Wedang Uwuh (13)

Sabdaluhung Ratu Pandhita

Kedaulatan Rakyat, 10 Januari 2017

Beruk menjelaskan bahwa Yogya secara administratif adalah bagian dari Indonesia. Tetapi secara historis Yogya berposisi primer dalam proses melahirkan Indonesia.

Kalau spektrum sejarah direntangkan ke belakang, Yogya adalah salah satu akibat dari berbagai-bagai sebab yang memomentumkan Perjanjian Gianti. Kalau rentang dikebelakangkan lagi dan diselami lubuk substansi dan rohaninya, Yogya adalah kontinuasi dari gagasan Glagah Wangi, salah satu titik dari sejumlah komposisi titik-titik yang menghamparkan formula metamorfosis sejarah yang diaplikasi oleh Kanjeng Sunan Kalijaga.

Terutama dalam hal Kutaramanawa ke konstitusi Mataram Islam. Dari kebhinnekaan asuhan Hindu-Budha abad-abad sebelumnya hingga Majapahit yang dievolusikan menjadi pengayoman Banawa Sekar rahmatan lil’alamin, yang ruang kosmos nilainya diperluas dan budayanya diperlembut dan diperluwes.

Begitu memasuki era modernisme, peralihan nilai-nilai sejarah itu mengalami ujian-ujian. Berupa manipulasi, penghapusan, modifikasi, penggeseran primer-sekunder, serta berbagai jenis tipudaya, sesuai dengan berkembang suburnya formula-formula peperangan antar kelompok manusia. Dari era Kiai Kolomunyeng, Kiai Setan Kober, Kiai Bancak dan Kiai Sangkelat, hingga infantri-kavaleri-artileri, kemudian perang politiking dan diplomasi, sampai perang alam pikiran media dan sekolahan, sampai proxy war, yang sesungguhnya merupakan siklus dari perang tenung, santet, siluman Prabu Anglingdarma dan Batik Madrim.

Berabad-abad peperangan riuh rendah di balik gerumbul-gerumbul zaman, di mana masyarakat umum tidak menyadarinya, kaum terpelajar tidak pernah benar-benar merumuskannya, serta “wong cilik” yang acuh tak acuh atas itu semua berkat ketangguhan mereka menerjang segala zaman dan seribu musim.

Beruk menuliskan, sejak lebih sepuluh tahun silam semua pihak bergunjing tentang keistimewaan Yogya, ia sangat bergairah mengikutinya. Tetapi semangatnya tidak ada kaitannya dengan Dana Keistimewaan. Tidak terkait hanya dengan harga diri keYogyaan. Tidak terbatas pada muru’ah Kraton Ngayogyakartahadiningrat. Beruk menekuni masalah itu karena keselamatan masa depan NKRI dan seluruh Bangsa Indonesia yang “dipangku” oleh hikmat sejarah Yogya.

Semua orang sangat mencemaskan perubahan-perubahan drastis di dalam spektrum nilai Kraton. Dari tema pemunggungan Paugeran, perobohan pagar konstitusi, penghapusan satu dua kata yang menjebol hakiki syariat Kraton, “yuwaswisu fi shudurinnas” yang berdengung-dengung mengerumuni seputar area Pusaka, bahkan tawon-tawon disebar hingga ke sekeliling Merapi. Jangan tidak dicatat juga inisiasi perusahaan besar internasional di Negeri Sepakbola nun jauh di Eropa, yang bersambung dengan Pulau Burung di ujung timur Nusantara.

“Tetapi saya tidak cemas”, kata Beruk, “hati saya tidak pernah tergoyang oleh badai-badai itu. Pohon Sawo Kecik tidak bisa begitu saja menjelma Pohon Apel”.

Menurut Beruk, masyarakat dan sindikasi-sindikasi global menyangka penduduk dunia hanya makhluk-makhluk jasad seperti mereka. Mereka belum pernah mengidentifikasi dan mempetakan ragam Subjek-subjek yang bekerja di dalam dan di balik berlangsungnya sejarah. Mereka menyangka dunia hanya berisi Bank Dunia, Kapitalisme Liberal dan batalnya pagar Negara oleh Globalisasi Pasar Bebas.

Keadaan bisa berubah dengan rumus “min haitsu la yahtasib”. Tidak bisa dipastikan akan berlangsung hal-hal yang selama ini dicemaskan. Ini Indonesia, ini Yogya, beda dengan petak bumi lainnya. Kata Beruk, “Andaikan darurat, ada dimensi dan patrap Sabdaluhung Ratu Pandhita….”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image