Seminar Sekolah Sespimmen Polri

Mbah Nun berbicara dalam Seminar Sekolah Sespimmen Polri Dikreg Ke-57 T.A. 2017 di Jakarta.
Mbah Nun berbicara dalam Seminar Sekolah Sespimmen Polri Dikreg Ke-57 T.A. 2017 di Jakarta.

Sebelum berangkat ke Korea bersama Ibu Novia Kolopaking, Dik Haya, dan Letto, siang tadi (Selasa, 3/10/2017) Mbah Nun berbicara dalam Seminar Sekolah Sespimmen Polri Dikreg Ke-57 T.A. 2017. Selain Mbah Nun, turut berbicara sebagai narasumber adalah Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI Luhut Binsar Pandjaitan dan Romo Frans Magniz Suseno.

Acara berlangsung di Auditorium Gedung STIK-PTIK Kebayoran Baru-Jakarta Selatan dengan tema Penguatan Implementasi Nilai Kebhinnekaan Terhadap Ancaman Disintegrasi Bangsa. Audiens seminar ini seluruh peserta didik Seluruh Peserta Didik Sespimmen Polri Dikreg Ke-57 T.A. 2017, Pejabat Sespim dan Sespimmen Polri, Pejabat Utama Mabes Polri, Peserta Sespimti Polri, Peserta Didik Sesko TNI, Kapolda Metro Jaya, Instansi terkait, Kapolrestro Jakarta Selatan, Akademisi, Wartawan, dan Perwakilan Mahasiswa PTIK.

Dalam kesempatan seminar ini, di antaranya, Mbah Nun mengajak seluruh peserta untuk mengembalikan apa yang selama bertahun-tahun terbalik dalam pikiran kita dalam mempersepsi kehidupan berbangsa dan bernegara. Contohnya, selama ini sadar atau tidak, jika berbicara Indonesia kita merasa tidak enak buat meneguhkan etnik atau agama.

Pada proporsi yang pas dan tepat, persepsi itu harus dibalik. Indonesia adalah ya Islam, ya Kristen, ya Katolik, ya Hindu, ya Budha, ya Jawa, ya Sunda, ya Batak, ya Kalimantan, ya Sulawesi, dan lain-lain. Semua mendapat tempat. Indonesia bukan penegasian atas komponen-komponen kebangsaan Indonesia itu sendiri. Karenanya dalam konteks ini, konflik yang dipandang sebagai, misalnya, konflik keagamaan terjadi karena adanya ketidakadilan dalam menjalankan tata kehidupan kenegaraan kita.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image