Silmi Untuk Keadaan Bernegara

Mbah Nun mengatakan, “Tuntutan Allah dalam keadaan bernegara salah satunya adalah masuk kepada pemahaman Silmi, bukan Islam”.
Mbah Nun mengatakan, “Tuntutan Allah dalam keadaan bernegara salah satunya adalah masuk kepada pemahaman Silmi, bukan Islam” (Foto: Gandhi).

Melihat situasi dan keadaan bernegara seperti saat ini, Mbah Nun mengatakan bahwa yang dibutuhkan adalah pemahaman akan Silmi dan bukan Islam.

Teman-teman jamaah KC diajak memahami beda antara Silmi dan Islam. Islam di sini dimaksudkan sebagai suatu sistem besar yang meliputi politik, ekonomi, dan tatanan masyarakat pada skala besar pula, yang untuk mewujudkannya butuh waktu sangat panjang dan belum tentu berhasil pula.

Pertengkaran saat ini berlangsung diantaranya dilatarbelakangi oleh kegetolan akan mewujudkan sistem besar itu tanpa melihat ragam kemampuan dan kondisi setiap orang. Orang dipaksa untuk “mengoar-ngoarkan” sistem besar sembari nama sistem besar itu dipakai untuk mengklaim diri maupun men-judge orang lain. Pertengkaran pun bisa berwujud pertengkaran saling memperjuangkan sistem besar yang diyakini masing-masing kelompok.

Sedangkan Silmi adalah Islam tetapi tidak dalam pengertian sistem besar, malainkan tetesan-tetesan lembut berupa perilaku baik dari setiap orang muslim. Tidak setiap orang mampu memikirkan dan terlibat dalam mewujudkan sistem besar itu, tetapi bahwa setiap orang bisa melakukan kebaikan sesuai kemampuan dan kondisinya. Silmi menitikberatkan pada kearifan dan keluasan jiwa, sehingga bila satu sama lain berjiwa luas, mereka tak perlu bertengkar dan saling membenci. Itulah sebabnya Allah meminta semua orang, dari latar belakang kelompok apapun, untuk bersama-sama (kaaffah) masuk kepada Silmi. Udkhulu fis Silmi Kaaffah.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image