Daur-II • 179

Siapa Sebenarnya Mbah Sot

Malam itu tiba-tiba Seger mengemukakan kepada para Pakde Paklik bahwa ia akan menanyakan sesuatu yang tidak biasa.

“Maaf ya Pakde”, katanya, “Sebenarnya kami semua sudah lama menyimpan pertanyaan-pertanyaan itu”

Akhir-akhir ini memang diam-diam anak-anak muda itu mengamati Pakde Paklik mereka bergiliran menemui tamu-tamu entah siapa di ruangan sebelah depan kiri. Terkadang biasa-biasa saja tidak terdengar suara yang aneh. Tapi sesekali ada yang seperti tidak wajar. Ada semacam teriakan. Di saat lain ada tangis. Bahkan beberapa kali seperti suara ribut orang sedang bertengkar.

Anak-anak muda hanya saling melirik satu sama lain. Tetapi mereka sepakat bahwa memang ada sesuatu yang harus mereka tanyakan kepada orang-orang tua aneh itu. Ada suatu rentang sejarah, ada dimensi-dimensi informasi, atau kejadian-kejadian di masa lalu, yang rasanya perlu mereka lacak. Agar mereka lebih bisa memahami siapa sebenarnya yang mereka hadapi.

Mereka merasa seperti dikurung di gua yang remang-remang. Mereka mengalami perkembangan pesat di dalam soal keluasan berpikir, wawasan sosial, pengetahuan sejarah, maupun strategi hidup. Itu semua mereka peroleh dengan sangat efisien dan efektif. Tidak memerlukan waktu yang panjang atau kelas-kelas sebagaimana di Sekolah atau forum-forum diskusi, atau kelompok Tarikat. Tapi semua Pakde Paklik ini adalah Guru-Guru Besar.

Dan yang ingin Seger serta semua tanyakah kepada Pakde Paklik tak lain adalah “Siapa sebenarnya Mbah Sot”. “Karena”, kata Seger, “Saya tertarik pada ayat ini: ‘Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan menjadikan matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.’[1] (Al-An’am: 96).

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra