Satrio Ngeléhan Nyepelekke Wahyu

Mengikuti Maiyahan itu seperti dibukakan mata batinnya. Efeknya seakan-akan bisa melihat sesuatu yang mengerikan. Lebih mengerikan dari hantu yang paling buruk rupa. Mungkin juga lebih mengerikan dari sesuatu yang paling mengerikan yang pernah dibayangkan manusia. Sesuatu yang mengerikan tersebut adalah keadaan zaman yang permasalahannya sulit dirumuskan. Terutama keadaan di Indonesia tercinta kita ini.

Namun, lantas tidak membuat para JM menjadi ketakutan setelah mata batinnya terbuka. Selain dibukakan mata batinnya, di Maiyahan JM bersama-sama belajar untuk siap melihat dan menghadapi berbagai hal yang mengerikan tersebut.

Mungkin, yang berada di luar lingkar Maiyah akan menganggap keadaan baik-baik saja. Bahkan dianggap lebih maju dari sebelumnya. Makan sudah tidak kekurangan, jalan-jalan di pedesaan diperbaharui, jalan tol, jembatan-jembatan, fly over, kota baru surga para pecinta dunia dibangun, teknologi informasi semakin canggih. Demokrasi sudah berhasil. Pemimpinnya adalah yang paling mewakili rakyat kecil. Dimanakah permasalahannya?

Namun, saya sebagai JM dan mungkin juga JM-JM yang lain menjadikan informasi dari Allah sebagai pijakan utama. Bukan informasi rekaan manusia. Allah berkali-kali mengingatkan bahwa dahulu pernah ada kaum yang mencapai pembangunan fisik melebihi sekarang, bahkan tidak bisa dicapai oleh manusia di zaman sekarang tetapi kaum-kaum tersebut diadzab, dilenyapkan dari kehidupan dengan cara yang menyakitkan.

Di luar Maiyah, informasi tersebut menjadi sedikit perhatian saja tidak. Paling maksimal hanya berakhir di monolog-monolog para “Ustadz” di masjid-masjid. Manusia tidak begitu mengenal Allah, apalagi takut serta akrab dengan-Nya. Maka, tidak peduli mau rakyat didzalimi, dirugikan, dicuri hartanya, direndahkan martabatnya, dipecah belah, membangun kota surga dunia untuk kepentingan para pecinta dunia tetap jalan. Justru manusia malah ingin membuktikan apakah peringatan itu memang benar atau tidak, maka manusia berbondong-bondong menuju pencapaian yang sudah pernah dicapai para kaum yang diadzab tersebut.

Rasanya sulit membayangkan ada orang yang disebut sebagai wakil rakyat kerjanya benar. Membayangkan tidak ada oknum PNS yang memanipulasi berkas supaya tunjangan keluar saja susah. Orang-orang yang diamanati sebagai pelayan rakyat seakan-akan telah bersepakat untuk saling membohongi satu sama lain. Yang penting gaji bulanan lancar, tunjangan lancar, juga bonus plus-plus gresek-gresek di tengah jalan pun lancar. Itu semua dilakukan karena apa lagi kalau bukan karena (sekurang-kurangnya) nge-fans kepada Qorun. Atau karena (selebih-lebihnya) nge-fans kepada Fir’aun.

Setelah saya membaca reportase Kenduri Cinta bulan ini di caknun.com yang tema utamanya tentang kepemimpinan, rasa-rasanya kok suri tauladan yang terbaik tentang kepemimpinan benar-benar sangat sulit ditemukan di zaman ini. Semua referensi-referensi tentang kepemimpinan diabaikan. Bahkan referensi terbaik yang langsung diutarakan Allah pun diabaikan. Kalau dalam khazanah Jawa memberikan kriteria pemimpin satrio pinandhito sinisihan wahyu, bagi orang zaman sekarang tidak berlaku. Yang berlaku adalah satrio ngeléhan nyepelekke wahyu.

Dan saya semakin bingung sebenarnya cara berpikir manusia di zaman ini itu bagaimana, kok absurdnya melebihi batas kewajaran. Diajak selamat sama Yang Maha Memberi kok tidak mau.

Mengikuti Maiyahan itu seperti dibukakan mata batinnya. Efeknya seakan-akan bisa melihat sesuatu yang mengerikan. Lebih mengerikan dari hantu yang paling…