Sami’na wa Atho’na kepada Orangtua

Di alam dunia ini lebih banyak yang belum kita lihat, daripada yang sudah kita lihat. Lebih banyak yang belum kita ketahui daripada yang sudah kita ketahui. Jika pemahaman ini mampu kita camkan dalam-dalam, maka tidak ada sedikit pun celah bagi kita untuk berani bersikap sombong. Tidak mungkin mengaku diri hebat, sok, keminter, apalagi adigang-adigung-adiguna.

Simpel saja, silakan kita pegang kepala kita masing-masing. Lalu hitung berapa jumlah helai rambut yang melekat di kulit kepala kita. Saya yakin tidak ada satu pun di antara kita yang mampu menghitung secara rinci dan tepat berapa jumlah helai rambut kita. Kalau rambut sendiri saja tidak sanggup menghitungnya, bagaimana mungkin mau menghitung rambut orang lain. Nek rambuté dewe wae ora dong jumlahé, njuk ameh kemaki piye. Manusia sungguh lemah, kerdil, picisan, tak berdaya apa-apa. Sama sekali tidak ada kepatutan untuk menyombongkan diri. Dan satu-satunya yang patut dilakukan oleh manusia adalah berendah hati.

***

By the way, dua bulan pasca menikah timbul gejala aneh pada istri saya. Mulai sikap, selera makan, postur tubuh dan lain-lain. Bayangkan, pukul 01.00 dinihari ia nglilir-terbangun dan ujug-ujug bilang pengin maem Nogosari. Jam siji bengi pengen Nogosari. Edaaaann!! Terus kon nggolek nangendi!!

Dengan mata terkantuk-kantuk saya bilang ke dia:

“Besok tak belikan yaa.., sekarang bobok dulu…”

“Nggak mauuu, mau-nya sekaraaanggggg!!”

“(Modyaaar) Kalau sekarang ya ndak bisa tho sayang, mau beli di mana coba.”

Dengan seribu jurus ajian rayuan gombal, akhirnya ia kembali pulas dalam pelukan.

Itu baru soal kepengin sesuatu. Ada yang lebih parah lagi. Asli njijiki. Jadi, setiap mau mapan tidur ia selalu ndesel kelek saya. Kelek, ketek atau ketiak saya katanya baunya wangi dan khas. Sejak kapan yaa, yang namanya ketiak itu wangi. Sudah takdirnya jikalau sejak zaman old sampai zaman now, yang namanya ketiak itu pasti bau kecut. Ndak ada ketek ambune wangi. Terkecuali keteknya Dian Sastro wangi mungkin (hehe). Kalau kepalanya belum saya kempit di ketiak, maka jangan harap matanya akan memejam. Mau ndak mau, suka ndak suka, saya mesti menjalankan ritual konyol itu. Berhari-hari. Berminggu-minggu. Huuft.

Bersebab keanehan tersebut, saya pun mengajak istri pergi ke dokter kandungan untuk diperiksa. Dan menurut diagnosa awal pak dokter, istri saya diketahui tengah berbadan dua (hamil). Usia janinnya baru satu bulan. Alhamdulillah Tuhan. Belum lama menikah tapi sudah mau dikaruniai momongan. Di situ saya merasa senang, haru, belum percaya dan masih diselimuti tanda tanya.

Kata dokter, calon jabang bayi dalam kandungan mesti dijaga baik-baik. Sebab kondisi menempelnya sel sperma dengan sel telur masih inggring-inggring, alias belum sempurna benar. Dengan kata lain masih rawan untuk luruh (jatuh). Sehingga mesti dijaga ekstra. Mulai dari pola makan sehat, teratur, mengkonsumsi makan dan minuman yang bergizi dan tidak boleh melakukan pekerjaan yang berat-berat.

Di tengah kesibukan kami berdua, terkadang kita lupa jika di dalam rahim sang istri ada calon jabang bayi. Kadang makannya telat, menu tidak sehat, kurang istirahat dan masih hobi wara-wiri. Dampaknya adalah setelah dua-tiga minggu istri saya mengalami flek. Keluar bercak darah dari saluran kelahiran. Tidak mau ambil resiko, istri tak bawa ke dokter agar ditangani lebih lanjut. Lagi-lagi pak dokter mengingatkan kalau istri saya terlalu kecapekan, minim istirihat dan itulah yang menyebabkan darah keluar. Dokter menyarankan untuk bedrest (istirahat total) selama tiga hari sembari memberikan obat penguat janin.

Selama istirahat di rumah, istri saya masih saja mengalami pendarahan. Sialnya kami berdua awam tentang ilmu kesehatan apalagi soal kandungan. Kami hanya bisa mencari informasi via mbah Gugel, tanya ke teman-teman yang sudah berpengalaman dan lagi-lagi konsultasi ke bidan atau dokter. Di rumah sakit tempat dokter buka praktik, istri saya di-USG. Saya ikut mendampingi ke dalam. Dan ketika dideteksi, nampak pada layar monitor gambar posisi dan kondisi janin dalam rahim. Kantungnya sudah terbentuk tetapi masih kecil. Kita tunggu sepuluh hari lagi, kalau kantung janinnya berkembang ya Alhamdulillah, tapi kalau tidak terpaksa dikuret (digerus dan dikeluarkan).

“Dok, berarti istri saya belum benar hamil?”

“Ya hamil, tapi belum tahu tumbuh apa ndak janin-nya.”

“Terus langkah kami selanjutnya bagaimana?”

“Ya tunggu dulu, kewajiban anda dan istri hanya menjaga dan berdoa. Ikuti proses dan perkembangan-nya.”

Njeh dok, terimakasih.”

“Saya tidak bisa memastikan apa-apa mas. Jangan menagih saya hal kebenaran dan kepastian, karena kebenaran dan kepastian itu mutlak milik Allah.

Sudah macam mbah Sot saja pak dokter ini menasihati saya.

Jangan menagih saya hal kebenaran, karena kebenaran milik Allah, hanya ada di sisi-Nya atau di genggaman-Nya. Kita dan saya hanya diciprati sangat sedikit. Kewajiban saya dan kita hanyalah setia berproses mencarinya, bukan harus mencapainya”. –Daur II-131Yakin Karena Tak Mengerti

***

Selama bedrest di rumah, banyak teman dan sedulur yang datang menjenguk. Salah satunya Bude istri saya. Sejak kecil Bude dan istri memang punya kedekatan yang cukup spesial. Meski bukan anak sendiri, Bude sangat menyayangi dan care kepada istri saya. Kata beliau istri saya adalah anak pembawa Barokah bagi keluarganya. Pasalnya ketika istri saya lahir dulu, bapak dan ibunya diangkat menjadi PNS dan SK pindah tugasnya dikabulkan. Pantas saja ia dinamai Barokah.

Saat menengok di rumah, Bude seakan menangkap gejala lain. Beliau pun menitipkan pesan kepada kami berdua.

“Mas, besok tolong jenengan pulang ke rumah ibumu untuk ambil jarik.”

“Jarik, buat apa njeh Bude?”

“Ya buat jaga-jaga saja.”

Ohh njeh Bude. Enjing-enjing kulo pendheté.”

Keesokan harinya istri saya sambat mengeluh kesakitan. Perutnya melilit dan mengeluarkan darah lagi. Saya panik, dan hanya bisa mengelus-elus perutnya sembari menyuruhnya meminum obat. Obat sudah diminum namun perut masih sakit. Tak pikir panjang istri langsung tak larikan ke rumah sakit. Sesampai di sana istri dimasukkan ke kamar bersalin, diinfus dan disuntik obat penenang. Dengan perasaan super tegang saya menunggu di luar kamar.

Selang beberapa jam, bidan jaga memberitahukan kepada saya bahwa pak dokter menyarankan agar janin dalam rahim istri saya dikuret. Dengan alasan istri telah beberapa kali mengalami pendarahan. Akibatnya janin di dalam tidak tumbuh secara normal dan baiknya dikuret atau dikeluarkan.

“Kalau bapak setuju silakan tanda tangan di sini.” Bidan menyodorkan map berisi lembaran kertas.

“Baik mbak. Kalau pak dokter sudah menyarankan demikian kami ikut saja.” Bismillah, saya bubuhkan tanda tangan.

“Bapak silakan pulang sebentar. Ambil jarik untuk perlengkapan istri bapak saat dioperasi nanti.”

Jariiiiiiiiikkkkkkkkkkkkkk! Baru semalam Bude menyuruh saya untuk mengambil jarik dan belum sempat saya mengambilnya, peristiwa ini seketika terjadi. Allahu Akbar! Saya langsung memberi kabar orangtua, mertua, Bude dan teman-teman.

Markesot tertawa mendengar kata-kata Sapron itu. “Justru karena kita tidak pernah benar-benar mengerti maka kita butuh meyakini. Dan untuk meyakini itu kita hanya perlu satu langkah, tidak perlu proses panjang, karena sesuatu yang perlu kita yakini berasal dan berada di tangan Allah. Kalau pada yang bukan Allah, mungkin kita tak akan pernah bisa meyakini”

“Justru karena tidak mengerti, solusi satu-satunya adalah mempercayai. Kalau kita mengerti, tak perlu meyakini, cukup mengerti”, jawab Markesot, “itulah sebabnya faktor utama dalam Agama adalah iman, sebab terlalu banyak yang tidak kita mengerti dari kehidupan yang kita jalani ini”. –Daur II-131Yakin Karena Tak Mengerti

Betapa bodohnya saya ini. Pesan dari Bude saya anggap biasa saja dan sepele. Saya benar-benar tidak mengerti dan memahami bahwa wejangan beliau itu sebuah anjuran yang harus dilaksanakan. Beliau sebagai orangtua mampu membaca, mengira, dan meraba tanda-tanda melalui ‘mata batin’-nya.

Benar kata mbah Sot, justru karena kita tidak mengerti, solusi satu-satunya adalah mempercayai atau meyakini. Kalau kita mengerti, tak perlu meyakini, cukup mengerti. Dan apa yang disampaikan Bude tentang jarik itu, sedikit-pun saya tidak mengerti apa maksudnya. Karena tidak mengerti maka sebaiknya saya yakini saja lalu menjalankannya. Tanpa protes, tanpa banyak tanya, tanpa menunda-nunda. Cukup sami’na wa atho`na. Bahwa seorang anak sudah sepantasnya untuk patuh, nurut, sendiko dawuh atas titah dan petuah orangtua. Baik orangtua sendiri, mertua, simbah, guru serta sesepuh-sesepuh kita. Bahwasanya segala yang datang dari Allah tak akan sampai kepada kita, tanpa perantara yang bernama orangtua.

Alhamdulillah dan terimakasih, kini istri saya telah pulih.

Gemolong, 11 November 2017.

Di alam dunia ini lebih banyak yang belum kita lihat, daripada yang sudah kita lihat. Lebih banyak yang belum kita ketahui daripada yang sudah kita…