Semangat Menolak Menyerah

Coach Indra Sjafri selalu menyematkan kalimat tersebut di setiap postingan Instagram miliknya. Berdampingan dengan kalimat “Bangkit Sepakbola Indonesia”. Begitu juga ketika ia berinteraksi di sebuah grup WA Maiyah, dua kalimat bernuansa positif itu selalu ia sematkan. Kalimat sederhana, yang semua orang pun bisa mengungkapkannya. Tapi ada satu hal yang saya catat sehingga kalimat “sakti” itu benar-benar memberikan pengaruh positif bagi Coach Indra Sjafri dan anak-anak U-19: konsistensi.

Pasukan Coach Indra Sjafri ditengok Cak Nun saat latihan di Lapangan UNY sore tadi.

Dua kalimat itu selalu disematkan Coach Indra dalam setiap postingannya di Instagram. Saya tidak tahu apakah dua kalimat tersebut juga ia ucapkan ketika membuka atau menutup sesi latihan bersama anak-anak U-19 atau tidak. Saya juga belum tahu kalimat-kalimat itu apakah juga diucapkan di ruang ganti ketika jeda turun minum di setiap pertandingan yang dilakoni oleh Egy Maulana dkk ataukah tidak. Tetapi setidaknya kita bisa melihat dampak dari konsistensi Coach Indra menyematkan dua kalimat positif tersebut di media sosial yang ia gunakan.

Di Mocopat Syafaat bulan lalu, Coach Indra menyampaikan bahwa anak-anak U-19 kali ini kualitasnya lebih baik dari U-19 era Evan Dimas dkk yang empat tahun lalu berhasil menjuarai Piala AFF U-19 yang saat itu dihelat di Gresik dan Sidoarjo. Pada pertandingan pembuka, anak-anak asuhan Coach Indra membuktikan kualitas mereka. Sempat tertinggal di babak pertama, Egy Maulana berhasil menyarangkan sepasang gol di babak kedua untuk membalikkan kedudukan. Laga kedua ketika berhadapan dengan Filipina, Egy Maulana dkk berhasil menyarangkan 9 gol ke gawang Filipina. Seakan de javu, Indonesia ketika berhadapan dengan Vietnam justru mengalami kekalahan. Sama seperti yang dialami Evan Dimas pada gelaran turnamen yang sama di tahun 2013, dikalahkan oleh Vietnam.

Memang sejak awal, Vietnam dianggap sebagai lawan terberat bagi Indonesia. Hanya saja, tidak banyak yang menduga bahwa Indonesia harus mengalami kekalahan dengan skor yang cukup mencolok, 3-0. Padahal, jika melihat data statistik pertandingan, Indonesia unggul di beberapa aspek, hanya saja Vietnam mampu bermain efektif memanfaatkan celah yang ada di lini pertahanan.

Ditambah, Indonesia harus kehilangan Muhammad Riandy, kiper utama U-19 akibat salah posisi kaki sesaat setelah ia menendang bola. Cedera yang dialaminya pun cukup serius, membutuhkan waktu pemulihan paling cepat 6 bulan. Praktis, Riandy tidak bisa memperkuat Timnas U-19 di sisa pertandingan turnamen AFF U-18 kali ini.

Apa yang diungkapkan Coach Indra Sjafri benar-benar dibuktikan di lapangan oleh para pemain U-19. Meskipun sempat dikalahkan oleh Vietnam dengan skor 3-0 yang membuat posisi Indonesia tidak menguntungkan, di pertandingan terakhir melawan Brunei (13/9) kemarin sore, anak-anak U-19 berhasil mewujudkan ekspektasi tinggi, mengalahkan Brunei dengan skor 8-0. Jika anda adalah pemain sepakbola, selemah apapun lawan Anda, untuk mencetak 8 gol di pertandingan penentuan bukanlah hal yang mudah. Terlebih, Myanmar dan Vietnam baru bertanding 1 jam setelah Indonesia berhadapan dengan Brunei. Tekanan jelas ada pada Indonesia. Alhamdulillah, skor 8-0 membuat Myanmar dan Vietnam berada di posisi yang sulit. Tekanan berpindah, dan secara mengejutkan Myanmar mengalahkan Vietnam dengan skor 2-1. Indonesia menjadi Juara Grup B. Hasil ini cukup menguntungkan bagi Indonesia, karena hanya akan menghadapi Thailand di babak semifinal. Hanya saja, tantangannya adalah perubahan jadwal pertandingan, yang sebelumnya dijadwalkan malam hari, berubah menjadi sore hari, di saat cuaca masih cukup terik. Entah apa alasan perubahan jadwal ini.

Kembali kita memiliki harapan masa depan yang cerah dalam dunia persepakbolaan kita di pundak anak-anak U-19 ini. Seperti yang juga pernah disampaikan Cak Nun, sesungguhnya terlalu berat beban anak-anak U-19 itu. Anak-anak yang masih muda, kita bebani untuk menjadi juara sepakbola di setiap turnamen yang mereka ikuti. Karena kita memang sudah benar-benar haus akan prestasi. Sekali lagi harus saya sampaikan, mereka adalah Tim Nas U-19, turnamen yang mereka ikuti pun merupakan turnamen kelompok usia, bukan turnamen utama sepakbola seperti Piala Dunia, Piala Eropa, Piala Asia yang dimainkan oleh para pemain senior. Jalan mereka masih panjang hingga mereka nanti menjadi pemain senior Tim Nasional.

Jika kita hidup di Jerman misalnya, dengan sistem pembinaan pemain sepakbola yang sudah sangat terstruktur rapi dan terencana dengan baik, beban untuk menjadi juara di setiap turnamen, untuk semua Tim Nasional kelompok usia berapapun sangat wajar untuk ditarget menjadi juara. Karena memang mereka sudah memiliki kualitas mumpuni, dan sudah terbukti bahkan Tim Nasional senior mereka menjadi Juara Dunia.

Meskipun juga tidak salah jika kita mengharapkan agar Egy Maulana dkk menjuarai Piala AFF U-18 tahun ini. Karena kemudian akan menjadi sebuah standar yang harus dicapai oleh Tim Nas U-19 selanjutnya, bahwa Piala AFF U-18 adalah trofi wajib yang harus mereka raih. Secara perlahan, mereka yang hari ini menghuni skuad U-19 pada 4-5 tahun lagi sangat mungkin mereka menjadi salah satu pemain inti di skuad Tim Nasional senior sepakbola Indonesia.

Optimisme itu harus tetap terjaga, generasi baru terus lahir. Semoga dengan proses yang sedang berlangsung ini juga diimbangi dengan perubahan Federasi Sepakbola kita menjadi lebih baik, begitu juga dengan konsep Liga Sepakbola Indonesia yang juga harus terus-menerus diperbaiki. Untuk menjadi Juara Dunia, masih sangat panjang proses yang harus kita lalui. Semoga anak-anak U-19 ini berhasil meraih trofi AFF lagi tahun ini. Seperti diungkapkan Coach Indra Sjafri: Semangat menolak menyerah, bangkit sepakbola Indonesia!

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image