Sinau Bareng Pembekalan Mahasiswa Baru Unjani

Minggu, 22 Januari 2017, kemarin dari pagi hingga siang, Cak Nun dan KiaiKanjeng berada di kampus Universitas Jenderal Achmad Yani Cimahi Jawa Barat. Kurang lebih 2500 mahasiswa baru yang beragama Islam mengikuti Sinau Bareng bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng. Acara yang digelar di gedung Sasana Krida Unjani ini diselenggarakan dalam rangka Program Pembinaan Agama dan Karakter (PPAK) mahasiswa Unjani.

Para mahasiswa Unjani responsif tatkala mereka diminta maju untuk diajak berdialog maupun saat sesi tanya jawab.
Para mahasiswa Unjani responsif tatkala mereka diminta maju untuk diajak berdialog maupun saat sesi tanya jawab.

Suasana partisipatif cukup mewarnai. Para mahasiswa yang mengenakan jaket almamater Unjani responsif tatkala Cak Nun meminta mereka maju untuk diajak berdialog maupun saat sesi tanya jawab. Lewat tanya-jawab ini, Cak Nun menguraikan berbagai konsep dasar dalam memahami agama. Mulai dari apa itu agama, posisi kitab suci, posisi tafsir dan interpretasi atas kitab suci, kebenaran agama, kebebasan dan konsekuensi dalam memilih keyakinan, konfigurasi muslim, kafir, musyrik, munafiq, dan fasiq (bukan Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha), cara merayu Allah supaya mengabulkan doa, hingga pemahaman akan hubungan agama dengan kemajuan teknologi dan peradaban.

Salah satu jiwa intrinsik yang hendak ditularkan kepada para mahasiswa Unjani ini adalah sikap tidak gampang menolak terhadap segala sesuatu (atau siapa pun saja), kecuali sesudah benar-benar memastikan isinya mengandung kemaksiatan. Itulah sebabnya, adik-adik mahasiswa diajak mengembara bersama KiaiKanjeng dengan berbagai nomor, dari ragam shalawat Badar (versi Sunda dan Cina) hingga lagu Maroon Five One More Night yang diolah sedemikian rupa sehingga “patuh” kepada kepimimpinan gamelan KiaiKanjeng yang notabene mewakili sikap mandiri Keindonesiaan. Selain juga sebagai contoh sifat terbuka dan menampung. Para mahasiswa perlu menerapkan ajaran al-Qur`an agar mereka mau mendengarkan qaul atau ucapan apa saja, dan kemudian memilih dan mengikuti yang terbaik.

Mahasiswa diajak mengembara bersama KiaiKanjeng dengan berbagai nomor.
Mahasiswa diajak mengembara bersama KiaiKanjeng dengan berbagai nomor.

Semua proses itu merupakan salah satu cara agar manusia sampai pada apa yang dinamakan integritas. Integritas ini merupakan nilai yang diharapkan oleh pimpinan Unjani untuk terbangun dan terbentuk pada diri mahasiswa. Menurut Cak Nun, integritas adalah adalah ketersambungan dan kompatibilitas antara satu dengan lainnya, dan antar berbagai unsur dalam diri manusia. “Dari mendengarkan sebanyak mungkin, nanti akan ketemu integralitasnya. Nanti akan ada ujian-ujiannya. Ada kegagalan, dan seterusnya. Pedomannya adalah boleh hebat boleh kaya, tetapi kalian tidak tergantung pada hebat dan kaya, tetapi tergantung pada sikapmu terhadap hidup…,” pesan Cak Nun.

Berbagai contoh integritas Cak Nun berikan. Di antaranya integritas antara musik dengan keperluannya, juga sebaliknya, integritas antara ilmu dengan sikap diri (jangan bersikap seram), integritas antara baik dan benar (jangan pintar sebelim moralnya baik), dan contoh-contoh lain. Keseluruhannya berujung pada satu hal, yaitu etika dalam beragama. Cak Nun meminta para mahasiswa untuk nantinya mau menyelami dan mendalami pesan Allah dalam surat al-Maidah ayat 54.

Rektor Unjani Mayjend. TNI Wicaksoni, M.Sc., NSS., beserta jajarannya turut menemani Cak Nun di panggung dan ikut menikmati dialog yang berlangsung dengan para mahasiswa. Di penghujung acara, Pak Rektor mengungkapkan rasa senang dan gembira dengan model pembekalan yang barusan dirasakannya bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng, terutama dengan hidupnya metode dialogis yang dihadirkan Cak Nun.

Mahasiswa Unjani diajak menyelami manusia secara sosiologis melalui pemetaan: orang kuasa, pinter, terkenal, sakti (dan sehat), dan kaya.
Mahasiswa Unjani diajak menyelami manusia secara sosiologis melalui pemetaan: orang kuasa, pinter, terkenal, sakti (dan sehat), dan kaya.

Saat Qari membuka acara dengan melantunkan ayat-ayat dari surat Luqman (ayat 12-19), Cak Nun merespons, ayat-ayat ini sangat pas dengan tema dan kebutuhan pembekalan ini. Jika kita mengenal Bapak Pendidikan Nasional kita adalah Ki Hajar Dewantara, al-Qur`an memperkenalkan sosok Luqman sebagai Bapak Pendidikan yang jauh lebih awal. Sebab, pesan-pesan Luqman seluruhnya menyangkut bagaimana mendidik anak dan generasi. Luqman adalah teladan mendidik anak dengan sebaik-baik. Di antara pesan awal Luqman justru adalah anjuran untuk bersyukur kepada Allah dan bersyukur kepada orangtua. Dari soal syukur dan kufur ini Cak Nun memulai memaparkan nilai-nilai mendasar menyangkut hidup, agama, dan ilmu, yang secara simbolis dimulai dengan mengajak para mahasiswa bersama-sama menyanyikan lagu Syukur.

Adik-adik mahasiswa yang banyak di antara mereka berlatar belakang keluarga TNI ini diajak pula menyelami manusia secara sosiologis melalui pemetaan: orang kuasa, orang pinter, orang terkenal, orang sakti (dan sehat), dan orang kaya. Mereka dengan cepat memahami dan menangkap maksud Cak Nun. Bahwa di masa kini kebanyakan orang berorientiasi pada (menjadi) orang kaya. Menjadi atau dekat dengan orang kuasa atau orang terkenal atau orang kaya, tujuannya satu: supaya kaya. Dan ketika mereka ditanya Cak Nun manakah yang lebih penting dari pemetaan sosiologis itu, mereka menjawab menjadi orang baik adalah yang utama, bukan kuasa, pinter, sakti, apalagi kaya. Mendengar jawaban mahasiswa, Cak Nun menegaskan inilah harapan masa depan, seperti kaum berbeda yang dimaksud dalam al-Maidah ayat 54. Para mahasiswa belajar mengambil nilai esensial di balik fenomena sosiologis tersebut.(hm)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image