Selamat Ulang Tahun Cak Fuad

Hari ini Jum’at 7 Juli 2017, Cak Fuad yang tak lain adalah salah satu Marja’ Maiyah genap memasuki usia 70 tahun. Kita semua tentu dengan rasa cinta dan hormat menghaturkan ucapan: Selamat ulang tahun, Cak Fuad. Semoga Allah senantiasa melimpahkan kesehatan dan keberkahan kepada Cak Fuad, sehingga tetap bisa turut membagikan khasanah ilmu kepada kami semua.

Majelis Ilmu Padhangmbulan Juli 2017, Fuadussab’ah.
Padhangmbulan Juli 2017, Fuadussab’ah.

Besok malam di Padhangmbulan Jombang dalam tajuk Fuadussab’ah, Mbah Nun, KiaiKanjeng, para sesepuh Maiyah, Yai Tohar, Mas Sabrang, dan Kiai Muzammil bersama seluruh jamaah Padhangmbulan dan perwakilan simpul-simpul Jamaah Maiyah Nusantara akan mensyukuri dan mangayubagya ulang tahun Cak Fuad yang ke-70.

Padhangmbulan sebagai tempat bagi ungkapan syukur atas 70 tahun Cak Fuad adalah majelis ilmu yang menjadi saksi akan setia dan istiqamah Cak Fuad selama dua puluh empat tahun hingga kini dalam memberikan penerangan ilmu bagi jamaah dan masyarakat.

Dulu pada tahun-tahun awal Padhangmbulan, brand yang melekat adalah Padhangmbulan sebagai pengajian Tafsir Al-Qur’an Tekstual dan Kontekstual. Secara mudahnya, Cak Fuad diminta Mbah Nun menyampaikan Tafsir Tekstual, sementara Mbah Nun sendiri sebagai sambungan dan perluasan tafsif Cak Fuad tersebut akan menyampaikan Tafsir Kontekstual.

Tetapi perlu diingat bahwa kata tekstual di situ hendaknya tidak dikacaukan dengan istilah tekstualis yang dikontraposisikan dengan istilah substansialis yang pada dekade 90-an pernah dipakai para sarjana Barat dalam memotret dinamika dan ragam jenis pemikiran Islam Indonesia. Di situ tekstualis terasa sebagai istilah yang kurang enak karena bertendensi memilah dan mengkotak-kotakkan.

Sementara, terminologi tekstual yang dimaksud pada Pengajian Padhangmbulan adalah upaya membaca ayat-ayat Al-Qur’an kemudian coba dipahami berdasarkan atau tetap mengacu kepada berbagai macam referensi mulai dari Hadits Nabi, Pendapat para Sahabat, Tabi’in, para ulama klasik maupun kontemporer. Dengan kata lain, terminologi tekstual di situ justru menggambarkan penghormatan dan peletakan diri dalam garis panjang khasanah ilmu Islam yang sebagian besar terhimpun dalam literatur-literatur dan pemikiran para ulama dan cendekiawan Muslim sepanjang sejarah Islam.

Pertanyaan kekiniannya bagi setiap Majelis ilmu adalah apa ijtihad dan kebaruan-kebaruan yang telah dilahirkannya? Adakah sesuatu yang baru yang dilahirkan, dicetuskan, atau ditemukan, yang mungkin itu belum terdapat pemikiran sebelumnya, atau kebaruan itu bersifat memperluas cakrawala dalam memandang banyak soal, dari esensi agama hingga soal-soal historis dalam masyarakat. Ini kita pahami karena setiap era, zaman, dan lingkungan memiliki dinamika dan konteksnya tersendiri.

Pada titik itulah, kita masuk pada terminologi kontekstual. Tafsir Kontekstual. Pada Padhangmbulan, kontekstualitas itu hadir melalui respons dan pemikiran-pemikiran Cak Nun. Sebagai figur yang sejak dini telah integral di dalam dinamika dan problematika masyarakat, Cak Nun memiliki basis empiris dari setiap refleksi dan pandangan yang dilontarkannya. Termasuk di dalam merespons paparan tafsir Cak Fuad, Cak Nun selalu mencari tali relevansi dari ayat ke realitas maupun dari realitas kembali ke ayat. Ini tentu menjadi kekuatan tersendiri yang menyifati pengajian Padhangmbulan. Dengan bobot, kedalaman, dan keluasan ilmu Cak Fuad dan Cak Nun, Padhangmbulan ibarat seekor burung yang terbang lengkap dengan dua sayapnya. Lengkap dan utuh.

Tetapi juga tak boleh dilupakan, bahwa sosok Cak Nun adalah pengembara ilmu yang memiliki sensibilitas atau kepekaan rasa tertentu yang tajam atas bahasa, tak terkecuali Bahasa Arab (apakah itu kata, kalimat, susunan kalimat, nuansa, tekanan, dan lain-lain), yang manakala dikawinkan dengan khasanah Cak Fuad, yang notabene sama-sama kita ketahui sejak kecil berkecimpung dalam dunia Bahasa Arab dan pendidikan Bahasa Arab, mampu melahirkan pandangan, penglihatan, penjangkauan, dan tafsir yang lebih segar, kaya hal-hal baru, dan dengan begitu menolong kita semua dari stagnasi.

Kelengkapan terbang dengan dua sayap tekstual-kontekstual Padhangmbulan inilah yang dari waktu ke waktu melahirkan butir-butir baru maupun konstruksi-konstruksi baru dari sisi perkembangan ilmu maupun jam’iyah, dari tafsir hingga tadabbur. Pendek kata, dua sayap tadi mengantarkan pada langit Maiyah yang sedang kita tapaki saat ini.

Demikianlah, pada momentum kita mensyukuri 70 tahun usia salah satu Marja’ Maiyah yaitu Cak Fuad, kita senantiasa ingat bahwa kita hendaknya mengambil tempat di tengah, sebagaimana Cak Fuad sendiri adalah satu contoh akan pribadi “tengah” itu, sebagaimana Cak Nun sendiri juga guru yang mengingatkan terus kita semua untuk juga berada di tengah: tidak miring, tidak doyong ke kanan atau ke kiri, seimbang, mengayun dinamis dalam aliran dan getaran, dalam melihat dan melakukan apapun.

Sekali lagi, selamat ulang tahun Cak Fuad. Takzim kami semua kepada Marja Maiyah: Mbah Nun, Cak Fuad, dan Syaikh Nursamad Kamba.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image