Sinau Bareng Berbagai Aspirasi Islam

Pada saat Sinau Bareng di Alun-alun Purbalingga dalam rangka HUT-nya ke-187 beberapa waktu lalu (16/12/17), Cak Nun sempat mengatakan di awal seraya memuji dan berempati kepada tekad dan kesungguhan yang hadir, “Iki ora negara Islam, tapi yo istighotsah. Isih ono shalawatan. Ora soal nama. Ojo bertengkar, toh buktinya di setiap Kabupaten podo maulidan, shalawatan.”

Memang ini bukan negara Islam, tetapi di sini masih ada istighotsah. Di setiap kabupaten, masih banyak berlangsung orang melakukan kegiatan Maulidan dan shalawatan. Kurang lebih begitu terjemah bebas dari apa yang disampaikan Cak Nun.

Pernyataan sekilas itu saya catat secara khusus, karena mengandung perspektif dalam melihat Islam. Narasi-narasi pemikiran Islam era modern, khususnya setelah revolusi Islam Iran pada 1979, didominasi oleh aspirasi-aspirasi yang goal-nya adalah politik Islam seperti negara Islam, khilafah Islam, Partai Politik Islam, Konstitusi Islam, Kebangkitan Islam, dan lain sejenisnya. Kerapkali orientasinya adalah state.

Seiring perjalanan waktu, orientasi pada Islamisme itu—sering disebut demikian oleh kalangan intelektual—mengalami resistensi dan pada dirinya sendiri terkandung kontradiksi internal dan anomali. Atau kalaulah bukan resistensi, tidak bisa diabaikan bahwa aspirasi-aspirasi keislaman itu mengalami de-centering, tak melulu memusat berhulu ke negara atau ke polity yang besar. Terjadi pergeseran dan persebaran isi dan bentuk.

Aspirasi itu di antaranya adalah orang ingin tetap tampil sholeh (mengekspresikan keislamannya) di ruang publik, di tengah modernitas yang pada dasarnya sekuler sifatnya. Orang tetap ingin bisa menjalankan Islam di tengah gelombang kemodernan. Semua peranti kemodernan (pendidikan, teknologi, fashion, life style, dll) menjadi “alat” dan sekaligus “ruang” di mana Islam diekspresikan. Ini menghasilkan fenomena yang sangat beragam secara budaya dan antropologis, dan seperti dapat dilihat, mewarnai kesehari-harian yang tampak di depan mata kita.

Yang paling mudah ditunjuk adalah gejala yang diekspresikan oleh kelas menengah muslim. Anda bisa cari contohnya sendiri. Ada yang lain, yaitu kaum muda. Suatu ketika, saya berada di sebuah terminal bis. Duduk di sebelah saya seorang anak muda. Tidak mengenakan busana yang selama ini menggambarkan simbol kesantrian. Lalu ia mengambil al-Qur’an dari tasnya dan kemudian membacanya sembari menunggu bus datang. Di sini kita bisa sedikit mengafirmasi bahwa salah satu ciri generasi milenial adalah dorongannya yang cukup kuat pada keshalihan.

Tetapi tidak hanya itu, kelas menengah muslim modern saja. Kalangan muslim “tradisional” pun pada saat yang sama tetap menjalankan tradisi mereka sembari merevitalisasinya, termasuk dengan mendayagunakan peranti-peranti modern. Lebih luas lagi juga bisa dilihat, seperti terekspose melalui berbagai Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng, banyak bupati, kapolres, dan pejabat lain yang sangat santri, pandai menyitir ayat-ayat suci dan menyampaikan pesan-pesan keagamaan layaknya seorang ustadz, melantunkan shalawat, dan berbagai hal yang menggambarkan mereka pun punya keinginan untuk menjadi bagian dari umat Islam. Sebuah aspirasi tentunya.

Belum lagi dari segmen lainnya yang beragam pula seperti seniman, rektor, pebisnis, profesional, dan grassroot. Keseluruhannya menampilkan mozaik di mana yang bernama aspirasi Islam itu tidak tunggal. Dalam bahasa lain, apa yang disebut aspirasi Islam mengalami proses negotiating yang dinamis dan mungkin terus-menerus.

Sementara itu, dilihat dari perspektif ini, Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng yang selama  ini berlangsung ternyata menyaksikan, menemani, dan menyentuh sangat banyak wujud aspirasi dan ekspresi Islam, yang bila sejauh ini narasi kita lebih banyak berfokus kepada Islam politik misalnya, jadi tak bisa melihat itu semua. Jadi tak peka pada kelembutan aspirasi Islam yang secara riil berjalan dan bergulir di dalam realitas masyarakat.

Bahkan dalam Sinau Bareng itu, aspirasi dan ekspresi Islam itu sering muncul dalam detail-detail yang bermacam-macam. Mulai dari detail ekspresi akhlak, cinta, persaudaraan, ketakziman, gairah mencari ilmu dan kebenaran, kekhusyukan dan macam-macam lagi, termasuk yang tak kalah penting adalah ekspresi keindahan.

Sewaktu Sinau Bareng di Alun-alun Purbalingga, yang dihiasi oleh suasana hujan sebelumnya dan menyebabkan medan lapangan yang becek—seperti berlangsung pula pada Sinau Bareng di berbagai kesempatan lain, keindahan dan kesungguhan itu tampak jelas. Mereka rela duduk sekian jam dalam keadaan yang tak terlalu ideal dan nyaman demi mengikuti acara Sinau Bareng malam itu. Rasanya aspirasi Islam pun terkandung di dalam jiwa mereka.

Pada titik ini, teman-teman mungkin segera ingat akan kata-kata kunci kaffah (bersama-sama), sabiil, dan tadabbur yang oleh Cak Nun dipahami sebagai ruang luas atau jalan besar yang mengarah kepada Islam, di mana sebanyak mungkin umat Islam tercakup. Beragam aspirasi dan ekspresi Islam ter-include-kan. Bekalnya adalah prasangka baik kepada jiwa manusia dan keluasan penerimaan Tuhan itu sendiri atas manusia.

Pada saat Sinau Bareng di Alun-alun Purbalingga dalam rangka HUT-nya ke-187 beberapa waktu lalu (16/12/17), Cak Nun sempat mengatakan di awal seraya memuji dan berempati kepada tekad dan kesungguhan yang hadir, “Iki ora negara Islam, tapi yo istighotsah. Isih ono shalawatan. Ora soal nama. Ojo…