Daur-II • 037

Semut-semut Romantik

Brakodin kecolongan mengatakan apa yang sebenarnya sangat ia sadari untuk tidak diucapkan.

“Sayapun tidak pernah menjadi benar-benar dewasa dan matang untuk senantiasa waspada.…”, celetuk Markesot.

“Maksud Sampeyan apa Cak?”, Brakodin agak kaget.

“Kamu tadi kan lewat ketika saya shalat. Dan kamu pasti sadar dan cukup matang untuk berusaha pura-pura tidak tahu. Tapi kecolongan juga bicara bahwa saya tadi menangis….”

Brakodin salah tingkah. “Benar, Cak. Tapi kesadaran itu muncul sebelum Sampeyan datang dan tertawa terpingkal-pingkal, yang membuat saya terpecah konsentrasi”

“Nggak apa-apa. Memang saya menangis kemudian tertawa. Kamu tidak dosa, saya juga mestinya tidak salah”

“Tapi tidak mungkin saya tidak penasaran menyaksikan kenapa Sampeyan menangis sampai mengerikan seperti itu kemudian tertawa sampai tingkat agak memalukan.…”, kata Brakodin.

Markesot menirukan firman Tuhan. “Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari” [1](An-Naml: 18).

Kemudian: “maka dia tersenyum dengan tertawa karena mendengar perkataan semut itu”. [2](An-Naml: 19).

“Adegan Nabi Sulaiman dengan para semut itu sangat romantik, dan Baginda Sulaiman tersenyum. Tak ada tangis. Sedang tadi diri-sejatiku lewat, aku ngeri melihat diriku yang ini, sehingga menangis. Tapi kemudian kutertawakan sendiri diriku yang konyol dan najis ini….”.