Kalau kita tidak punya perspektif yang tepat dengan masa lalu, kita tidak akan pernah memiliki jangkauan ke masa depan.
Kalau kita tidak punya perspektif yang tepat dengan masa lalu, kita tidak akan pernah memiliki jangkauan ke masa depan.

Siang ini Jumat (29/9) digelar Seminar bersama Cak Nun dengan mengambil tema “Memasadepankan Masa Silam” di Pendopo Prangwedanan Puro Mangkunegaran Surakarta.

Seminar dengan kapasitas terbatas untuk 100 orang saja. Namun terlihat beberapa peserta yang datang tanpa kartu undangan. Beberapa dari mereka harus rela duduk lesehan di lantai karena kapasitas kursi yang terbatas.

Peserta yang hadir dari berbagai kalangan. Baik dari kalangan seniman, keluarga keraton Mangkunegaran, maupun media massa. Juga akademisi dan budayawan.

Dalam seminar ini Cak Nun dimintai pandangannya sekaligus solusi tentang persoalan “Keraton” di masa kini. Karena selama ini keraton hanya dipandang sebagai peninggalan cagar budaya secara fisik bukan nilai atau norma.

Cak Nun menyampaikan bahwa apa yang terjadi saat ini di Indonesia adalah kesalahan cara berpikir manusianya. Sehingga tidak pernah ditemukan konsep kesadaran Keraton. Karena keraton itu pusaka yang letaknya di kesadaran manusianya.

Cak Nun menganalogikan kesadaran ini dengan ganteng/ayu itu tidak bisa dilihat karena letaknya di kesadaran. Yang terlihat itu bentuk fisik wajah.

“Kalau kita tidak punya perspektif yang tepat dengan masa lalu, kita tidak akan pernah memiliki jangkauan ke masa depan.” Imbuh Cak Nun ketika mengelaborasi ke dalam tema seminar kali ini. (DWK)

Seminar Memasadepankan Masa Silam