Sang Penyapa yang Mbeber Kloso

Rata-rata penulis memiliki pangsa pasar pembaca yang cukup jelas. Tentu maksudnya di sini produk tulisan si penulis. Rata-rata pembicara memiliki khalayak pendengar dari strata sosial yang juga mudah diklasifikasi. Kita bisa sedikit bereksperimen.

Ambil satu penulis yang menurut Anda prestasinya paling gemilang di negeri ini dengan penghargaan berderet-deret, bestseller dlsb. Anda coba ke pasar, temukan ibu-ibu penjual yang sedang sibuk eyel-eyelan harga sama pelanggannya. Nah coba tanyakan nama penulis yang prestasinya mentereng dengan berbagai penghargaan nasional maupun internasional, atau tanyakan sekalian penulis peraih penghargaan Nobel deh. Tidak perlu sampai ngerti karyanya, cukup tau namanya saja. Bagaimana kira-kira jawaban si ibu penjual? Saya sangat yakin ibu itu tidak memberi Anda jawaban apa-apa, kenapa? Kan dia lagi eyel-eyelan harga sama pelanggannya. Huft.

Maaf tadi saya kurang serius, tapi saya rasa pembaca yang budiman cukup mengerti apa yang ingin saya sampaikan. Intinya, dunia kepenulisan kita seperti dunia kahyangan sendiri. Kita sibuk merayakannya, berbangga-bangga dengan hasilnya, merasa melakukan pembelaan, membuat lelucon-lelucon wagu, mengutip kalimat-kalimat para bijak bestari,  protes dan gugatan yang putus asa atau apalah tapi di sekitar kita dunia berjalan biasa saja. Ndak ngaruh apa-apa. Jadi kita nulis untuk apa? Untuk siapa?

Namun sering agak berbeda bila yang dibahas adalah sosok Emha Ainun Najib, Mbah Nun, Cak Nun. Peta pangsa pasar pembacanya—bila kita perlu sekali untuk mengkotakkan Beliau sebagai penulis—sangat ‘tidak jelas’ seolah hampir semua lapisan masyarakat tersentuh.

Dari pedagang-pedagang pasar (tolong hindari ibu yang tadi kita tanya pas lagi eyel-eyelan harga, dia tampak kurang berkenan), tukang becak perhotelan mewah, akademisi kebatinan dan perdukunan, aktivis-aktivis pendekar wannabe, sastrawan pengolah kata, seniman-seniman gila yang tak pernah jadi legenda, pegiat teknologi, santri, kiai, pejabat, rektor univesitas atau apa aja hampir semua akan menjawab “Oh Cak Nun! Iya tau.”

Katakanlah yang saya tulis di atas adalah asumsi saya sendiri, tapi tiada asap bila tak ada api.

Seorang penjual angkringan tanpa smartphone, setiap hari menyisihkan hasil jualannya, meminta orang untuk memprintkan tulisan DAUR untuk dibaca sambil jaga angkingan dan digilir baca oleh orang-orang di angkringan tersebut, saya mendengar cerita itu dari si penjual angkringan sendiri.

Seorang wanita, di usia keemasan dan karier sebagai petinggi personalia di sebuah wahana wisata yang mungkin terbesar di kota ini, memborong semua buku yang ada tulisan Emha Ainun Najib di sampulnya pada sebuah toko buku. Saat saya tanya kenapa, dia bilang “saya iseng ambil satu bukunya, saya buka-buka, belum saya baca betul tapi saya ngerasa ada Semar, ada Bagong, Gareng, Petruk. Seperti saya melihat di balik tulisan yang belum saya baca itu ada tokoh-tokoh yang dulu didongengkan oleh Mbah saya dan saya merasa disapa” saya rasa dia hanya ingin bilang, ada nuansa pedesaan yang dulu dia rindukan, Jawa, Nusantara. Kelas menengah kita, memang kebanyakan tidak pernah berasal jauh dari desa.

Yang menyapa

Ada tulisan-tulisan yang bersifat informatif, ada yang mengolah estetika keindahan. Ada yang mencoba menggabungkan keduanya dengan dosis kemungkinan persentase bisa bermacam-macam, tak sulit menjumpai hal seperti ini.

Semoga saya tidak sedang membakukan rumusan mengenai seperti apa jenis tulisan Mbah Nun, karena kalaupun mau saya toh belum tentu bisa juga melakukannya.

Tulisan macam apapun bisa kita temukan di internet sekarang ini, dari yang paling otentik hingga yang paling niru-niru dari yang paling serius sampai yang paling ndak lucu. Dari yang “menurut Al Qur’an dan al Hadits…” sampai yang  “menurut laporan intelijen…” namun semuanya, sudah. Belalu begitu saja. Angin lalu.

Karena rasanya bukan itu yang utama dibutuhkan manusia-manusia pascamodern. Kebutuhan hidup terus menderu, rutinitas melelahkan, tata nilai tak jelas dan sosok pamomong tak ada. Manusia merindukan sapaan.

Mbah Nun mungkin manusia desa yang tentu terbiasa dengan tegur sapa. Banyak penulis kita yang juga dari desa, tapi tidak semua bahkan jarang sekali yang menggunakan kekuatan sapaan wong ndeso seperti ini. Selain Mbah Nun saya hanya bisa menemukan pada sosok dan karya-karya Romo Mangun dan Umar Kayam. Selebihnya maaf, lebih ke citarasa Nobel, selera saya pribadi tidak di situ.

Skill Gelar Kloso

Ada lagu dolanan bocah itu “e dayohe teko, e gelarno kloso, e klosone bedah… dst dst”. Awalnya saya hanya mengira ini adalah simbol dari loncatan-loncatan logika manusia Nusantara. Loncatan logika yang tampaknya teratur di awal namun makin ke belakang makin ndak nyambung, awalnya saya mengira begitu tapi rasanya tidak terlalu salah juga.

Di warteg-warteg, di angkringan, di warkop-warkop kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk ngobol yang bila dirunut tema obrolan dari awal hingga akhir biasanya tidak begitu nyambung seperti digambarkan “Dayohe teko…” berakhir dengan “guwangen pinggir…” dalam lagu dolanan tersebut.

Awalnya, saya berkesimpulan begitulah juga sitem penulisan Mbah Nun, tidak terstruktur dengan bangunan logika kokoh dinding Eropa, tapi antar satu pragraf dengan pragraf lain, satu tema dengan tema lain dipertautkan oleh rasa nuansa. Seperti menyaksikan seorang pendekar yang melenting dari satu dahan ke dahan lain di tengah rimba untuk begitu sampai ke padang sabana, dia memecah diri dalam sunyi menjadi ribuan angle.

Sekali lagi, awalnya saya mengira begitu namun rupanya saya tidak begitu salah juga. Maksudnya, saya boleh GR bahwa pembacaan semacam itu tepat untuk meresapi misalnya, DAUR edisi pertama. Namun begitu masuk DAUR edisi II, saya melihat style jurus yang totally different. Pada DAUR edisi kedua, Mbah Nun justru menunjukkan tulisan-yang strukturnya rapih, tulisannya dibingkai ornamen antik dan latar belakang gelap. Benar-benar berbeda dari DAUR yang pertama.

Rupanya, bisa juga kita mengartikan bahwa ‘kloso’ itulah cara berkomunikasinya. Menggelar kloso adalah cara orang desa, tamu yang datang digelarin kloso, diajak duduk, berbasa-basi dulu. Bagi kaum rasional penuh kemampatan waktu hidup, basa-basi adalah terbuangnya waktu tapi bagi orang desa basa-basi sangat penting bahkan bisa lebih penting dari tema utama karena di sinilah terbangun nuansa.

Menggelar kloso bisa kita artikan macam-macam, salah satunya mungkin adalah menggelar konteks. Era socmed ini, banyak kata-kata yang lepas dari konteks, sehingga tak jarang kalimat-kalimat sepele mengakibatkan pertengkaran tak henti-hentinya.

Saya sedang berada di sebuah bar untuk menonton konser akustik band metal favorit saya yang mereka sudah lama sekali tidak menggung di kota ini. Sambil menunggu band utama tampil teman saya bertanya, “kenapa Cak Nun selalu aman-aman saja untuk berkata apa saja?” Saya bertanya maksudnya bagaimana. “Aman, dia seperti bisa membicarakan hal apapun dan orang tidak terpancing untuk marah sama dia.”

Betul juga, banyak kisah mengenai hal seperti ini. Beliau misalnya bisa ‘menghujat’ lambang negara di hadapan seorang menteri paling galak dalam rezim yang suka paranoid mau dimakar ini dan si menteri malah ikut terbahak-bahak. Beliau pernah akan ditangkap bersama nama-nama lain yang dianggap berbahaya pada masanya, tapi tidak bisa ditemukan karena Beliau sedang ngopi dan ngerokok di kantor menteri yang mensahkan perintah penangkapan tanpa Beliau dan pak menteri tahu bahwa hari itu harusnya ada operasi penangkapan atas dirinya.

***

Rasanya sudah tidak ada lagi di zaman ini tulisan yang benar-benar menghargai kita sebagai manusia, kita tidak disapa selayaknya manusia tapi cuma dianggap sebagai objek, pembaca yang harus diberi tahu, diberi informasi, si massa yang mesti diajak ikut ke ideologi ini-itu.

Rasanya juga sudah tidak ada lagi di zaman ini yang memiliki kerendahan hati untuk gelarin kloso, mengajak duduk bersama, mendengarkan dengan saksama permasalahan  dan mencari solusi atas persoalan-persoalan. Kita sebenarnya tidak begitu butuh solusinya ditemukan, kita hanya butuh dicarikan, karena dengan begitu kita bisa sekali lagi sedikit merasa jadi manusia.

Kita benar-benar butuh merasa menjadi manusia, sehingga kita meyakin-yakinkan diri dengan cara membinatang-binatangkan atau mensetan-setankan pihak lain. Kita benar-benar butuh interaksi yang wajar, sehingga kita mencari-cari pertengkaran sesama kita karena setidaknya dengan begitu kita tetap berinteraksi.

Di tengah itu semua, tulisan Mbah Nun menjaga kita tetap menjadi manusia.

Matur nuwun lan sugeng tanggap warsa Mbah Nun, dari kami yang masih butuh dan selalu merindukan sapaan-sapaan hangatmu .

Sabtu, 27 Mei 2017 M/ 1 Ramadhan 1438 H