Sebaiknya Telkom Ikut Mensubjeki Konten Sarana yang Disediakannya

Liputan Singkat Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng Rapim Telkom Indonesia, Yogyakarta 13 Juli 2017

Bersambung setelah acara Halal Bihalal PT. PLN Distribusi Jateng dan DIY di Semarang, Cak Nun dan KiaiKanjeng kembali ke Jogja untuk memenuhi undangan acara Telkom Indonesia. Sudah sekian kali dalam beberapa tahun terakhir ini Telkom Indonesia sendiri menghadirkan Cak Nun dan KiaiKanjeng dalam sejumlah acara internalnya. Termasuk kemarin (13/7) yaitu Rapat Pimpinan SDM Telkom Group bertempat di Ballroom Hotel Tentrem Yogyakarta pukul 13.00 hingga 17.00 WIB. Rapim ini bertajuk “Contribute Significantly: On Securing Tripple Double Digit Growth 2017” dan diikuti oleh sekitar 150 orang kepala SDM Telkom Group yang rentang usia mereka 25-50 tahun.

Jangan hanya menjadi sarananya saja, tapi ikutlah mensubjeki isinya. Foto: Adin.
Telkom sebaiknya tidak hanya menjadi sarananya saja, tapi ikut mensubjeki isinya. Foto: Adin.

Mereka ingin ngalap berkah ilmu dan wawasan dari Cak Nun khususnya diperuntukkan bagi para lapisan staf Telkom yang akan menggantikan posisi senior mereka yang segera akan memasuki masa pensiun. Dan di antara sekian banyak pandangan yang disampaikan Cak Nun, ada satu yang kiranya cukup penting. Bahwa Telkom Indonesia yang selama ini salah satu core bisnisnya adalah menyediakan sarana dan layanan IT, selain telekomunikasi, sebaiknya tak hanya menyediakan sarana itu, tetapi juga sekian persen ikut mengisi konten pada sarana yang disediakannya itu.

Saran itu disampaikan Cak Nun sesudah Beliau mengajak para pimpinan SDM Telkom itu untuk merasakan bahwa di luar apa-apa yang menjadi concern dan target-target Telkom, yang sedang berlangsung di Indonesia maupun di dunia ini jangan-jangan adalah kesembronoan ilmu dan ketidaktepatan pengetahuan, sehingga umpamanya kok bisa-bisanya Pancasila dipertentangkan dengan Islam. Itu sebabnya, mereka juga diwanti-wanti Cak Nun untuk jangan gampang bertengkar karena brand atau display-display. Dalam situasi Indonesia dan dunia yang banyak mengalami ketidaktepatan itu, sebaiknya ada divisi Telkom yang ikut serta mengisi konten. “Jangan hanya menjadi sarananya saja, tapi ikutlah mensubjeki isinya,” pesan Cak Nun.

Pesan Cak Nun ini erat kaitannya dengan pembacaan Beliau atas masalah yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini yaitu komunikasi. Pertengkaran antar kelompok atau pihak yang diliputi bias-bias  dan ketidakutuhan informasi ini disebabkan tidak adanya proses komunikasi yang baik. Tak ada pesan memadai yang sampai kepada berbagai lintas pihak dalam masyarakat sehingga salah paham akan terus mengintai. Pada konteks inilah divisi yang ikut mengisi konten tadi memiliki kontribusinya. “Dengan begitu Telkom punya fungsi kemanusiaan dan kemaslahatan,” harap Cak Nun.

Selebihnya dalam hal informasi dan komunikasi ini, Cak Nun mengingatkan bahwa yang sekarang berlangsung adalah kompetisi kecepatan (speed competition), tetapi yang sekarang tak kalah dibutuhkan adalah antisipasi. Sebab kecepatan atau speed kalah oleh momentum atau ajal. Cak Nun mengajak para pimpinan SDM Telkom ini untuk betul-betul memahami peta telekomunikasi dunia dan memahami bagaimana bunyi hati manusia, lalu di antara keduanya itu carilah momentum. Momentum adalah trigger. “Kalau bisa kita tidak merupakan yang dikenai akibat dari momentum-momentum, melainkan kita yang menciptakan momentum-momentum yang baik,” ujar Cak Nun.

Acara memasuki penghujungnya pada pukul 16.30 sesudah para peserta Rapim ini dibawa pula menikmati fenomenologi musik KiaiKanjeng dalam sejumlah nomor dari “yang tidak jelas” hingga yang ada kaitannya dengan ilmu komunikasi dan telekomunikasi. Termasuk Direktur Human Capital Management (HCM) Telkom Herdy Harman yang merupakan pucuk pimpinan para peserta Rapim ini ikut melantunkan lagu Sebelum Cahaya-nya Letto. Sampai usai acara, sejumlah pimpinan SDM Telkom ini masih terlibat berdiskusi dengan Cak Nun. (Helmi Mustofa)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image