Daur-II • 042

Serasa Kafir

Tuhan selalu merahmati dan membahagiakan komunitas anak-anak muda itu beserta keluarga dan Pakde Paklik mereka. Mudah-mudahan keasyikan mereka ber-Iqra` bukan merupakan pelarian dari suasana gaduh Negara dan masyarakat, yang memang sangat mengganggu.

Perusakan zaman, sikap para penguasa yang sudah sampai tingkat “menantang kekuasaan Tuhan”, penggerogotan Negara dan situasi-situasi yang sangat menekan manusia, sering membuat mereka hampir berputus asa. Betapa kecewanya Tuhan kepada mereka. “Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir“. [1] (Yusuf: 87).

Mereka adalah warga dari Negeri Gaduh itu. Tetapi mereka tidak punya hak maupun kewajiban atas kegaduhan itu. Mereka hanya bagian yang ditimpa, yang dianiaya, pada batas dan takaran tertentu.

Maka pada suatu batas yang mereka tak bisa lagi mengatasi, mereka lantas membuat semacam kurungan untuk berlindung. Ibarat perang Khandaq-nya Rasulullah Muhammad Saw, mereka menggali parit mengelilingi kurungan itu, sehingga para penggaduh mengecil peluangnya untuk bisa menyentuh. Sawah ladang yang puluhan tahun digarap untuk penghidupan Pakde Paklik itu, mereka tinggalkan. Sehingga sejak itu pasokan makanan dan minuman mereka hanya dari langit.

Negeri itu dipenuhi oleh sangat banyak masalah. Sedemikian banyaknya masalah yang bertumpuk dan kait berkait, mereka tidak mampu jangankan menyelesaikanya: menghitung dan merumuskannya sajapun tak sanggup. Sebagian orang menyalahkan mereka karena itu.

Mereka disalahkan di bumi. Sementara di langit, setiap kali merasa putus asa, setiap mereka ber-Iqra`: serasa kafir diri mereka.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra