Sandal Berlumpur Berkah

Medan lokasi acara semalam di Bukit Jamur Kecamatan Bungah Gresik bukanlah medan yang mudah. Tempatnya terpencil. Tinggi karena merupakan pegunungan kapur dengan batu-batu besar memenuhi tanah. Kalau hujan turun bisa dipastikan akan menimbulkan keadaan yang sulit dan mungkin juga bahaya.

Jamaah berjalan kaki melewati medan yang sulit akibat hujan menuju lokasi yang jauh dari pemukiman penduduk. Foto: Hariadi.
Jamaah berjalan kaki melewati medan yang sulit akibat hujan menuju lokasi yang jauh dari pemukiman penduduk. Foto: Hariadi.

Dan itulah yang terjadi sebelum acara Sinau Bareng dalam rangka soft launching wisata baru bernama Bukit Jamur ini. Hujan badai dengan angin kencang mengguyur. Apakah acara akan dibatalkan? Tidak. Yang pasti semua pihak berupaya mengatasi situasi. Dari tim teknis sound dan panggung hingga KiaiKanjeng sendiri.

Mas Imam Fatawi KiaiKanjeng menceritakan, “Semalam saya merasa takjub. Saat usai cek sound, mulai gerimis dan debu beterbangan. Saya dan kawan-kawan masuk bis guna ganti kostum, dan kemudian nggak berani keluar lagi karena debu tampak makin tebal. Akhirnya bus naik ke atas, menjauh dari sekitaran panggung. Hati saya rada-rada ngeri kok seperti evakuasi bencana. Dan setelah berhenti agak lama di atas, saya mengira acara akan batal, karena lokasi menjelma penuh lumpur. Tapi ternyata acara tetap jalan. Bagi saya pribadi ini merupakan akibat letupan ketangguhan luar biasa dari kawan-kawan.”

Perjuangan Teknis yang Tak Mudah

Situasi hujan badai itu memaksa kru alat musik dan sound bekerja keras dua kali lipat. Seperti biasa penataan alat sudah selesai dan siap semua. Kemudian KiaiKanjeng pun telah selesai proses sound check. Tahu-tahu setelah itu angin kencang menerpa, debu-debu bertebangan, dan gerimis lebat mulai datang.

Area maiyahan yang menjadi lumpur setelah hujai badai. Foto: Hariadi.
Area maiyahan yang menjadi lumpur setelah hujai badai. Foto: Hariadi.

Menghadapi situasi ini, semua yang terlibat dalam urusan teknis sound dan alat musik harus berunding. Disepakati alat-alat musik elektrik harus dikukuti (dimasukkan lagi). Dan saat gerimis itu, diputuskan pula alat-alat nonelektrtik harus dimasukkan ke mobil Hilux KiaiKanjeng. Tapi air makin deras menumpah. Alat-alat nonelektrik pun tak cukup waktu untuk dievakuasi ke mobil. Sound dan lampu harus dimatikan. Lalu tak ada pilihan lain. Panggung harus ditutupi. Untung tersedia terpal yang cukup besar. Akhirnya semua bekerja melindungi panggung dengan terpal ini. Salutnya lagi, teman-teman jamaah yang sudah ada di lokasi ikut membantu proses ini.

Hujan lebat ini praktis menyebabkan gangguan pada lighting karena instalasi sound yang terkena air hujan. Situasi hujan ini mungkin berlangsung lebih dari setengah jam. “Sebenarnya, melihat kondisi itu para kru sound dan lighting wis do nglokro, Mas, tapi kita harus siap recovery pelan-pelan,” ujar Bekti Sound Crew KiaiKanjeng menceritakan.

Sampai akhirnya hujan reda. Terpal mulai disingkapkan lagi. Lalu koordinasi dengan tim lighting agar supaya lampu segera nyala. Ternyata hanya lampu statis yang berani dinyalakan. Lampu aksesoris, moving lamp, dan PAR light tidak berani dinyalakan karena masih berisiko.

Sesudah lampu statis nyala, kru sound dan alat mulai mengidentifikasi dan memetakan situasi. Rupanya ada instalasi perkabelan yang tercelup air. Dan itu harus dibenahi agak lama, dan selama perkembangan ini ternyata sound mixer FOH juga tidak berani dinyalakan. Sementara proses setting ulang harus segera dimulai. Yang biasanya mixer dua yaitu di panggung dan di audiens, malam ini hanya satu saja yang dioperasionalkan, yaitu yang ada di panggung. Untuk memantau balancing audio, terpaksa dimonitor manual lewat HT dengan menyebar beberapa orang di area audiens. Pelan-pelan sound dan alat siap untuk berlangsungnya Sinau Bareng ini. Sebuah proses recovery yang membutuhkan semangat membaja dari para tim teknis.

Meski jauh dari pemukiman dan tanah berlumpur karena hujan badai, jamaah Maiyah tetap datang dan duduk menyimak. Foto: Hariadi.
Meski jauh dari pemukiman dan tanah berlumpur karena hujan badai, jamaah Maiyah tetap datang dan duduk menyimak. Foto: Hariadi.

Militansi Jamaah

Kembali ke cerita Mas Imam. Tak hanya tim teknis, para jamaah dan hadirin juga sangat militan. Mereka rupanya memang benar-benar berniat mencari ilmu dan tak ingin melewatkan kesempatan bertemu Cak Nun dan KiaiKanjeng. Meski situasi hujan lebat dan medan sulit, mereka tetap berduyun-duyun datang. Dan ini, bagi Mas Imam Fatawi juga tak disangka sampai sejauh itu militansi mereka. “Saat mengungsi di atas, kami hampir nggak jadi ketemu briefing sama Cak Nun yang sedang di atas juga tapi terpisah dengan kami. Setelah beberapa menit, oleh panitia mulai dipersilakan. Pas ketemu Cak Nun untuk briefing sejenak, kami dapat laporan bahwa ternyata jamaah sudah menunggu. Mereka semua pada duduk di atas lumpur. Saya tak mengira. Saya kira masih sepi. Apalagi ini lokasi jauh dari keramaian penduduk.”

Akhirnya acara pun dimulai. Mbah Nun dan KiaiKanjeng hadir di tengah-tengah hati mereka. Bletokan lumpur tak jadi soal bagi mereka. Bahkan sembari menyimak uraian Mbah Nun serta menikmati musik KiaiKanjeng, ada saja tangan-tangan kreatif jamaah bekerja. Lumpur itu dijamahnya, di-mek-mek, lalu dibentuk sedemikian rupa menjadi asbak rokok. Ada juga yang bikin dalam bentuk bonang, seperti bonangnya KiaiKanjeng. Tentang asbak rokok dan bonang lumpur itu Mas Imam Fatawi lihat dari beberapa posting FB jamaah.

Ada satu lagi, tapi agak konyol, yang diceritakan Mas Imam Fatawi. Lebih tepatnya, konyolnya Mas Imam sendiri sih hehe. Saat salaman usai acara, Mas Imam melihat ada seorang jamaah yang salamannya dengan Mbah Nun cukup lama sampai akhirnya dibetot agak keras oleh Cak Lutfi untuk memberi kesempatan yang di belakangnya. “Kemudian orang itu lepas terus jalan. Tampak jalannya pincang.  Detik itu saya merasa Cak Lutfi kok tega amat sama orang yang, maaf, cacat. Kok sampai setengah digetak. Tapi kemudian saya lihat yang lain kok gestur dan cara jalannya sama semua. Tampak pincang. Oh my God, ternyata efek bletokan lumpur. Saya baru sadar. Terlihat jamaah benar-benar pada tertatih-tatih jalannya seperti di sawah pada musim tandur pari,” cerita Mas Imam.

Antri salaman di atas tanah lumpur. Foto: Hariadi.
Antri salaman di atas tanah lumpur. Foto: Hariadi.

Dalam perjalanan pulang ke Jogja, Mas Imam Fatawi masih speechless mengingat acara tadi malam, dari kondisi lokasi hingga yang terpenting adalah kesungguhan dan militansi jamaah dalam mengikuti acara Sinau Bareng ini. Mereka berjuang untuk itu, tapi mereka juga menikmati serta bersyukur. Masih terbayang dalam benak Mas Imam sandal-sandal di depan panggung yang pating ndlesep di dalam lumpur. Sandal-sandal bukan sembarang sandal. Sandal-sandal yang bagi Mas Imam semoga dicatat Allah dan dipantulkan kembali menjadi rezeki dan berkah bagi keluarga mereka, dan syukur lebih luas lagi. (hm)

Medan lokasi acara semalam di Bukit Jamur Kecamatan Bungah Gresik bukanlah medan yang mudah. Tempatnya terpencil. Tinggi karena merupakan pegunungan kapur…