“...masing-masing unsur tetap dihargai sebagai dirinya sendiri. Wortel tetap wortel, kubis tetap kubis, dan kacang panjang tetap kacang panjang. Ini berbeda dengan jus yang mensyaratkan seluruh bahan diblender sehingga karakter, tekstur, dan bentuk aslinya hilang.”
“…masing-masing unsur tetap dihargai sebagai dirinya sendiri. Wortel tetap wortel, kubis tetap kubis, dan kacang panjang tetap kacang panjang. Ini berbeda dengan jus yang mensyaratkan seluruh bahan diblender sehingga karakter, tekstur, dan bentuk aslinya hilang.”

Tadi malam, Kamis 8 Juni 2017, Universitas Gadjah Mada menggelar Sinau Bareng bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng. Acara diselenggarkan di Balairung UGM dengan dihadiri civitas akademika UGM, masyarakat umum dan jamaah. Dalam kesempatan ini Mbah Nun mengajak hadirin berpikir mengenai Bhinneka Tunggal Ika melalui analogi gado-gado.

Analogi gado-gado ini dipilih karena gado-gado atau lotek terdiri atas berbagai macam bahan yang berdiri sendiri-sendiri tetapi dikombinasikan dan dipersambungkan cita rasanya. Namun demikian masing-masing unsur tetap dihargai sebagai dirinya sendiri. Wortel tetap wortel, kubis tetap kubis, dan kacang panjang tetap kacang panjang. Ini berbeda misalnya dengan jus yang mensyaratkan seluruh bahan diblender sehingga karakter, tekstur, dan bentuk aslinya hilang.

Bhinneka Tunggal Ika yang dibangun itu diharapkan lebih condong pada gado-gado, di mana semua unsur diterima dan dihargai bukannya ditolak, ditidakkan, diusir atau dienyahkan. Bhinneka Tunggal Ika adalah produk kebudayaan yang telah mencapai puncak kesadaran maqom peradaban yang begitu tinggi hingga mampu menerima semua itu bahkan terhadap yang tidak setuju pada istilah Bhinneka Tunggal Ika itu sendiri.

Dalam nuansa kampus yang akademik, di pelataran gedung Balairung yang megah dan dingin itu, justru terbangun suasana Sinau Bareng yang cair. Sebuah pencerahan yang menggembirakan. Jauh dari kesan spaneng.

Kita diajak kembali memahami batasan-batasan, menegaskan kembali pemahaman-pemahaman mengenai beragam hal yang terlanjur kita anggap kecil hingga luput menyadari urgensinya. Bahwa menjadi Pancasila tidak harus berarti dibenturkan dengan Islam, dengan khilafah, atau dengan apapun. Di situlah kita perlu memahami bagaimana konsep kepemimpinan yang mengayomi, bukan sekadar menundukkan. Kepemimpinan yang menyadari tolok ukur pada berbagai hal apakah itu mengenai kemajuan, pembangunan atau keberhasilan.

Kebersamaan dan kemesraan merupakan hal utama yang perlu kita bangun sekarang ini dan itulah yang dilakukan pada Sinau Bareng kali ini dan pada Maiyahan di berbagai tempat lainnya. Momentum Ramadhan ini juga mengingatkan kita bahwa demi mencapai kebersamaan dan kemesraan itu kita perlu berpuasa, menahan diri dari memamerkan kebenaran-kebenaran kita. Cukup dia kita letakkan di dapur pribadi saja. Produknya mestilah kehangatan, kesejukan, dan cinta. Mbah Nun bersama KiaiKanjeng selalu tanpa kenal lelah mengajarkan kita cara mengulek bumbu dengan presisi komposisi, bumbu, dan timing yang tepat.

Sinau Bareng di Balairung UGM