Sambutan Santri Mbah Lim

Liputan Khusus Padhangmbulan Fuadussab’ah, Jombang 8 Juli 2017-Bag. 2

Mbah Nun, Cak Fuad, Prof. Barbara, Pakde Mus–panggilan akrab Dr. Mustofa, dan para sesepuh lain duduk di kursi sofa yang ditempatkan di area Sentono Arum yang di depan maupun belakangnya dikelilingi para Jamaah. Dari tempat duduk itulah, Beliau-Beliau dapat melihat ke arah panggung untuk mengikuti acara sejak awal dimulai.

Pakdhe Mus memberikan sambutan. Foto: Adin.
Pakdhe Mus memberikan sambutan. Foto: Adin.

Jamaah sendiri yang datang dari berbagai daerah menempuh perjalanan dengan cara masing-masing. Misalnya, rombongan teman-teman Maneges Qudroh Magelang. Mereka konvoi sebanyak delapan mobil. Masing-masing mobil ditempeli kacanya dengan poster Fuadussab’ah dan nomor urut mobil. Tak hanya itu, seperti saat Ihtifal Maiyah, mereka seakan bedol deso dengan membawa hasil alam di antaranya beberapa kardus salak Pondoh.

Sambutan terakhir, sesudah sambutan dua Jamaah Maiyah, Fahmi Agustian dan Putri Fahmiatul Hasni, dan sambutan tertulis Syaikh Nursamad Kamba, adalah Sambutan Doktor Mustofa atau yang akrab dipanggil Pakde Mus. Siapa Beliau? Beliau adalah dosen IAIN Raden Intan Lampung dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Muttaqin Pancasila Sakti Lampung. Lhoh, kok nama pesantrennya mirip nama pondoknya almaghfurllah Mbah Lim Imampuro Klaten? Memang Pakde Mus adalah santri Mbah Lim.

Sewaktu Cak Nun diundang acara di Pondoknya Mbah Lim, entah tahun berapa, ketika itu Cak Nun masih muda, Pakde Mus inilah yang diingatkan dan diminta oleh Mbah Lim untuk tidak memanggil Cak Nun dengan Cak melainkan Mbah. Mbah Nun. Sejak saat itu sampai sekarang, Pakde Mus selalu menyebut dan memanggil dengan panggilan Mbah Nun. Jauh sebelum jamaah Maiyah populer menyebut Mbah Nun karena memang Cak Nun sudah punya cucu, sudah ada panggilan yang sama dengan alasan substansial yang lain dari perintah Mbah Lim kepada seorang santrinya itu.

Pakde Mus yang semalam hadir jauh-jauh dari Lampung mengungkapkan rasa syukurnya bisa berada di antara jamaah Padhangmbulan Fuadus Sab’ah yang sedang hikmat mensyukuri ulang tahun ke-70 Cak Fuad. Beliau menyampaikan bahwa keluarga besar Bani Muhammad adalah salah satu yang dirindukan hadirnya nanti di hari akhir. Bukan hanya keluarga kandung, tetapi semua yang dipersaudarakan di dalam Maiyah.

Melalui nomor Ilir-Ilir yang dibawakan dengan iringan KiaiKanjeng, Pakde Mus ingin berbagi nikmatnya terinspirasi tembang tersebut. Keseimbangan Maiyah oleh kedekatan satu sama lain adalah energi yang menguatkan sehingga kita tidak mudah terombang ambing.

Malam itu, Pakde Mus yang berbusana santai, kaos oblong bergambar sketsa wajah Mbah Nun, dirangkap jaket coklat, berpeci putih, sempat mengawali sambutannya dalam bahasa Arab. Dalam banyak kesempatan acara-acara khusus di lingkungan Maiyah, seperti Ihtifal Maiyah, Ultah KC bulan lalu, Pakde Mus selalu hadir dan cukup dengan dengan para Jamaah Maiyah. (Viha dan Helmi Mustofa)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image