Simulasi Mengenali Kembali Komponen Utuhnya Manusia

Catatan Majelis Ilmu Bangbang Wetan-Unair, Surabaya 12 Mei 2017

Bulan Mei 2017 seakan menjadi bulan panen berbagai peristiwa penting yang diabadikan media cetak maupun elektronik. Mulai vonis mantan gubernur Ibukota, kenaikan tarif dasar listrik, pembubaran ormas radikal, tanah longsor hingga kecelakaan beruntun, dan lain peristiwa.

Ingar-bingar ini pasti sampai ke tengah-tengah proses hidup kita. Meski bukan tidak pernah, tetapi terus-menerus terpapar berita bernada negatif seperti itu kadang bikin cukup melelahkan. Maka kesempatan Maiyahan menjadi satu momen rehat bagi saya. Dan mungkin juga bagi banyak jamaah lainnya.

Foto: Adin (Dok. Progress)

Tanggal 12 malam berlangsunglah Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng yang diselenggarakan Bangbang Wetan bersama Universitas Airlangga Surabaya. Kali ini tuan rumah adalah Unair. Kampus yang turut menyumbang kenangan bagi masa kuliah saya dulu.

Sebagaimana Bangbang Wetan, Sinau Bareng malam itu dibuka dengan nderes yang spesial. Karena dipercantik dengan lantunan suara para qori’ dari kampus. Selanjutnya tentu sholawatan bersama dan langsung disambung dengan komposisi awal gamelan KiaiKanjeng. Panggung bernuansa biru dan kuning. Dua warna itu memang kebanggaan kampus karena melambangkan keagungan dan sikap kesatria yang memiliki kedalaman jiwa.

Tentu saya masih ingat jargon Unair Excellence with Morality yang berarti tanggung jawab Mahasiswa di sini bukan hanya pintar akademis saja, namun sempurna akhlaknya. Barangkali itu pula yang melatarbelakangi terselenggaranya Sinau Bareng yang kesekian kali oleh kampus. Semoga menjadi rutinitas tiap tahunnya.

Tampak di atas panggung Prof. Mohammad Nasih, Rektor Universitas Airlangga, menemani Cak Nun bersama Pak Suko Widodo dan Kyai Muzammil. Beliau memberi prolog singkat terkait situasi bangsa saat ini. “Bangsa ini sedang demam-demam dikit, suhunya agak naik,” ujarnya. Lantas Beliau berharap agar Sinau Bareng ini menjadi salah satu upaya agar lingkungan kampus tidak ikut-ikutan terpengaruh negatif dan menghangat. Supaya mahasiswa dan segenap civitas akademika kompak pada masing-masing perannya. Mampu menyikapi secara arif dan mengambil hikmah di balik peristiwa yang terjadi.

Seirama dengan Bapak Rektor, Cak Nun menyebut keadaan bangsa Indonesia saat ini berada pada hutan rimba yang remang-remang. Sulit mengenali situasi. Masyarakat tersesat di dalamnya karena jarak pandang dan parameter berkehidupan sangat kabur. Oleh sebab itu, kita perlu bersama-sama merumuskan cara dan di mana jalan keluar yang tepat. “Gelandang bukan main bola sambil bawa sempritan.” Begitu Cak Nun menggambarkan sembari menganalogikan bagaimana seharusnya pemain-pemain sepak bola bertanding di lapangan.

Masing-masing harus berada pada koordinat terbaik untuk berperan di posisinya. Kesadaran mengenal siapa diri dan di mana seharusnya manusia Indonesia berperan adalah hal-hal yang malam itu disimulasikan Cak Nun bersama jamaah yang hadir. Malam itu yang antusias ternyata bukan hanya dari mahasiswa Unair saja, tetapi juga dari kampus-kampus lain yang melebur bersama jamaah Bangbang Wetan.

Dua perempuan dan tiga laki-laki. Lima partisipan simulasi dari mahasiswa dan jamaah memenuhi ajakan ke atas panggung. Mereka diajak mengidentifikasi polaritas ukuran nilai yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari. “Apakah ukuran paling inti yang harus dipahami manusia?,” tanya Cak Nun kepada mereka berlima.

Pertanyaan tersebut tentu juga ditujukan bagi seluruh jamaah. Diberikan contoh misalnya pada hal yang bersifat material ada ukuran tinggi-rendah, panas-dingin, berat-ringan. Sementara dalam hal imaterial bisa baik-buruk, sehat-sakit, berat-ringan, dan seterusnya. Maiyahan malam itu dimulai sangat interaktif. Plus ditemani sajian polo pendhem dari panitia yang dibagi dengan wadah tempeh. Sehingga menambah suasana kebersamaan yang hangat.

Ngubengi Ilmu, Karena Hidup Itu Bulatan

Sambil masing-masing partisipan mengolah jawaban, Cak Nun mengingatkan betapa pentingnya memproses segala sesuatu dengan jelas dan teliti. Silang paham dan pertengkaran selama ini memang sering dimulai dari salah filter. Kacamata pandang kita kerap tidak tepat dan salah menyikapi suatu hal. Terlebih saat ini adalah zaman Ruwaibidhoh, satu kata yang diperkenalkan Cak Fuad dan diartikan sebagai media sosial, di mana semua orang bebas berkata dan menghakimi meski tidak benar-benar paham akar masalahnya. Maka menjadi penting mempertanyakan banyak hal dan mencari pengertian-pengertian sampai pada detail definisi per kata.

Di mana wilayah perguruan tinggi seharusnya berada? Kepada civitas akademika yang hadir, Cak Nun mereview kembali bahasan tentang Pemberadaban (Ta’dib). Sebagaimana  pernah kita dapatkan pada kesempatan Maiyahan, kosakata Ta’dib berarti tahapan mendalami pengetahuan melalui penemuan dari diri manusia sendiri. Mulai dari Ma’lamah yang berarti tahu dari tidak tahu, Ta’lim yakni mengulang hingga tahu. Kemudian Tahfidz atau benar-benar hafal, menjadi Ma’rifah dengan punya pemahaman atas pengetahuan, sampai dengan Ma’dabah.

Saat ini proses pendidikan justru tidak mengalami peningkatan dari tahapan-tahapan menuju pemberadaban. SD hingga Perguruan Tinggi bahkan masih terjebak pada repetisi tadris  sehingga sulit dihasilkan manusia Ma’dabah, yakni yang punya presisi pengetahuan atas suatu hal. Pada kesempatan Padhangmbulan sehari sebelumnya dijelaskan bab presisi melalui sifat Allah yakni Al-Hakim. Ibarat ujung jarum, presisi berarti penempatannya pada titik dan posisi tepat. Ujung jarum yang kecil itu mampu secara sangat lembut memutuskan sesuatu. Ilmu yang presisi itu tidak hanya dilihat dari satu sudut pandang saja. Namun mubeng. Secara siklikal hingga paham pola dan punya proyeksi view meluas.

Cukup mampat bahasan awal Sinau Bareng malam itu, sehingga perlu getaran suara Mas Doni dan Mas Imam KiaiKanjeng yang membawakan nomor Fix You disambung Ya Robbibil Musthofa. Karena jamaah adalah paramuda, maka kebanyakan juga tampak larut ikut menyanyi bersama. Ditambah Ruang Rindu yang dibawakan Mas Alay, suasana semakin segar karena jamaah memang familiar dengan lagu ini.

Keutuhan Itu Tidak Statis

Masing-masing partisipan kemudian menjelaskan satu per satu yang ada dalam pemikiran mereka. Satu orang memilih satu rentang nilai imaterial. Ada yang marah-lega, senang-sedih, demen-jijik, lega-khawatir, dan utuh-terpecah. Dari nilai itu mereka memberikan apa saja contoh keseharian dalam lingkup berbangsa dan bermasyarakat. Sebagian besar ternyata lebih mudah menemukan contoh negatif daripada positif. Tetapi terlepas dari itu semua, merekalah para generasi muda yang masih mau urun pikir kondisi dan solusi bagi negaranya.

Hal menarik yang dielaborasi oleh Cak Nun adalah polarisasi utuh-terpecah. Bagi Beliau, kesalahan paham tentang keutuhan dan keterpecahan adalah problem manusia Indonesia. Banyak yang belum paham bahwa konsep keutuhan bisa jadi sesuatu yang dinamis.

Foto: Adin (Dok. Progress)

Dalam Islam, konsep keutuhan yang dinamis dapat ditadabburi melalui ayat Udkhulu fis silmi kaaffah, masuklah kamu dalam (nilai-nilai kedamaian) Islam secara menyeluruh. Penggunaan As-Silmi pada ayat tersebut menunjukkan bahwa untuk utuh (menyeluruh) beribadah kepada Allah manusia dapat sangat dinamis melalui peran masing-masing. Selama ini istilah Islam disempitkan pada hal-hal normatif saja. Padahal hukum Islam adalah representasi dari hukum (syariat) Allah. Bahkan hingga jagad raya juga menjalankan syariat Allah. Maka kita semua ini adalah bagian utuh dari Allah. Tidak ada sesuatu selain tunduk pada syariat Allah.

Perluasan pengertian tentang Islam dijelaskan Cak Nun untuk membuka pintu pengetahuan baru yaitu bahwa agama tidak boleh menjadi garis yang memecah keutuhan manusia dengan lingkungannya. Islam bukan sesuatu yang lahir sejak Muhammad Saw mendapatkan wahyu kenabiannya. Tetapi Islam telah ada bahkan sejak penciptaan alam raya. Kun — demikian berlakulah syariat Allah.

Penjelasan ini membekali kita bahwa kita tidak boleh bercerai berai oleh hal sepele. Karena sesungguhnya semua yang membagi diri, pada akhirnya menyatu kembali pada Allah.

Keutuhan tidak hanya identik dengan hubungan berbangsa dan bernegara. Dalam skala lebih mikro lagi, manusia dituntut punya keutuhan dalam dirinya. Silmi itu membangun keutuhan berupa kerjasama dalam diri agar terus-menerus bertaqwa. Karena taqwa juga tidak statis, nilai ketaqwaan akan terus-menerus bersesuaian dengan keadaan hidup yang dihadapi. Silmi manusia adalah pada peranan kehidupannya masing-masing, apakah guru, ataukah petani, atau apa saja, yang penting berakhlak baik. Mengusahakan keseimbangan hingga utuh dengan diri terkecil, sehingga tidak berlawanan satu sama lain dalam syariat Allah.

Sepertiga Manusia, Tidak Utuh Komponennya

Pertanyaan kedua yang diberikan Cak Nun adalah: di antara ketiga rentang baik-buruk, benar-salah, dan indah-tidak indah, mana yang paling banyak didapatkan dari aktivitas pendidikan? Masing-masing yang ada di atas panggung menjawab atas dasar pengalaman mereka selama di bangku sekolah maupun kuliah. Namun semuanya belum dapat melakukan elaborasi yang sempurna. Cak Nun kemudian mengibaratkan cetak kurikulum formal yang dibentuk dari sistem pendidikan nasional sebagai sepertiga manusia.

Salah satu sebab para penjawab kesulitan menemukan mana yang paling dominan di antara ketiga spektrum di atas adalah selama ini mereka dibiasakan dengan nuansa benar-salah saja. Ujian sekolah dan soal-soal dari bangku perkuliahan dinilai berdasarkan benar dan salah saja. Kurikulum pendidikan nasional tidak mampu mewadahi komponen baik-buruk, apalagi indah-tidak indah. Komponen baik-buruk diserahkan pada masyarakat melalui tokoh-tokoh dan instansi keagamaan. Sedangkan indah-tidak indah harus dicari oleh individu secara mandiri.

Kenyataan itu menjadi disayangkan karena institusi pendidikan seharusnya menjadi tempat membina manusia sejak umur dini. Tetapi faktanya telah lama meluputkan perhatian untuk komponen-komponen selain benar-salah. Padahal manusia terdidik juga harus punya andil dalam perbaikan permasalahan yang terjadi di lingkungannya. Ketimpangan komponen pendidikan ini juga dirasakan oleh Pak Nasih. Sebagai Rektor, dirinya menyadari bahwa paket intrakurikuler dari pemerintah selama ini memang hanya sepertiga saja. Karenanya, Universitas Airlangga mulai memperbanyak kegiatan ektrakurikuler, termasuk Maiyahan malam itu dengan maksud menyeimbangkan komponen baik dan indah pada mahasiswanya.

Aspek soft skill mahasiswa disisipkan melalui pembiasaan kedisiplinan dan interaksi yang baik di perkuliahan. Pak Nasih juga sekaligus mengajak masyarakat untuk terlibat dalam proses pendidikan. Disadarinya bahwa keterbatasan waktu dan tenaga kependidikan membuat mereka sulit menjawab problem kehidupan yang lebih luas. Pemerintah sendiri juga harus membantu agar pendidikan juga dapat diperoleh oleh masyarakat luas di luar bangku perkuliahan. Beliau berharap agar mahasiswa pada akhirnya mampu berkembang aspek baik dan indahnya sehingga nanti juga berdampak aktif ke masyarakat dalam mengembangkan kebaikan dan keindahan itu.

Demikian pula disampaikan oleh Drs. Aribowo yang ikut bergabung ke atas panggung. Beliau sebelumnya adalah dekan Fakultas Ilmu Budaya dan saat ini Direktur University Press. Pak Ari menilai bahwa sekuat-kuatnya kurikulum pendidikan, tidak akan pernah mampu menjawab persoalan manusia. Karena masalah manusia akan selalu ada, sementara sumber daya kependidikan sangat terbatas. Sedikit nostalgis memang, Beliau juga menceritakan ketika sore hari sebelum acara dimulai melihat para jamaah yang sudah datang lebih awal beserta keluarganya. Potret seperti itu mengingatkannya pada jamaah Maiyah di berbagai tempat yang sering ikhlas menghadiri walau harus boyongan. Karenanya, Beliau sangat mengapresiasi forum-forum seperti Bangbang Wetan yang ikut serta menjawab permasalahan zaman.

Menemukan Keutuhan Dengan Menjalani Keikhlasan

Setelah panjang lebar membahas pincangnya nilai di dalam sistem pendidikan, Cak Nun mengajak jamaah kembali yakin bahwa bangsa Indonesia sebenarnya telah lama akrab dengan perhitungan dan ketelitian akan nilai keutuhan. Semua diungkapkan selalu terkait secara menyeluruh dengan nilai keutuhan kehidupan. Diberikan contoh betapa masyarakat dahulu mengikat nilai yang utuh dalam kehidupan melalui konsep penamaan jalan dan tata kota di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dari sudut pandang filosofis, jalan Margo Utomo dinamakan demikian karena manusia harus mampu mencari dan menemukan keutamaan dalam hidupnya. Kemudian setelah melewati Margo Utomo, maka akan bertemu jalan Malioboro. Ditadabburi demikian karena setelah menemukan keutamaan hidup, maka tahap selanjutnya adalah menjadi wali (Malio) yang mengembara (ngumboro). Artinya, seperti mahasiswa yang sudah pada masa Kuliah Kerja Nyata, manusia harus berproses dan mengaplikasikan penemuan keutamaan hidupnya dalam skala yang lebih luas.

Setelah Malioboro, tibalah tahapan manusia pada Margo Utomo. Yakni menemukan kemuliaan dari penempaan kehidupan. Setiap orang punya tingkat kemuliaannya masing-masing. Bisa karena ketekunan, kesetiaan, atau kesabarannya. Yang terpenting adalah keikhlasan dalam menjalani itu semua. Sebab keikhlasan adalah hulu ledak manusia untuk merasakan keindahan. Keindahan itu otonom, sebab rasa indah itu tidak dimiliki oleh dimensi benar dan salah. Hidup menjadi indah ketika tidak lagi memperdebatkan baik dan buruk.

Foto: Adin (Dok. Progress)

Pada puncaknya, setelah mendapatkan kemuliaan maka manusia akan menuju jalan Pangurakan. Hidup akan mengalami pangurakan. Yakni selesai membanding-bandingkan segala parameter. Tidak lagi berpikir untuk tepat, namun semua lakunya mewujud utuh benar-baik-indah. Ibarat pemain gitar yang bisa memainkan alat musiknya dengan tuned meski sambil menutup mata.

Tiga parameter yakni keindahan-kebenaran-kebaikan bukan merupakan pilar-pilar yang berdiri sendiri. Cak Nun mengandaikan melalui bunga, kebenaran adalah bunga itu sendiri, kebaikan adalah warna bunga, sementara keindahan adalah bau wangi dari bunga itu. Menemukan indah-benar-baik pada suatu hal harus terus-menerus dilatih agar penyikapan kita selalu utuh dan tidak ceroboh.

***

Sesi diskusi diramaikan dengan antusiasme jamaah mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Beragam memang, mulai dari yang ingin diceritakan peristiwa reformasi, pendapat tentang pergerakan mahasiswa, hingga ada yang menanyakan bagaimanakah sesungguhnya keseimbangan sejati. Cak Nun mengapresiasi para penanya yang semuanya berusia muda. Tidak masalah apapun bentuk pertanyaaanya. Yang utama adalah semangat yang muncul dari generasi yang dihasilkan dari keadaan bangsa saat ini. Mereka adalah produk ketidakteraturan sistem, tetapi semua masih menunjukkan optimisme akan masa depan bangsa Indonesia.

Jawaban demi jawaban diberikan. Seperti biasa, jawaban itu bukan sebagai kesimpulan akhir, tetapi merupakan pembuka dari pintu-pintu pemahaman baru yang prosesnya masih panjang. Malam itu Sinau Bareng ditutup dengan doa bersama dipimpin Cak Nun, sekaligus menitip rasa hormat kepada mendiang pemimpin kita yang telah terlebih dahulu dipanggil Allah. Maiyah memang selalu mengajarkan untuk tidak berhenti pada satu titik saja. Sepanjang hidup manusia adalah tentang menjaga keseimbangan untuk tetap utuh tegap pada koordinat-Nya. (D. Ratuviha)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image