Setoran Kepada Allah

Sebenarnya sudah lebih dari lima tahun silam Cak Nun mengemukakan dan mengintroduksi-populerkan ungkapan ini kepada para jamaah: Setoran Kepada Allah. Para jamaah tentu sudah mendengarnya langsung. Saya sendiri pun terkesan dengan kalimat sederhana itu. Sampai saat ini, masih tetap sering Beliau gunakan ungkapan itu dalam banyak kesempatan Maiyahan untuk memotret dan merasakan apa yang dari waktu ke waktu berkembang dan memancar dari wajah-wajah yang hadir bermaiyah.

Sejauh mampu saya pahami, kira-kira berikut ini maksud “Setoran Kepada Allah”. Dalam keadaan apa saja yang kita alami, keadaan tak mengenakkan tentunya, penderitaan, keteraniayaan, ketersisihan, atau kondisi hidup tak menentu, kita menempatkan dan meyakini bahwa apa yang kita alami itu adalah setoran kepada Allah.

Kelak pada waktunya, Allah akan mengembalikan setoran itu kepada kita berwujud perubahan keadaan atau tercapainya harapan baik kita. Atau jika tidak terjadi pada kita, pasti akan dikembalikan oleh Allah kepada anak-anak atau cucu-cucu kita berupa kemudahan, kesejahteraan, atau kehidupan yang lebih baik pada diri mereka.

Apa bukan ketidakberdayaan sejarah yang demikian itu? Mungkin begitu kita bertanya dan mempertanyakan. Ah, masak secepat dan sesimpel itu kita berlogika dan menyimpulkan. Tidak ada rasanya dari kalimat atau ungkapan itu yang mengandung sikap tak berdaya. Ataukah kita yang selama ini alergi pada kecenderungan-kecenderungan ke “langit”, agama, Tuhan, sehingga belum-belum sudah curigation.

Berjuang tetaplah keharusan dan kewajaran pada diri manusia dalam menjalani hidup. Siapapun tahu itu. Dalil, argumen, dan logikanya ada tersendiri dan sudah cukup jelas dimengerti oleh siapa saja. Adapun “Setoran kepada Allah” adalah cara lain yang memperkaya cara kita memandang, merasakan, dan mengolah ke dalam diri kita keadaan yang tengah kita alami. Susah, sedih, rekoso, prihatin, dan sejenisnya.

Keadaan-keadaan itu dapat ditatap lewat banyak cara dan sudut memandang. Keadaan itu misalnya bisa didekati dengan konsep etos perjuangan hidup. Hasilnya, akan terbit dalam diri semangat dan kegigihan berjuang. Ada pula yang diperlukan cara lain dalam memandang hal/keadaan yang sama itu. “Setoran kepada Allah” adalah salah satunya. Pandangan-pandangan itu tak selalu bertentangan. Sebaliknya, malah bisa konvergen satu sama lain.

Dan, rupanya impresi dan penyelaman atas kata-kata sederhana “Setoran Kepada Allah” membawa saya pada beberapa penjelajahan akan dimensi-dimensi yang ternyata melekat padanya.

Dalam konteks iman, paradigma “setoran kepada Allah” itu dapat dipahami justru sebagai wujud iman kepada Allah, bahwa Allah tidak sia-sia “membuat” semua hal yang kita alami. Bahwa dengan keyakinan itu, dari sudut sejarah, malahan kita memiliki kesadaran yang jauh sampai ke anak-cucu, ke generasi-generasi berikut. Rentang kesadaran sejarah kita panjang, tidak pendek atau sejengkal. Orang yang berbicara tentang perubahan membutuhkan kesadaran rentang panjang itu.

Sementara dari sisi psikologis, keyakinan bahwa setoran kita akan membuahkan hasil itu adalah suatu energi yang mampu menumbuhkan daya hidup bagi kita di tengah keadaan serba sulit atau silih bergantinya tantangan-tantangan yang kita hadapi, yang barangkali nyaris tak tersedia pilihan lain selain putus asa. Kita tertolong oleh “Setoran kepada Allah”. Sebuah keyakinan yang membuahkan makna positif bagi kita, dan menjauhkan diri dari langkah kontraproduktif, yang memperlihatkan hidupnya sebuah keyakinan, sebuah iman, dalam diri manusia.

Selanjutnya coba kita letakkan dalam pembahasan mengenai tauhid atau aqidah. Dalam bahasa Cak Nun, keyakinan ini dapat dipandang sebagai salah satu wujud beraqidah yang disertai atau dilanjutkan dengan sikap berta’aqqud. Yakni tak sekadar meyakini (tahu, paham) namun keyakinan itu menyuntikkan kekuatan membaja pada momen-momen di mana manusia justru mendapat ujian hidup, yang notabene merupakan ujian akan iman itu sendiri.

Daya iman itu muncul pada saat hempasan demi hempasan masalah menerpa manusia. Ta’aqqud ialah benar-benar yakin dan mengikatkan diri kepada Allah Swt. Boleh jadi, kata Cak Nun, selama ini kita beraqidah tetapi belum berta’aqqud, kita berfiqih tapi belum bertafaqquh.

Yang saya tak kalah senangnya adalah justru pada pilihan ungkapan “setoran kepada Allah”. Itu bahasa sederhana, sehari-hari, mudah dipahami, gampang nyantol di hati. Tampaknya iman, tauhid, teologi memang sesekali atau kerapkali atau seharusnya perlu diformulasikan dalam bahasa sederhana, sehingga dalam cara itu seluas mungkin orang dapat turut serta memahami, merasakan, dan ikut menjadi bagian dari orang-orang yang beriman itu. Kita mengajak bareng-bareng orang dalam perahu iman dan bukan hanya kita sendirian seraya menyingkirkan yang lain.

Pada perkembangan beberapa tahun terakhir ini tatkala Cak Nun menjumpai fenomena baru dalam Maiyahan: banyaknya generasi muda, juga anak-anak, ketahanan, kesetiaan, keteguhan, kemauan berpikir serius, kemurnian niat, kesungguhan ngabekti kepada Allah, cinta kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw, dan concern pada memperbaiki situasi bangsa-negara dan sikap-sikap lain yang mengundang rasa takjub dan simpati, “Setoran kepada Allah” menemukan perluasan cakupannya. Semua fakta kesetiaan dari suatu generasi baru alias qaumun akhor itu sangat pas dan tepat jika dirasakan dan terasa adanya sebagai setoran kepada Allah sebagai ongkos bagi lahirnya perubahan.

Pada setiap malam ketika bergulir Maiyahan atau Sinau Bareng, kita melihat setoran-setoran itu membubung ke langit. Belum lagi yang berlangsung di luar Maiyahan yang kita tak sempat menyaksikannya, atau yang berlangsung pada setiap lingkar di berbagai kota. Dengan “Setoran kepada Allah”, kita bergerak ke depan.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image