Wedang Uwuh (30)

Sabda Lebah

Kedaulatan Rakyat, 16 Mei 2017

Ketika tamu-tamu saya pergi, saya melihat cucu-cucu saya makin seru berdebat, dan Pèncèng benar-benar tidak mereda.

“Kok tahu kalau Tuhan itu Maha Esa? Dikasih tahu oleh siapa? Bapak? Simbah? Buyut? Canggah? Wareng? Udeg-udeg? Gantung Siwur? Goprak Senthe? Debog Bosok? Galih Asem? Goprak Waton? Cendheng? Giyeng? Cumpleng? Ampleng? Menyaman? Menya-menya? Trah Tumirah?…”

“Ya mungkin dikasih tahu oleh orangtuanya, Cèng”, Gendhon sangat bersabar meladeni.

“Orangtuanya dikasih tahu oleh siapa?”

“Ya mungkin oleh Kiainya”, Beruk urun.

“Kiainya dikasih tahu siapa? Ustadznya Ulamanya? Ustadznya? Syekhnya? Maula-nya? Mursyidnya? Waliyullahnya? Nabinya? Lha Nabi kok ngerti Tuhan Maha Esa itu menemukan sendiri atau ada yang ngasih tahu?”

“Kan ada Kitab Suci”, Gendhon lagi.

“Maksudnya informasi langsung dari Tuhan?”

“Tentunya”

“Sudah diverifikasi belum itu informasi terpelihara otentisitasnya atau sudah diubah-ubah. Apa dan bagaimana metodologi untuk check and recheck keasliannya? Kalaupun disepakati bahwa itu asli, bagaimana bisa tahu bahwa itu sungguh-sungguh wahyu dari Allah? Bagaimana kalau ada orang, entah Kiai, entah Raja, yang mengaku-ngaku bahwa ia mendapat wahyu dari Sabda Tuhan, padahal muatannya adalah kepentingan pribadi, ambisi keluarga dan golongannya? Bukankah orang yang GR mendapat wahyu dari Tuhan, dan isi wahyunya itu menyangkut kehidupan jutaan orang dan bisa mengubah tiang-tiang nilai dalam sejarah – pada hakikatnya sama dengan Nabi palsu?”

Saya menyaksikan Gendhon dan Beruk ternyata memang tangguh kesabarannya. Sangat lapang hatinya, dengan tetap jernih pikirannya, serta kokoh ikatan batin persaudaraannya. Tidak sedikit pun berkurang senyuman mereka dan wajah legowo mereka.

“Kan yang mendapat wahyu bukan hanya Nabi, Cèng”, Beruk merespons lembut, “Tawon atau lebah-lebah pun menurut Tuhan dikasih wahyu oleh-Nya”

“Lho kalau alam, tetumbuhan, laut, bumi, gunung, Malaikat, semuanya memang hidup hanya di wilayah wahyu Tuhan, meskipun Malaikat bisa dikhianati oleh manusia, dan alam bisa dijajah dan diperkosa oleh manusia. Sangat mudah membaca bahwa Malaikat dan alam selalu patuh kepada kehendak dan perintah Tuhan. Konsistensi hukum alam dan keniscayaan sunnah jagat raya ini sangat mencerminkan kepatuhan mereka kepada Maha Penciptanya. Tetapi manusia beda. Manusia memperoleh demokrasi dari Tuhan. Bahkan demokrasi liberal: Tuhan memerdekakan manusia akan ambil keputusan untuk patuh atau ingkar, akan beriman atau membangkang, akan setia atau makar – dengan risikonya masing-masing. Bagaimana manusia tahu bahwa manusia lain sedang mendapatkan wahyu dari Tuhan sehingga kemudian ia bersabda?”

Pèncèng benar-benar kalap.

“Simbah dulu pernah menjelaskan kepada kita”, Gendhon terus bersabar, “wahyu atau karomah atau fadhilah dan ilham itu tidak seperti produk-produk langit dengan gradasi mutu atau tingkat-tingkat kualitas. Bukan kok kalau Nabi dan Rasul dapat wahyu, lantas lainnya mendapat KW2 KW3 KW4 dari wahyu. Tuhan satu kali menghembuskan ‘Kun!’, dan berlangsunglah semua kehendak-Nya: membangun sistem nilai alam, aturan semesta, sangkan paran jagat raya dan penghuninya. Dengan sekali tiupan. Ratusan miliar tahun yang dihamparkan untuk kehidupan makhluk-makhluk ini bagi Tuhan hanya ‘kalamhin bil-bashar’, alias sekejapan mata. Adapun manusia memperoleh kadar wahyu itu seberapa, bergantung pada mereka meningkatkan software batinnya atau tidak, melatih dan melembutkan daya serap rohaniahnya atau tidak. Kecanggihan mesin kebatinan mereka menentukan seberapa kadar, muatan dan kelengkapan wahyu itu sanggup mereka terima. Di antara sesama manusia kita bisa mengukur kualitas masing-masing berdasarkan output budayanya, kejernihan ucapannya, kebersihan perilakunya, kemerdekaannya dari posisi menjadi budak dunia dan materialisme. Dari situ kita bisa meraba seseorang itu mendapat wahyu dari Tuhan ataukah hasil yuwaswisu fi shudurinnya, hasutan dan provokasi dari manusia lainnya, yang memproduksi setan-setan, yang kemudian diakuinya sebagai wahyu Tuhan…”

Tetapi mana mungkin Pèncèng mau kalah.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image