Daur-II • 186

Sepupu Nabi Khidlir

Asyik anak-anak muda itu bertamasya mencari dirinya, bangsa dan Negaranya di Qur`an secara substansial dan simbolik.

“Kita ini sudah lama beragama tapi kondisi sosial politik dan kenegaraannya seperti kaum yang tidak beragama”, Seger terus mengeluarkan catatannya, “Artinya Agama tidak bisa kita kelola untuk menjadi landasan kekuatan sejarah kita. Allah, Kanjeng Nabi, Al-Qur`an dan Hadits tidak bisa kita daya gunakan untuk membangun kekuatan kebudayaan dan peradaban. Sehingga berabad-abad hidup kita sangat rapuh. Sejak lama, apalagi saat ini, bangsa kita disiksa dan diteror terus oleh kekuatan Ya’juj dan Ma’juj, tetapi kita tidak melakukan transaksi penyelamatan masa depan dengan Pendekar Dua Tanduk…”

“Hebat sebutan itu”, celetuk Pakde Sundusin.

“Baginda Dzulqarnain. Hidup dua abad sehingga dijuluki memiliki dua tanduk. Sepupunya Nabi Khidlir, yang juga supervisor spiritualnya. Ada yang bilang nama asli beliau adalah Abu Bakar Al-Himyari atau Abu Bakar Ifraiqisy. Lainnya bilang nama beliau adalah Abdullah bin Ad-Dhahhak. Juga Mush’ab bin Abdullah. Tak apa. Tidak mungkin kita mengetahui data personalnya, sehingga tak ada manfaatnya untuk memperdebatkannya. Yang jelas beliau bukan Alexander The Great, karena eranya 2000 tahun sebelum itu, yakni di masa Nabi Ibrahim”

“Yang penting”, ia meneruskan, “Mestinya sekarang ini bangsa kita melakukan transaksi sejarah agar beliau bersedia melakukan sesuatu untuk melindungi kita dari kekejaman Ya’juj dan Ma’juj. Karena hanya beliau yang difadhilahi Allah untuk mampu melakukannya: “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?[1] (Al-Kahfi: 94).

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra