SAR DIY Menggapai Mata Air Susu Taqwa

Reportase Harlah dan Apel Kesiapsiagaan SAR DIY

Nama Brotoseno pada dekade 80-an adalah nama pendekar kawakan yang malang melintang dalam dunia pergerakan. Lulusan sarjana seni ini kerap menghiasi pemberitaan media, foto-fotonya dalam berbagai aksi memprotes bentuk-bentuk penindasan selalu muncul di majalah dan koran-koran. Aktivis sangar.

Namun belakangan, Ndan BS (nama akrab beliau) lebih banyak terlibat aksi-aksi yang lebih nyata dalam menyelamatkan korban bencana. Sampai saat ini beliau adalah komandan SAR DIY. Ndan BS telah lama berhijrah menanggalkan aristokrasi, gelimang nama besarnya dalam pergerakan dan terjun langsung menerjang badai, api, air, lahar. Dep-depan dengan alam tanpa mendurhakai alam, rupanya jauh lebih menantang baginya dibandingkan terus-terusan di wilayah pergerakan dengan watak manusia yang membosankan.

Dunia aktivisme negeri ini sendiri, bisa dibilang belum berhijrah, mandek sejak era 90-an. Taktik strategi pergerakan secara umum masih begitu-begitu saja; mengandalkan antagonisme, heroisme dan pemartiran, melulu pergulatan wacana dlsb. Tidak semua tentu saja, tapi rasanya kok banyaknya begitu.

Minggu, 10 Desember 2017. Balai Desa Sumbersari, Moyudan, Sleman. Riuh rendah. Beberapa tenda militer berdiri dalam kompleks Balai Desa. Menjadi seperti bangunan tambahan. Orang-orang dengan seragam orange, sangar-sangar. Mereka berdiri semakin dekat dan mengelilingi Mbah Nun.

Mereka meminta Mbah Nun untuk segra melepas pakaian. Menuntut bahkan! Dan mesti di tempat itu, saat itu juga!

Mbah Nun yang tiba di lokasi pada pukul 19.30 menanggalkan kaos kerah berwarna orange yang dikenakannya, menyisakan kaos oblong putih.

Memang berbagai rupa ujud cinta. Beragam wajahnya. Begitulah rupanya cara para anggota SAR DIY menunjukkan ketakdhiman dan penghormatan mereka pada Mbah Nun. Tak perlu lama-lama Mbah Nun sekadar beroblong ria, segera saja disematkan pada Mbah Nun seragam SAR berlengan panjang, sepatu lapangan dan topi. Ndan BS juga memberikan kartu anggota SAR, yang berlaku seumur hidup namun kepada Mbah Nun diberikan dua kartu. Ndan BS menciumi tangan Mbah Nun.

“Wallahi, demi Tuhanku dan demi Rosulullah. Dalam dunia seluas ini, pada bulatan bumi ini dengan berjuta-juta, bermiliiar-miliar manusia di dalamnya ini. Cuma Cak Nun yang tangannya saya ciumi”, ungkap Brotoseno dengan semangatnya.

Kaos yang bekas dipakai Mbah Nun dicangking terus oleh Ndan BS, mungkin untuk kenang-kenangan. Puluhan pasang mata memang sejak tadi sudah bernafsu mengincar kaos itu, dan saat Ndan BS lengah seorang anggota SAR berlari maju merebut kaos itu. Ndan BS kagol. Tawa-tawa membahana. Memang rupa-rupa wajah cinta itu.

“Tidak ada kasar atau halus, cuma pas pada tempatnya atau tidak. Brotoseno nek alus koq ora pantes” ujar Mbah Nun. Tawa-tawa pecah, ledek-ledekan antar anggota, juga dari dan kepada komandan mereka sendiri kerap terlontar.

Ada liar, nakal, brutal (cukup, jangan dilanjut jadi nyanyian) dan agak bar-bar sedikit malam itu, tapi tak mengapa begitu itu juga cinta.

Positioning Do, Koordinat Maqom

Siapakah tim SAR DIY ini? Mereka adalah relawan yang benar-benar rela hati mengabdikan diri pada sesama manusia saat dibutuhkan. Utamanya saat terjadi bencana. Seharian tadi sejak siang sebenarnya adalah kegiatan simulasi bencana, pelatihan kesiagaan yang tentu melelahkan. Padahal baru seminggu lalu mereka juga terjun, menari bersama Dahlia dan Cempaka. Dua nama ini bukan nama samaran, tapi penamaan pada fenomena badai yang menerjang Yogya, Bantul khususnya.

Namun mungkin kesan kata “relawan” telah bergeser sejak kata tersebut lebih banyak dipopulerkan oleh media massa sebagai gerakan simpatisan politik. Kata “relawan” menjadi senada sumbang dengan kata “parpol” bahkan lebih buruk sekarang. Sepanjang sejarah peradaban, rasanya kita memang sedang pada titik terendah dalam pemahaman politik.

Mungkin karena kesalahkaprahan itu, mungkin juga karena hal lain. Sehingga seorang pejabat di daerah Bantul yang bertanggung jawab dalam penanganan bencana sempat melontarkan pernyataan yang menyulut bara pada hati para relawan sejati SAR DIY ini. Konon bapak pejabat mengeluhkan tidak adanya ‘relawan’ yang turun dalam penanganan Dahlia dan Cempaka. Tidak dibayar, tidak dihargai mungkin biasa bagi para anggota SAR DIY ini, tapi dilecehkan tentu soal lain. Sudah tercetus rencana untuk segra menggeruduk rumah pejabat yang bersangkutan, walau pernyataan resmi via media massa dan sms pribadi ke Ndan BS telah dilayangkan.

“Saya bisa memahami seandainya anda berangkat demo, saya juga bisa memahami kalau anda tidak jadi demo. Persoalannya bukan demo atau tidak, tapi gimana sikap dan pemahaman anda pada persoalan itu dulu yang penting”, ujar Mbah Nun.

Momen malam ini juga adalah perayaan satu tahun Dissaster Response Unit SAR DIY, di panggung tercantum besar tulisan “Gigih Gagah dan Berani” dan pengajian bersama Mbah Nun adalah puncak acaranya. Momentum ini pula oleh Mbah Nun dipakai untuk mengajak para anggota SAR DIY untuk naik kelas, menjangkau cakrawala ketaqwaan.

Tidak hanya TIM SAR saja, tapi juga seluruh warga yang hadir. Acara ini memang tidak diumumkan besar-besaran, walau begitu semakin lama semakin penuh jugalah lokasi Balai Desa Sumber Sari ini. Dari awalnya hanya separuh pendopo Balai Desa, hingga kemudian pendopo penuh sampai ke halaman.

Anggota Tim SAR DIY sudah menjangkau maqom manusia mulia menurut Mbah Nun dengan dicontohkan dalam term zakat dan shadaqah. Zakat, orang memberi karena memang wajib, sedang dalam shadaqah ada pelibatan inisiatif manusia. Dan semulia-mulianya shadaqah bukanlah karena manusia sekadar berniat memberi tapi ketika memang ada pihak lain yang butuh. SAR DIY sedang pada koordinat maqom ini.

Tapi, walau sudah mulia Mbah Nun tetap memberi tawaran agar anggota tim SAR DIY mau terus naik kelas menuju taqwa. Mau mengevakuasi diri.

Maka lebih dulu positioning dasar perlu dimengerti. Terminologi Do sebagai dasar nada dipakai. Do bisa berada pada Re dalam tangga nada lain (naikkan satu nada Do, maka Re dst akan ikut naik). Namun Do hanya akan jadi Do bila ada Re dan seterusnya. Kemudian bersama-sama, perlahan Mbah Nun membawa pada semesta bener, pener, apik hingga mulia, kemudian memuncak pada taqwa.

“NKRI tidak bisa mengerti ini, di Indonesia tidak ada makar, radikal, intoleran, liberal dlsb. Hanya yang ada, sesuatu yang tidak pada tempatnya”, pesan Mbah Nun.

Kemerdekaan Ibu-ibu Mengasah Pikiran, SAR DIY Sang Ahli Taqwa

Mbah Nun sesekali, bahkan sering, melontarkan pertanyaan yang memancing para jamaah untuk berpikir. “Sholat subuh wajib apa tidak? Coba tunjukkan wajibnya sekarang”.

Mendadak ibu-ibu seperti membentuk klub diskusi, seperti FGD dadakan yang seru, ceriwis khas ibu-ibu dan olah pikir mereka aktif.

“wajib no, ono ayate koq” 
“ngerti po kowe?”
“Eh mbuh ding”

Ini jauh berbeda dari kebanyakan ibu-ibu di pengajian umumnya yang sekadar datang, ngerumpi, setor kuping pokoknya ketika penceramah berkata “nggih nopo nggih?”  jawab serempak “Ngiiih” sambil setengah tertidur.

Simulasi bencana sudah diadakan seharian tadi oleh tim SAR DIY, malam ini giliran pikiran yang disimulasikan. Bukan jawaban apa yang nanti ditemukan yang penting, tapi tradisi mengasah pikiran itu, proses.

“Sholat subuh ya wajib, pada waktu yang tepat. Kalau malam seperti ini sholat subuh tidak wajib, malah bisa jadi haram”, urai Mbah Nun.

Mbah Nun mengajak jamaah untuk melihat bahwa segala sesuatu ada panggonane, ada kesempurnaan pada posisinya, ada maqomnya yang tepat. Orang tua membelikan motor anaknya tentu niatnya baik. Tapi ketika diberikan dan dibiarkan pada anak yang belum cukup usia berkendara, tentu sangat tidak baik.

Betapa mulianya perempuan yang melahirkan dan menyusui, namun betapa hinanya perempuan yang memilih untuk mengalengkan anak-anaknya. Maksudnya, memberikan susu kaleng pada usia ASI. Positioning kesempurnaan seorang ibu, ya pada melahirkan dan menyusui.

Banyak pilahan-pilahan persoalan yang butuh ketaqwaan. Selama ini, taqwa selalu diartikan sebagai rasa takut. Mbah Nun menawarkan pengartian bahwa taqwa sesungguhnya adalah kewaspadaan.

Eling lan waspodo, eling adalah jembatan menuju waspada. Tim SAR DIY tentu adalah manusia-manusia yang sangat mengerti arti pentingnya kewaspadaan. Ketika terjun ke daerah-daerah bencana misalnya, mereka tidak punya pilihan untuk tidak waspada. Itu juga adalah bentuk taqwa. Mereka sudah ahli taqwa.

Maka eman rasanya, bila tidak diajak untuk terus-menerus berusaha memuncaki cakrawala taqwa. Mengenali dengan presisi titik koordinat maqom diri, kemudian menapaki tangga-tangga nada Do yang baru, lagi dan lagi. Setiap saat.

Manusia-manusia SAR DIY sudah mampu mengolah sesuatu yang dianggap oleh orang lain sebagai bencana menjadi kebaikan. Mbah Nun mengajak mereka untuk tidak lupa juga mengevakuasi batin, hijrah pada koordinat-koordinat ketakwaan yang lebih tinggi.

SELAMAT ULANG TAHUN DISASTER RESPONSE UNIT SAR DIY. GIGIH, GAGAH DAN BERANI! (MZ Fadil)

Nama Brotoseno pada dekade 80-an adalah nama pendekar kawakan yang malang melintang dalam dunia pergerakan. Lulusan sarjana seni ini kerap menghiasi pemberitaan media, foto-fotonya dalam berbagai aksi memprotes bentuk-bentuk penindasan selalu muncul di majalah dan koran-koran. Aktivis sangar. Namun…