Seribu Kalimat Syahadat

Seribu, mungkin bisa lebih: sejuta, semiliar kalimat syahadat. Namun, menggali yang dua saja: syahadat tauhid dan syahadat rasul kita tidak pernah serius mengkhatamkannya. Bukan khatam yang dibatasi garis finish, tapi memasuki terminal demi terminal yang menandai akhir sekaligus awal perjalanan berikutnya.

Kalimat legal formal syahadat tauhid kita semua tahu. Aku bersaksi tidak ada tuhan (yang berhak dan wajib disembah) kecuali Allah. Dibaca setiap shalat tanpa perlu penambahan atau pengurangan. Kalau mengacu pada firman Allah surat Ibrahim: 24, syahadat tauhid merupakan kalimat thayyibah—yang Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik. Akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.

Sebuah pohon yang utuh dengan sistem dan mekanisme organisme di dalam dirinya. Pohon besar dan rindang yang akarnya menancap kuat dan cabang-cabangnya menjulang ke langit. Struktur organisme pohon disusun oleh unsur mikro-makro: akar, batang, ranting, daun, stomata, sel-sel, dan seterusnya. Dan laku hidup kita bagaikan bagian-bagian mikro yang dikandung oleh struktur besar organisme pohon syahadat tauhid.

Metabolisme tauhid akar, batang, cabang, ranting atau daun, hingga sel terkecil tak ubahnya metabolisme laku tauhid hidup kita. Kita berada di dalam jaringan organisme “pohon tauhid.”

Maka, kita akan menemukan syahadat tanah, syahadat akar, syahadat batang, syahadat cabang, syahadat daun, syahadat buah yang masing-masing bagian terdiri dari sub-bagian dan sub-sub-bagian. Semuanya mendendangkan ayat kesadaran tauhid dalam satuan ruang dan waktu, detik per detik, ruang per ruang, sebagai jalan yang melingkar. Sesungguhnya kita berada dalam arus innaalillaahi wa innaa ilaihi raji’un.

Syahadat tauhid bersifat dinamis, berkembang dan mengalir, demikian Mbah Nun pernah menuturkan. Kita meneliti, memilah, niteni, mempelajari, mewaspadai tipu daya dan tipu muslihat yang dilancarkan oleh ilahilah palsu.  Semua ilah palsu itu tidak berhak haram disembah, dan yang wajib disembah hanyalah Allah Swt. Peristiwa apapun disyahadatkan. Dirohanikan. Orang Jawa menyebut ngalah: NgAllah, meng-Allah. Menyadari sepenuh kesadaran: apa saja, mengapa saja, bagaimana saja, kapan saja berasal dari Allah dan kembali kepada Allah.

Setiap detik kita bersyahadat dan nganyari syahadat, karena di setiap momentum kita kepergok bertemu Allah. Term kesadaran itu dibangun dan berkembang, misalnya: tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Allah. Tidak ada yang menolak keburukan kecuali Allah. Nikmat apapun yang datang pasti dari Allah.

Atau yang lebih detail dan sehari-hari, misalnya: tidak ada yang bisa mendatangkan penumpang kepadaku kecuali Allah. Tidak ada yang bisa menumbuhkan padi kecuali Allah. Tidak ada yang bisa memberi pemahaman ilmu kepada murid kecuali Allah. Tidak ada yang bisa mengalirkan darah dari jantung lalu kembali ke jantung di dalam badanku kecuali Allah. Seribu syahadat kita ucapkan dalam metabolisme kesadaran tauhid—setiap saat di setiap ruang. Tidak ada yang tidak Allah.

Maka, ilahun yang kita nafikan melalui ungkapan laa ilaaha, tidak ada jenis sesembahan apapun, adalah tuhan-tuhan yang melakukan talbis melalui berbagai cara dan jalan sehingga kita nylewar dari sabil, syari’, thariq dan shirath yang ditentukan Allah. Bukan hanya tuhan materialisme yang kita nafikan—egoisme, ananiyyah, ke-aku-an, eksistensisme, haa ana dza adalah berhala yang wajib dirobohkan oleh godam kalimat syahadat tauhid.

Seribu syahadat yang kita ucapkan seolah menjadi “pra-kondisi” untuk bertemu dengan sifat Rububiyah, kepengasuhan, kepengayoman Allah. “Siapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan jangan mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabb-nya” (QS. Al-Kahfi: 110). Susunan kalimat yang dipakai adalah liqa-a rabbi, bukan liqa-a ilahi atau liqa-a maliki. Produk atau output perilaku seribu syahadat adalah kepengasuhan amal shalih yang dilandasi kasih sayang dan welas asih.

Seribu syahadat, seribu persaksian metabolisme tauhid menghasilkan seribu perilaku sosial, budaya, politik, pendidikan yang mengamankan dan menyelamatkan. Parameternya adalah perilaku, bukan identias, institusi, labeling, apalagi strategi branding dan pencitraan. Rukun Islam menjadi metodologi, kaifiyah, thariqah untuk mengolah diri. Outputnya adalah perilaku kepengasuhan rahman dan rahim yang memantul dari-Nya.

Tuhan seperti menggoda kita dengan tidak menggunakan ungkapan liqa-allaahi, karena kembali kepada Allah adalah kepastian yang mutlak. Tadabur liqa-a rabbi adalah manusia diturunkan ke bumi tidak berhenti pada gelar, peran dan fungsi sebagai hamba Allah. Manusia adalah khalifah (duta) Allah agar mengolah, mengelola, memanajemeni dunia dan isinya terutama dengan nggondeli prinsip takhalluq bi akhlaaqillah. Berakhlak dengan mencontoh akhlak Rahman-Rahim Allah yang mengayomi makhluk-Nya (sifat Rububiyah).

Betapa banyak lorong kesadaran yang bisa ditempuh untuk berjumpa dengan sifat kepengasuhan Tuhan. Betapa luas hamparan medan aksi yang bisa dijalani untuk “berbagi syahadat”. Dan itulah Islam—jalan keselamatan yang setiap manusia boleh memilih atau meninggalkannya. Tidak ada paksaan. Yang mau beriman, berimanlah. Yang mau kufur, kufurlah.

Saya turun di Peterongan menjelang shubuh usai Maiyahan di halaman DPRD Surabaya beberapa waktu lalu. Saya melanjutkan perjalanan dengan naik becak motor. Angin cukup kencang; dingin menggigit. Tukang becak menghentikan becaknya. Ia mencopot jaketnya lalu meminjamkannya kepada saya. Adegan yang tidak saya sangka sebelumnya—adegan seribu syahadat yang merefleksikan sifat welas asih Allah, tanpa saya merasa perlu mengintrogasi bapak itu. Apakah ia seorang muslim, penganut gatoloco, ataukah pengamal ilmu kebatinan? Tukang becak men-syahadah-kan tajalli sifat Rahman Rahim Allah.