Meneguhkan Masjid Syuhada sebagai masjid yang rahmatan lil'alamin.
Meneguhkan Masjid Syuhada sebagai masjid yang rahmatan lil’alamin.

Jeda sehari setelah Mbah Nun dan Ibu Via tiba dari menemani teman-teman Indonesia di Perth selama lima hari, malam ini beliau berdua bersama KiaiKanjeng kembali menemani teman-teman di Yogyakarta. Kali ini yang memiliki hajat adalah Masjid Syuhada. Masjid yang telah berdiri sejak tahun 1952 pada September ini sedang menapaki perjalanannya di tahun yang ke-65.

Masjid yang aslinya diberi nama oleh Haji Benjamin sebagai Masjid Peringatan Syuhada ini dibangun sebagai monumen peringatan atas jasa para pejuang kemerdekaan RI. Tidak dengan wujud patung atau tugu tetapi berupa masjid. Para pendiri masjid berkeinginan melestarikan jiwa perjuangan kemerdekaan para leluhur sejak beratus tahun lampau.

Dalam Sinau Bareng miladnya yang ke-65 ini, semua elemen pengelola masjid ingin tetap istiqomah sebagai masjid yang netral sebagaimana masjid di masa Rasulullah yang juga sebagai pusat pemberdayaan ummat Islam dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin berat.

“Ini mesjid yang tidak banyak masjid seperti ini, di mana aspirasi agama dan negara menjadi satu. Indonesia yang akan datang harus belajar dari Masjid Syuhada”, ungkap Mbah Nun di awal. Menurut beliau, melihat keberadaannya yang tidak memihak dalam kelompok manapun, malam ini kita meneguhkan Masjid Syuhada sebagai masjid yang rahmatan lil’alamin.

Sinau Bareng dalam Milad ke-65 Masjid Syuhada