Simulasi Kesengsaraan

Reportase Maiyah Juguran Syafaat Januari 2017

Menjaga Alam dengan Panggrahito Roso

Komitmen manusia jaman dulu dalam menjaga kelestarian hayati tidak lepas dari di-ugemi-nya falsafah panggrahito roso. Rasa menjadi panduan utama dalam menjaga harmonisnya interaksi manusia dengan hewan, tumbuhan dan seisi alam. Sebab ada hubungan saling menguntungkan yang mentimbalbalik antara manusia dan alam. Dari mulai hal yang sederhana saja, kalau masih banyak dijumpai kupu-kupu di suatu daerah, hal itu menjadi informasi bahwa di daerah tersebut udaranya masih bagus.

Dalam pertemuan Juguran Syafaat kemarin (14/1), ilmu rasa yang demikian halus kemudian dipertemukan persambungannya dengan kegaduhan yang terjadi di masyarakat akhir-akhir ini. Yakni pro-kontra pembangunan mal pertama di Kota Purwokerto dan keluhan masyarakat atas dampak pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi di lereng Gunung Slamet. Dari kompleksitas permasalahan mal yang berdiri dengan jumawa tepat di muka alun-alun Purwokerto itu dan dari hilangnya sumber air bersih di desa-desa di sekitar Curug Cipendok akibat kontaminasi lumpur proyek panas bumi, satu akar masalah yang dapat ditelusuri adalah diabaikannya naluri untuk menjaga kelestarian hayati.

Agung Wicaksono atau akrab disapa Kang Totman seorang seniman teater kawakan Banyumas yang hadir pada pertemuan Juguran Syafaat malam hari itu menyayangkan ditimbunnya sebuah situs budaya berupa sendang, di bawah bangunan pusat perbelanjaan yang sudah berdiri megah di jantung kota Purwokerto itu. Menyoroti masalah berikutnya, Karyanto selaku warga terdampak lumpur kiriman dari proyek Panas Bumi menceritakan proses perjuangannya bersama perangkat desa untuk mengomunikasikan permasalahan ini dengan Bupati dan jajarannya.

Dari dua studi kasus tersebut, semestinya ditakar kembali apakah pembangunan benar-benar bermakna pembangunan. Atau justru malah sebaliknya, pengrusakan. Kalau disharmoni berwujud pengursakan alam adalah masalah yang harus diatasi, apakah cukup dengan memperketat kebijakan dan aturan, atau harus sampai pada hal-hal yang lebih mengakar, yakni perlu dihidupkannya kembali falsafah panggrahito roso di tengah-tengah masyarakat.

Kelompok musik KAJ Accoustic mengintervali diskusi dengan musik-musik kontemplatif.
Kelompok musik KAJ Accoustic mengintervali diskusi dengan musik-musik kontemplatif.

Jembatan antara Teori dan Aksi

Setiap Sabtu pekan kedua, pertemuan Juguran Syafaat digelar untuk umum dengan mengambil tempat di Pendopo Soeparjo Roestam, Kompleks Kecamatan Sokaraja, Sokaraja, Banyumas. Tema yang diangkat malam hari itu (14/1) adalah “Simulasi Kesengsaraan”. Perlahan tema dikupas dengan lugas tetapi tetap cair. Setia mengiringi adalah kelompok musik KAJ Accoustic yang mengintervali diskusi dengan musik-musik kontemplatif.

Rizky mengambil perspektif dari perdebatan seputar kerja v.s. teori, atau aksi v.s. wacana. Sebab magnet politik yang makin tidak sehat, keduanya membenda menjadi kubu-kubu yang jangan-jangan sengaja untuk dibenturkan satu sama lain. Beruntung di Maiyah, kita dilatih untuk memiliki kuda-kuda berfikir, sehingga kita tidak katut dalam kubu-kubuan, tetapi bagaimana mencari presisi pengetahuan yang tepat dari dua hal yang kelihatannya berbenturan.

Frasa “Simulasi Kesengsaraan” yang menjadi tema malam hari itu terdapat pada tulisan Daur dari Mbah Nun, tepatnya pada edisi ke-34. Simulasi, ia adalah jembatan antara teori dan aksi. Untuk menjadi pilot misalnya, setelah menempuh pendidikan teori, sebelum menerbangkan pesawat sungguhan, ia diharuskan masuk ke simulator terlebih dahulu. Di tengah begitu mudahnya informasi di dapatkan saat ini, mudahnya pengetahuan-pengetahuan baru berdatangan, sering kali kita tergesa-gesa berhasrat ingin mempraktekkan pengetahuan yang baru kita dapatkan. Ibarat menerbangkan pesawat tadi, bisa crash dan jatuh padahal kalau kita buru-buru ingin mempraktekkan pengetahuan. Kita perlu memberi kesempatan diri untuk melakukan simulasi.

Solusi dari Luar Dimensi

Di rumah menghadapi kesengsaraan, datang Maiyahan temanya kesengsaraan. Oleh karenanya, beberapa penggiat Juguran Syafaat menyebut tema malam hari itu sebagai tema yang mengerikan. Mas Agus mengajak untuk membangun imunitas pikiran, yakni untuk menghadang kesengsaraan jenis pertama, yakni kesengsaraan yang berasal dari sebab eksternal. Diantaranya adalah dengan memperbaiki pemahaman kita atas kata. Satu kata yang dicontohkan adalah kata: tidur.

Tidur dalam pengertian mainstream adalah peristiwa pengistirahatan badan. Mas Agus kemudian mengajak yang hadir untuk menelusur lebih jauh, bukankah badan hanyalah alat sebagai fasilitas manusia di dunia? Kalau memang pada saat tidur badan itu off, lalu bagaimana dengan diri ruhani. Apakah ruhani juga tidur? Mas Agus menyampaikan, justru pada saat tidur, ruhani naik dimensi. Itulah mengapa orang jaman dulu sangat kaya dengan takwil mimpi, sebab mimpi itu bukan sekedar bunga tidur, mimpi adalah perjalan ruhani untuk naik dimensi. Sebab ada informasi-informasi yang Tuhan sediakan untuk diakses, di luar informasi yang adanya di dimensi kita.

Maka, pada kualitas tidur tertentu, tidur bisa disebut sebagai sebuah kegiatan belajar. Analoginya adalah orang yang berangkat ke luar negeri untuk menimba ilmu-ilmu tertentu yang tidak tersedia di dalam negerinya. Yang menjadi PR selanjutnya adalah bagaimana bekal untuk melakukan perjalanan ruhani naik dimensi. Sebab pergi ke luar negeri saja harus dibekali dengan penguasaan bahasa negara setempat, kesiapan menghadapi budaya yang berbeda, pun demikian ketika kita belajar dari dimensi yang lebih tinggi, bahasa dan jenis informasinya tentu saja berbeda. Semua itu tidak sederhana untuk dipelajari sebagai skill, orang jaman dulu mencetak bertumpuk-tumpuk primbon untuk sekedar mengilmuinya.

Akan tetapi, hikmah yang dapat dipetik sampai di sini minimal terbuka mindset kita, bahwa ada jenis-jenis pembelajaran di luar dimensi materi yang ada di dunia ini. Tidak semua masalah dunia bisa diselesaikan dengan solusi dari ilmu dan pengetahuan yang berasal dari dimensi dunia.

Rute perjalanan hidup manusia adalah dari Tuhan menuju ke Tuhan, atau Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un.
Rute perjalanan hidup manusia adalah dari Tuhan menuju ke Tuhan, atau Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Sengsara Tingkat Kelenger

Sebab kesengsaraan yang mungkin terjadi berikutnya adalah sebab kita keluar dari jalan. Rute perjalanan hidup manusia adalah dari Tuhan menuju ke Tuhan, atau Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Maka segala laku hidup, bekerja, membahagiakan keluarga adalah dalam rangka menempuh rute dari Tuhan menuju Tuhan tersebut.

Mas Agus mengambil sebuah analogi, apabila kita berperjalanan hendak menuju Jakarta, maka kita harus mencari jalan ke arah Jakarta. Asalkan sudah menemukan jalannya, kesulitan di jalan pasti ada, tapi tidak seberapa. Misalnya kepanasan, kehujanan, ban bocor, mogok, tetapi semua masih di jalan.

Berbeda apabila kita keluar dari jalan, kesulitannya tidak terbayangkan, njungkel di selokan, nganceb pepohonan. Sebab kita tidak lagi berada di jalan. Jadi dalam karir dan kehidupan keluarga, kok sengsaranya kelenger bener, perlu dicurigai jangan-jangan kita sedang keluar dari jalan. Maka solusinya bukan sekedar teknis, tetapi segera menjemput ihdina shirotol mustaqim, agar Allah segera menunjukkan jalannya.

Kalabendhu, Kualat

Sadar atau tidak, diakui atau tidak, indikatif hari ini kita telah masuk di zaman kalabendhu. Kalabendhu boleh disinonimkan dengan kualat. Inilah kesengsaraan jenis berikutnya. Kenapa kualat bisa terjadi, sebab terjadi kedurhakaan kepada orang tua. Mas Agus memulai pembahasan ini dengan sikap bakti kepada orang tua secara pribadi. Bahwa kita harus menemukan alasan substansial kenapa kepada orang tua tidak boleh durhaka. Kalau jawabannya karena orang tua yang telah melahirkan kita, maka itu masih alasan materialistis.

Alasan yang lebih substansi menurut Mas Agus adalah orang tua harus dihormati karena memang sedari penciptaannya, mereka telah diciptakan Allah bermaqam tinggi, istilahnya Tuhan membekalinya dengan SK jabatan yang tinggi. Sebab memiliki SK jabatan yang tinggi, maka mereka dipercaya Tuhan untuk menjalankan tugas mulia yakni melahirkan kita ke dunia.

Maka Islam memposisikan orang tua demikian tinggi “Ridho Allah terletak pada ridho orang tua”, bahkan di Jawa ada pemahaman yang lebih eksterim “Wong tua kuwi Gusti Allah keton”. Rasulullah SAW ketika ditanya siapa yang harus kita hormati menjawab: Ibumu, Ibumu, Ibumu. Lalu kemudian Bapakmu. Ya, orang tua. Bukan presidenmu, presidenmu, presidenmu. Apalagi pak RT mu, pak RT mu, pak RT mu.

Kalau diluaskan lagi, Ibu adalah sumber atau asal-usul dari segala sesuatu. Maka ada istilah ibu ilmu atau ibu informasi. Mas Agus menyebut, orang modern tidak memahami ini, tidak paham orang tua kota, tidak paham orang tua bangsa, tidak paham siapa yang harus ditinggikan. Sehingga demi egalitarianisme dan demokrasi orang dipaksa untuk menganggap semua orang sama. Di sinilah bibit-bibit kualat atau kalabendhu bercokol.

Ketika sebuah masalah lahir dari peristiwa kualat, maka penyelesainnya tidak bisa dengan prosedur teknis belaka. Sekalipun profesor atau doktor, kalau ia menanggung sengsara sebab durhaka kepada orang tua, maka tak menjamin ia bisa mudah menyelesaikan dera kesengsaraannya. Ketika orang sengsara dalam hidupnya disebabkan oleh kualat kepada orang tua, maka seluruh teori penyelesainnya batal.

Bukankah Indonesia saat ini sedang tidak tahu siapa orang tua dari bangsa ini, sehingga tidak tahu siapa yang oleh Tuhan diberi SK jabatan tinggi dan kita wajib meninggikannya? Menjadi PR besar kita bersama untuk membawa prinsip-prinsip penghormatan kepada orang tua untuk dibawa kepada ranah-ranah sosial, agar kita segera lepas dari kesengsaraan akibat kualat, akibat kalabendhu.

Jangan sampai kita terbentur di awang-awang, ditempat yang tidak ada apa-apa.
Jangan sampai kita terbentur di awang-awang, ditempat yang tidak ada apa-apa.

Tak terasa pertemuan sudah lewat tengah malam, menjelang jam 01.30 dinihari di ujung pertemuan Mbah Hadi menutup dengan mengingatkan semua yang hadir dengan istilah yang populer di masyarakat Jawa : “Kebenthus ing tawang, kepadhuk ing mutan”. Refleksinya adalah, jangan sampai kita terbentur di awang-awang, ditempat yang tidak ada apa-apa. Maksudnya adalah terbentur oleh kekeliruan cara berpikir kita sendiri.

Berapa banyak orang sengsara bukan sebab ia ditimpa kesengsaraan, tapi sebab ia sengsara karena berpikir ia tidak bernasib tidak sama seperti orang lain. Ia hanya nyawang, menjadikan orang lain sebagai ukuran, bukan membuat simulasi sendiri untuk membangun definisi kesengsaraan bagi dirinya sendiri. (rz)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image