan melihat hamparan kerekatan pada semua orang yang hadir itu, Sinau Bareng ini benar-benar mengintegrasi orang. Secara fisik maupun rohani. Orang-orang berdatangan kemari buat menimba ilmu dan wawasan. Apalagi dikatakan oleh Pak Bupati, Cak Nun adalah sosok langka. Ketika KiaiKanjeng masih soundcheck usai Maghrib, jamaah mulai menduduki bagian depan. Seperti tak ingin kehilangan shaf terdepan. Padahal acara masih jauh dari dimulai. Ini tahap awal dari integrasi fisikal. Dan setelah isya’ orang-orang mulai berdatangan dari tiga penjuru arah. Rombongan polisi itu datang dengan berbaris, terlihat merebut perhatian tersendiri. Setahap demi setahap integrasi fisikal itu mulai tertata dan terbentuk. Hingga betul-betul rapat orang-orang itu memenuhi jalan Merdeka. Jalan yang dulu dipakai warga Banyumas untuk berkumpul mendengarkan pembacaan Proklamasi Kemerdekaan RI pada 1945.

Foto: Adin.

Wujud integrasi juga mulai terasa pada saat pukul 20.30 KiaiKanjeng naik panggung buat soran dengan menghidangkan dua lagu awal. Mas Islam dan vokalis lain mengajak mereka melantunkan Sholli wa Sallim Da, dan langsung gayung bersambut. Mikrofon diarahkan ke jamaah, Mas Islam diam, memberi kesempatan suara jamaah. Telinga saya dengan jelas menangkap suara mereka. Saat itu, Cak Nun masih berada di rumah transit, yakni rumah Dinas Danrem. Di situ Pak Bupati bersama tokoh-tokoh masyarakat lainnya menyambut kedatangan Cak Nun. Sampai kemudian beliau-beliau berjalan membelah jamaah melangkah menuju panggung. Sinau Bareng pun segera dimulai menjelang pukul 21.00.

Ingin segera saya katakan, sejak beliau-beliau berada di panggung, yang berlangsung selanjutnya adalah integrasi demi integrasi yang melengkap, kuat, dan utuh, sampai akhir acara pada pukul 01.00 dinihari. Dari interaksi dengan jamaah, partisipasi jamaah dan kerjasamanya dengan KiaiKanjeng, sampai muatan-muatan yang mengalir semua adalah potret integrasi itu. Dari ekspresi budaya, hingga kesegaran yang dipancarkannya. Semuanya jelas dan clean.

Oh ya, judul acara ini adalah Cablaka, dan Patriotisme Banyumasan. Cablaka adalah bahasa Banyumas yang artinya kurang lebih blakasuta, apa adanya, lugas, dan sejenis. Maksudnya, orang Banyumas punya watak blakasuta. Adapun patriotisme dimaksudkan agar generasi muda Banyumas ingat sejarah pendahulu mereka yang berkiprah buat Bangsa Indonesia. Sudah kita tahu bersama di antaranya adalah Pangsar Jenderal Soedirman. Cak Nun diminta mengantarkan pemaknaan akan nilai-nilai itu buat masyarakat Banyumas.

Foto: Adin.

Bagi Cak Nun sendiri, Cablaka punya dua dimensi atau level. Yang pertama adalah kesetiaan kepada kebenaran. Ngene yo ngene. Lima ya lima. Kedua, kesetiaan kebenaran itu kemudian disusul dengan sikap mengerti subasita, tatakrama, atau patrap. Dari khazanah Islam, Cak Nun coba mengambil fenomenologinya pada gelar yang diberikan kepada Abu Bakar yaitu ash-Shiddiq. Bisa dipercaya karena kejujurannya. Jujur artinya mengatakan apa adanya, kebenaran sebagai kebenaran. Ditarik ke filsafat Islam, Cak Nun menyebut insan kamil yang dalam hal ini bermakna menghindarkan diri dari perbandingan dengan orang lain. Sebab kamil atau kesempurnaan bukanlah kehebatan atas orang lain seperti selama ini dipahami, tetapi keutuhan dan keapaadaannya sesuatu sebagai sesuatu itu. Meski begitu, puncaknya, kebenaran jangan dijadikan andalan komunikasi. Ia tetap penting dipakai sebagai basis keteguhan hati dan keyakinan. Sedang dalam komunikasi, yang dibutuhkan adalah kebijaksanaan.

Ini disampaikan oleh Cak Nun usai menikmati aransemen Seniman Titut dan KiaiKanjeng. Itu Cablaka banget. Tidak pakai janjian atau latihan, hanya sama-sama menyadari kuncinya, lalu keduanya mempersembahkan yang terbaik dari masing-masing. Lagi-lagi sebuah integrasi. Pak Titut dalam bahasa Banyumasan menghadirkan lagu, gerak, dan kekhasan manusia mBanyumas. Integrasi estetik dan kultural makin menemukan keasikannya saat Pak Pujiono Kapolsek Sokaraja dan Pak Dilman yang pakai iket hitam berkolaborasi dengan KiaiKanjeng. Mereka diminta menghadirkan versi Banyumas dari dolanan anak-anak seperti Cublak-Cublak Suweng dan Jamuran. Bikin gerr dan seger. Jamaah tertawa lepas dalam kepaduan Sinau Bareng.

Jadilah, bahasa dan logat Banyumas menghiasai komunikasi di panggung. Ini memang tanah Banyumas. Bapak-bapak para pemuka masyarakat termasuk Pak Danrem Suhardi, yang datang terlambat karena briefing di Semarang, kemudian tokoh NU dan Muhammadiyah, semuanya menyaksikan hidupnya interaksi yang Cablaka itu. Nggak bisa saya tuturkan sesuai keadaannya via tulisan ini. Harus dirasakan langsung atau disaksikan via videonya minimal. Kolaborasi ini berlangsung cukup lama. Baik Pak Pujiono maupun Pak Dilman menghadirkan semesta Banyumas. Sesekali Pak Titut ambil bagian lagi untuk menerangkan kandungan arti di balik nama-nama benda atau simbol di Jawa. Misalnya iket yang dikenakan di kepala. Ia adalah perlambang bahwa kepala atau pikiran manusia harus diikat oleh nilai-nilai dasar hidup. Cak Nun bahkan mencurigai jangan-jangan ia berasal dari kata aqidah, aqdun, ‘iqdun, yang diartikannya pula sebagai ikatan.

Integrasi selanjutnya adalah bagaimana mengaitkan hal yang barusan berlangsung dengan ilmu atau pemahaman. Di sini lalu Cak Nun menggambarkan manusia memiliki hubungan-hubungan, yang sifatnya sempit dan luas, lemah dan kuat, atau rendah dan tinggi. Hubungan profesional transaksional adalah hubungan yang sempit. Pun hubungan birokrasi dan administrasi. Nah, hubungan kebudayaan itu hubungan yang luas. Instrinsiknya mengandung hati nurani. Dan hubungan yang terbangun oleh cinta kasih kepada Allah-lah yang tertnggi. Al-Mutahhabbiina fillah.

“Apa yang berlangsung malam ini adalah contoh bagi Indonesia. Sejauh ini di Indonesia tak ada hubungan budaya. Yang banyak adalah hubungan kepentingan, hubungan karena kekuasaan, hubungan karena sama-sama menuju posisi kekuasaan. Kita punya hubungan-hubungan yang sempit, tetapi tolong diperluas menuju kita punya ikatan yang lebih luas. Selama ini di sekolah hanya ada belajar, tapi kurang ada kegembiraan. Kantor polisi hendaknya juga ada suasana kegembiraan, suasana saling menyayangi,” pesan Cak Nun.

Foto: Adin.

Ekspresi dan berbagai suasana yang malam tadi pun bagi Cak Nun dapat dirasakan sebagai sebenarnya di Indonesia bisa tak ada masalah. Yang ada hanya dua selama ini. Pertama, pemaksaan pendapat atau kebenaran. Kedua, penindasan atau ketidakadilan global. Kita sebagai bangsa dibikin tidak konsentrasi, dibikin tidak padu, dan akhirnya rapuh, dan saat itu pencuri-pencuri mulai masuk.

Menarik pula, di jajaran tokoh masyarakat ada seorang Cina Muallaf. Cak Nun melontarkan pengertian lain mengenai muallaf. Selama ini muallaf diarikan orang yang baru masuk Islam dan pengetahuannya masih minim. Bagi Cak Nun, makna yang tak boleh dilupakan adalah muallaf itu orang yang hatinya baru mulai menyatu. Menyatu dengan akidah baru. Menyatu dengan sesama orang-orang yang akidahnya sama. Jadi, muallaf berarti pula kondisi orang yang hatinya mulai mengintegrasi diri dengan komunitas barunya itu. Kalau ilmunya kurang atau tidak, itu relatif, apalagi di era kecanggihan media pengetahuan seperti saat ini. Pada akhir acara, sesudah doa, dia juga ikut bersalaman dengan jamaah yang antre satu per satu. Saya membayangkan ini juga momen penting dia merasakan proses penyatuan itu, yang diperolehnya berkat hadir di Sinau Bareng. Penyatuan rasa dan jiwa dengan orang sebanyak itu.

Wa aakhiron, saya merasakan Cak Nun tidak mengalami kesulitan apa-apa, karena galur-galur integrasi itu mengalir dengan jelas dan apik sejak awal acara. Cak Nun tinggal menggaristebali semua itu dengan penegasan-penegasan kesadaran. Selain itu, Sinau Bareng tadi malam yang dirasakannya terbaik dari yang selama ini telah tergelar, barangkali karena rasa penyatuan itu sangat kuat, Cak Nun meyakini bukan hanya kekuatan bumi tapi juga kekuatan langit. Maka demi melihat keutuhan Banyumas malam itu, Cak Nun berdoa, “Ya Allah demi Banyumas, selamatkanlah Indonesia.”

Foto: Adin.

Percayalah integrasi yang saya lukiskan itu belum seberapa dari yang sesungguhnya terjadi. Saya hanya sangat meraba-raba saja. Apalagi kalau integrasi itu lingkupnya pada masing-masing individu mereka yang hadir. Integrasi di dalam diri mereka bisa beragam-ragam jenis dan muatannya. Tolok ukur saya sederhana, konsentrasi dan perhatian mereka yang sangat terjaga hingga akhir acara. Dalam satu sisi, seakan menunjukkan bahwa Sinau Bareng adalah kekuatan budaya yang benar-benar punya arti dan andil. Tapi bukan arti atau andil buat kemajuan yang parameter dan rumusannya tidak ditentukan oleh diri mereka sendiri. Selebihnya, mengintegrasikan berarti menyatukan apa yang seharusnya bersatu, dan bukan bikin pecah.

Intine kuwe nggawe kompak. Bener ora sedulur? Rika percaya baelah… (Helmi Mustofa)

Dulu Samuel P. Huntington menyiarkan risalahnya berjudul The Clash of Civilizations buat memprediksi masa depan hubungan Barat dan Timur. Relasi yang bakal penuh konflik antarbudaya atau antar peradaban. Tapi, perlu diingat, beberapa tahun kemudian, dia menulis lagi sebuah tulisan ringkas yang…