Daur-II • 219

Seratus Orang Sekian Generasi

Bagi Pemuda Wali Kubro, “Sirno Ilang Kertaning Bhumi” bukan sekedar menandai waktu atau tahun 1400. Juga bukan sekedar kehancuran Kerajaan Besar yang ia pandu bertransformasi ke arah barat utara sebagai perwujudan hijrah Negara dan peradaban. Pemuda Wali itu diam-diam merasa ngeri kalimat itu sebenarnya menggambarkan kehancuran Nusantara secara keseluruhan.

Ia telah mencoba menyusun program-program Bedhol Negoro, tranformasi sosial, hijrah teritorial dengan kesadaran penyelamatan kepercayaan dan pembangunan nilai-nilai ke masa depan. Ia telah menyembunyikan sejarah “dua tahun kosong” untuk menyelamatkan berbagai kekayaan Nusantara, khususnya Kerajaan Besar itu, hardware maupun software-nya.

Ia telah menyusun jejak-jejak rahasia. Kode-kode untuk para pelacak sejarah di abad-abad yang akan datang. Ia telah mencoba mengatur peralihan dan pembagian tanggungjawab pemerintahan dari tahap ke tahap. Ia menyelamatkan semuanya yang keputusannya berbeda bahkan bertentangan. Semua diakomodasi dan difasilitasi sesuai dengan cabang-cabang Delta Sejarah yang terjadi.

Dengan kerja ekstra keras Pemuda Wali itu dengan semua sahabat dan lingkaran pejuang di sekitarnya, atas bimbingan para Sesepuh, telah dengan sungguh-sungguh, siang malam, pontang-panting ke sana kemari, berloncatan dari wilayah menyeberang wilayah lain – demi melaksanakan anjuran Allah:

Dan sesungguhnya Tuhanmu pelindung bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [1] (An-Nahl: 110).

Untuk ukuran manusia biasa yang bukan Nabi, dan ia sendiri tidak melihat dirinya adalah Wali — meskipun apa yang dilakukan oleh Pemuda itu, mungkin hanya bisa dibandingkan dengan perjuangan seratus orang dalam beberapa generasi.