Metode penjajahan yang dilakukan Portugis memperkecil ukuran kapal-kapal leluhur kita dengan dampak menurunnya volume ekspor-impor bangsa kita.

Ini untuk kali kedua, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya mengundang Cak Nun dan KiaiKanjeng. Kampus ini sendiri bukan sekadar mendidik tenaga-tenaga terampil di bidang perkapalan. Tetapi juga memiliki visi yang nasionalistik jauh ke depan seperti tertera dalam backdrop panggung: “Revitalisasi PPNS untuk Mewujudkan Poros Maritim Nasional.”

Momentum Dies Natalis ke-30 PPNS dijadikan oleh civitas akademikanya untuk mengingat dan meneguhkan kembali visi itu. Dan sama sekali tidak keliru ketika malam ini Cak Nun dan KiaiKanjeng dihadirkan di hadapan lima ribu lebih audiens dengan komposisi yang ragam. Di antaranya tentu adalah para mahasiswa PPNS.

Cak Nun adalah sosok yang mencintai Indonesia. Dari sudut dan posisi beliau, sangat banyak konsep dan cara berpikir keindonesiaan yang beliau miliki dan pada kesempatan seperti ini akan diurunkan sebagai dorongan dan pertambahan wawasan yang akan menambah keyakinan nasionalisme kepada para mahasiswa maupun para pimpinan dan dosen PPNS.

Di situlah, setelah KiaiKanjeng membawakan Pambuko-Thibbil Qulub, Mbah Nun flash back sejenak tentang Banawa Sekar yang tiga tahun lalu dilaksanakan di Trowulan. Apa hubungannya dengan PPNS? Konsep Banawa Sekar adalah mensinergikan darat dan laut, di mana keduanya adalah modal besar yang dimiliki Indonesia. PPNS berkonsentrasi pada perkapalan di laut, namun tetap perlu memahami gambar besar darat-laut.

Sisi sejarah juga dikemukakan Mbah Nun. Beliau bercerita tentang evolusi Kapal Majapahit yang awalnya adalah kapal ekspor-impor dan kemudian berubah menjadi kapal semi ekspor-impor yang dilengkapi persenjataan karena Portugis bisa sewaktu-waktu merampok mereka di tengah laut.

Akhirnya potensi ekspor-impor menurun lantaran ukuran kapal berubah drastis, juga arsitektur kapal berubah, sehingga barang komoditas yang dibawa kapal pun jumlahnya semakin berkurang dari sebelumnya. Itulah skema peperangan dan perampokan laut di era Majapahit dan Demak ketika bangsa kita berhadapan dengan Portugis.

Lewat pintu sejarah, Mbah memberangkatkan respons maupun pandangannya mengenai apa yang digagas dan dicita-citakan oleh PPNS. Sinau Bareng malam ini digelar di halaman kampus PPNS. Pak Direktur dan jajaran pimpinan maupun dosen menemani Cak Nun di panggung untuk disambungkan dengan seluruh hadirin oleh beliau.

Sinau Bareng Politeknik Perkapalan Surabaya