Sahur Bermartabat dan Beningnya “Khazanah” Mbah Nun

Sahur — situasi yang tak kalah wingit, sunyi, rahasia; saat-saat favorit bagi para kekasih Allah. Pada sebagian waktu sahur kita menyelenggarakan ritual kemesraan dengan Sang Kekasih yang tak usah diomongkan, di-broadcast-kan, di-iklan-kan. Tak perlu juga mengajak orang-orang yang berada di bawah kekuasaan kita, baik yang tergantung “nasib” gaji bulanannya maupun masa depan karir jabatannya, untuk misalnya, menyetorkan ceklis pelaksanaan shalat sunnah rawatib, shalat dluha, shalat fardlu, shalat tahajud, baca Al-Qur`an. Bukti fisik ceklist itu lantas dihitung berapa kredit poinnya dan digunakan sebagai alat ukur kesalihan dan ketaatan kepada Allah.

Untuk itu sang pemimpin merasa perlu menunjukkan kepada anak buahnya teladan kesalihan dan ketaatan. Checklist slide ditayangkan. Setiap mata tertuju ke sana. Semua kolom ibadah mulai shalat rawatib hingga berapa juz sehari mengaji, tercentang sempurna. Tidak ada yang bolong. Beberapa orang bergeremang. “Subhaanallah…” Yang lain berbisik: “Juragan kita layak jadi wali.” Di sudut ruangan seseorang membatin: “Ini adegan amal baik yang sama sekali tidak indah.”

Sang pemimpin mengakhiri presentasi amal baik itu dengan sikap dingin dan wajah yang masih ditekuk. Amal baik sudah dikabarkan. Taqarrub kepada Allah sudah diteladankan secara amat nyata dan gamblang. Hadirin terpana. Setiap orang menerima lembaran ceklis, siap beraksi dengan akrobat ibadah mereka masing-masing.

Sayangnya, ibadah puasa membatalkan semua adegan kebaikan bergaya ceklis itu. Aktivitas sahur pada dini hari—situasi yang menghadirkan prakondisi sebelum kita memasuki situasi puasa yang benar-benar sunyi, meneguhkan biar Allah saja yang mengisi ceklis itu. “Puasamu itu untuk-Ku.”

Lalu saya dilempar dari kutub adegan ceklis menuju situasi intim di waktu sahur. Seseorang berbaik hati kepada saya, juga kepada teman-teman yang lain, membagikan tulisan Mbah Nun yang masih “anget”, meluncur setiap pukul 03.30 WIB, menyapa situasi sunyi dinihari. Jangan bertanya tentang bobot tulisan terlebih dahulu. Bahkan seorang teman telah mengirim sebuah pesan: “Betapa sangat beruntung kita, sahur ditemani khazanah pemikiran yang bermutu.”

Sahur, dini hari yang sepi, situasi wingit berpadu dengan khazanah tulisan Mbah Nun yang jernih-menjernih, menghadirkan denting-bening suara nurani di tengah orkestrasi tasbih para malaikat dan alam semesta. Bagaikan suara seorang Ibu yang membangunkan anak-anaknya dari lelap mimpi dunia. Sahur yang bermartabat.

Terbangun arus kesadaran yang mulanya terasa agak aneh setiap usai membaca tulisan itu di waktu dinihari. Ada rasa mengendap, atau istilah yang kerap dipakai di Maiyah, ia sedang loading, bergerak menemukan bentuk kesadaran yang baru dalam diri. Kalau tulisan yang hadir setiap waktu sahur adalah sebuah ajakan atau dakwah, ini pun bukan cara yang lazim. Kita disuguhi sebuah tulisan dengan segala muatan dan kandungannya–bukan tampilan atau tayangan audio-visual yang kini sedang marak menyiarkan dakwah live.

Di tengah maraknya pengajian live yang disiarkan melalui media sosial, “Khazanah” meniti jalan jalan sunyi, dan atas seizin Mbah Nun, tulisan itu meluncur di waktu yang sunyi pula. Efek daya bangunnya sungguh nyamleng dan lebih merasuk. Lebih individual. Menemani kita di bilik sunyi hati masing-masing.

Kita ambil contoh. Setelah merasakan getaran, aura, alur logika yang berhasil dibangun sejak awal oleh tulisan Khilafah NKRI, kalimat berikut ini meninggalkan jejak rasa yang tidak gampang dirumuskan, namun melekat kuat di dinding hati. Sinau Bareng” dengan anak-anak muda, Bapak Ibu Kakek Nenek dusun, Pak Kadus, Pak Lurah, Camat, Bupati, Kapolres, Dandim, Danramil, Kapolsek, para Sesepuh, lingkaran-lingkaran patriot-patriot bisu dan simpul-simpul nasionalisme yang tidak gegap gempita”.

Kalimat-kalimat itu menggedor bilik sunyi, membangunkan, menggugah kita: patriot-patriot bisu, semoga kita termasuk di dalamnya, sedang direngkuh dan diletakkan pada maqam yang tidak main-main di hadapan Indonesia besar. Ungkapan keprihatinan yang menyuntikkan daya juang luar biasa kepada anak cucu patriot bisu.

Idiom patriot bisu mengantarkan imaji-konotatif kepada situasi yang sebaliknya: gegap gempita, riuh rendah, teriakan dan kepalan tangan para aktivis dakwah yang menampilkan tayangan slide “ceklis amal saleh” melalui media sosial, mulai dari ajang kumpul-kumpul sedekah kepada anak yatim hingga gerakan melawan kebatilan.

Patriot bisu tidak memiliki kemantapan hati atau setidaknya ewuh pakewuh kepada Mitra Dialog amal saleh, Allah Swt, untuk mengumumkan melalui corong pengeras suara, apa yang sedang dikerjakan adalah amal saleh sambil mencentangi kolom-kolom ceklis. Namun, jangan dikira mereka bisu. “Sinau Bareng” para patriot bisu melalui lingkaran simpul-simpul adalah suara tanpa suara yang akan disuarakan oleh Pemilik Suara Sejati.

Mereka meneguhi keyakinan Nabi Ibrahim yang menyeru semua penduduk bumi agar beribadah haji di Makkah. Lalu Allah sendiri yang akan meneruskan seruan itu hingga menyentuh telinga kesadaran manusia di bumi.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image