Sambutan Hangat Buat Ketua LSBO Muhammadiyah Pak Sukriyanto AR

Catatan Majelis Ilmu Mocopat Syafaat, 17 Februari 2017 (Bagian 1)

Perjalanan hari tanpa terasa telah tiba di angka 17 pada kalender bulan Februari 2017 ini. Seperti biasa, kompleks TKIT Alhamdulillah Jetis Tamantirto Kasih Bantul tampak sibuk lebih dari hari-hari biasanya. Sejak siang persiapan alat-alat musik KiaiKanjeng serta persiapan teknis lainnya telah berjalan lancar. Ketika langit berganti gelap malam, terasalah segera suasana bulanan yang dinanti banyak Jamaah Maiyah. Mocopat Syafaat. Anak-anak muda yang datang dari berbagai daerah, tak hanya DIY dan Jateng, mulai berdatangan. Memenuhi ruang-waktu dan semesta Mocopat Syafaat.

Dan, malam itu, Mocopat Syafaat kerawuhan beberapa tamu dengan dan dalam nuansa dan keunikannya masing-masing, namun entah kebetulan atau bagaimana, rasanya pembahasan dan sajian dari mereka yang berada di panggung itu tidak lantas berdiri sendiri-sendiri, justru seperti satu bulatan penuh yang saling melengkapi. Padahal tidak dirancang sejak semula.

Mocopat Syafaat Februari 2017
Jamaah sudah memadati depan panggung sebelum Mocopat Syafaat dimulai. Foto Adin.

Setelah pembacaan kitab suci Al Qur`an yang dipimpin oleh Mas Ramli, lalu melantunkan sholawat bersama, maka tampillah Mas Helmi dan Mas Jamal. Pilkada serentak yang baru saja dilaksanakan beberapa hari lalu, termasuk Pilkada di Jakarta, menjadi pintu masuk Mas Helmi sedikit membuka segmen awal Mocopat Syafaat. Pilkada Jakarta tak hanya menyedot perhatian orang Jakarta saja, tapi banyak orang, termasuk dunia internasional. Ada yang tak jenak dengan mengatakan baiknya yang bukan orang Jakarta tak usah bicara pilkada Jakarta. Dari sini, Mas Helmi mengajak jamaah sejenak menengok konsep dasar dalam politik.

Ada yang namanya ‘publik’, yaitu segala hal yang berhubungan dengan bagaimana negara melalui pemerintahan dan birokrasi mengatur kehidupan masyarakat dalam rangka memenuhi kepentingan publik, rakyat, atau warganegara. Ada sejumlah bidang yang masuk dalam kategori publik, termasuk politik dan kepemimpinan. Karena sifatnya yang publik, masyarakat boleh dan bahkan perlu mengungkapkan pikirannya tentang politik. Memang orang non-Jakarta (tak ber-KTP Jakarta) tak punya hak pilih, tetapi karena Jakarta merupakan ibukota Negara Indonesia maka wajar jika warganegara Indonesia secara keseluruhan punya concern terhadap kepemimpinan politik di Jakarta. Apalagi dalam konteks itu, terdapat pula dimensi-dimensi lainnya yang melekat dan menjadi perhatian banyak orang.

Karenanya, opini publik pertama-tama bukan sekadar opini dari banyak orang, tetapi opini tentang atau menyangkut ‘yang publik’, meskipun itu dikemukakan oleh segelintir orang saja. Persoalannya adalah apa dan bagaimana opini itu dibawakan. Mas Helmi mengingatkan bahwa, dari sudut ini, Majelis Ilmu Maiyah merupakan salah satu wahana di mana warganegara saling berbicara dan bertukar pikiran, menilai, merasakan, atau menganalisis dalam cara yang baik mengenai urusan-urusan publik, sehingga sekaligus dapat menjadi sarana pendidikan politik publik.

Pengantar ringkas ini lantas disambung oleh Mas Jamal dengan ulasan mengenai konsep kepemimpinan, di antaranya ajakan untuk kita bertanya kembali lewat sejumlah pertanyaan: apakalah layak bila seorang pemimpin mengajukan diri? Apakah masih ada sosok pemimpin di negeri ini saat ini? Apa dan bagaimana sebenarnya hakikat Negara, bernegara, dan bermasyarakat.

Muhammadiyah Ingin Berkontribusi dalam Kehidupan Seni-Budaya

Pembahasan publik dan Negara memang belum lagi selesai, masih sebuah hidangan jurus pembuka. Sebab segera kemudian Mas Helmi switch dengan memanggil dan mempersilakan Pak Sukriyanto AR naik ke panggung didampingi Pak Mustofa W Hasyim. Siapakah beliau? Beliau adalah putra Pak AR Fachrudin, seorang ulama yang pernah menjabat sebagai ketua umum PP Muhammadiyah, dan seorang tokoh yang dikenal luwes dan kultural. Saat ini Pak Sukriyanto AR menjabat sebagai pimpinan Lembaga Seni Budaya dan olahraga (LSBO) PP Muhammadiyah. Seperti disampaikannya sendiri, kedatangannya ke Mocopat Syafaat ini dalam rangka ngangsu kawruh kepada Cak Nun. “Usia saya mungkin memang lebih tua dari Cak Nun, tapi untuk soal kebudayaan ya saya harus ngangsu kawruh kepada Cak Nun”. Dan Pak Mustofa sendiri juga merupakan anggota LSBO bidang Sastra.

Pak Sukriyanto AR menyapa jamaah Mocopat Syafaat.
Pak Sukriyanto AR menyapa jamaah Mocopat Syafaat. Foto: Adin

Sebelum ke Mocopat Syafaat ini, Beliau sudah bersilaturahmi di Kadipiro beberapa waktu lalu, dan oleh Cak Nun diberi kesempatan untuk berbagi informasi kepada Jamaah di Mocopat Syafaat. Dengan begitu Jamaah dapat menyerap langsung secara otentik gagasan atau langkah-langkah Muhammadiyah di bidang Seni dan Budaya. Dan lebih dari sekadar itu, kehadiran Beliau pasti akan menambah kontribusi contoh ukhuwwah yang bagus di antara sesama umat Islam.

Dalam kesempatan ini, Pak Sukriyanto menyampaikan bahwa Muhammadiyah tak hanya berkhidmat di bidang sosial, pendidikan, kesehatan, dan tabligh, tetapi juga sangat peduli kepada seni dan kebudayaan. Cita-cita yang dipancangkan adalah selalu mengedepankan nilai keislaman dalam karya seni dan kebudayaan. Menurut Pak Sukri, soal ‘nilai Islam dalam seni’ adalah bukan pada simbol saja, tapi titik beratnya justru pada kerja keras, kejujuran, tepat waktu, disiplin, kreatif dan keinginan untuk selalu belajar. Pesan-pesan ini diulang terus beberapa kali oleh Beliau. Dengan kesadaran itulah, Muhammadiyyah ingin berkontribusi agar nilai-nilai Islam itu menjiwai kebudayaan umat Islam.

Pada tataran praktis dan strategis, Pak Supriyanto menguraikan beberapa program LSBO. Di antaranya adanya ikhtiar LSBO untuk “mereformasi” lagu anak-anak untuk dibenahi muatan-muatannya. Juga diciptakan lagu-lagu baru. Kiai Saifuddin Amin adalah salah satu nama Kiai yang mencipta lagu, dan itu dilakukannya usai shalat malam. Ada program gelar seni di cabang-cabang Muhammadiyah. Di dalamnya ada kegiatan sastra dan menghidupkan kembali kekayaan budaya bernama dongeng untuk anak-anak. Selain itu, LSBO juga membuat film. Film yang petikannya ditayangkan di panggung Mocopat Syafaat itu berjudul “Meniti 20 Hari”, berkisah tentang Hizbul Wathon. Ada serangkaian rencana pembuatan film lainnya yang sedang digagas LSBO, seperti Film tentang KH Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari, Film Pak AR Fachruddin, Film Ir. Juanda, dan Film Ibu Fatmawati.

Yang menarik, pembuatan film bernafaskan pendidikan karakter ini dikerjakan dengan manajemen yang unik. Berbiaya murah, mengambil sutradara dari kalangan generasi muda Muhamadiyyah sendiri alias bukan sutradara tyerkenal dan mahal, pun juga para pemainnya dari pelajar-pelajar Muhammadiyah. Penayangannya pun tidak di bioskop-bioskop, tetapi keliling ke daerah-daerah layaknya layar tancap di zaman dahulu. Film-film yang digarap LSBO Muhammadiyah ini bersifat memberdayakan secara internal sekaligus membuka peluang lahirnya actor-aktor atau seniman berbakat dari dalam Muhammadiyah.

KH Ahmad Dahlan Ikut Tepuk Tangan Saat Dianggap Sesat

Tentu saja selain memaparkan program dan kegiatan LSBO, Pak Supriyanto pun banyak bercerita mengenai sosok KH Ahmad Dahlan dan generasi sesudahnya termasuk sosok Pak AR Fachruddin. KH Ahmad Dahlan adalah seorang ulama yang juga seorang seniman, yang familiar dengan beberapa alat musik khususnya biola. Tak jarang Beliau menanggap gambus supaya bisa dinikmati bersama orang banyak. Beliau berkarya seni dan mencintai seni.

Tetapi keberadaannya yang cukup modern di tengah masyarakat tak urung mengundang sinisme tertentu. Tak sedikit yang mengatakan Kiai Dahlan sesat. Tutur Pak Sukri. Tetapi Kiai Dahlan sangat tenang dan tidak marah. Bahkan suatu hari di tengah kerumunan yang di situ Kiai Ahmad Dahlan dibilang sesat, Beliau pun malah ikut tepuk tangan.

Sementara itu, Pak AR Fachruddin kita tahu, adalah sosok ‘orang besar’ yang dimiliki oleh bangsa ini, utamanya Jogja, dan dilahirkan oleh Muhammadiyah. Beliau adalah ketua umum PP Muhammadiyyah paling lama, menjabat dari 1968 hingga 1990 alias 22 tahun. Pak AR—panggilan akrabnya—adalah ‘orang besar’ sebab tak hanya menurunkan dan mewariskan ilmu, tapi juga melahirkan banyak kisah yang mengandung keteladanan.

***

Kehadiran Pak Sukriyanto AR di Mocopat Syafaat mendapatkan sambutan yang hangat. Para jamaah mengikuti paparan Beliau dengan penuh saksama, menyerap dan mengapresiasi. Para jamaah mendapatkan penjelasan-penjelasan yang lengkap dan gamblang mengenai pemikiran dan program Muhammadiyah di bidang seni dan budaya sehingga membuat lebih tahu bagi yang belum tahu, melengkapi bagi mereka yang baru sebagian pengenalannya terhadap Muhammadiyah, dan paling menarik adalah suasana ini menjadi contoh kecil akan kedewasaan dan kematangan dalam ukhuwah bainal muslimin. Di situlah Pak Sukri dengan terhormat mendapatkan pertanyaan dari jamaah yang salah satunya berlatar belakang NU. (Muhammad Zuriat Fadil)

Dan, malam itu, Mocopat Syafaat kerawuhan beberapa tamu dengan dan dalam nuansa dan keunikannya masing-masing, namun entah kebetulan atau bagaimana,...

Bagikan

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image