Ruwaibidhoh

Mukadimah Kenduri Cinta Juni 2017

PADA EDISI 16 tahun Kenduri Cinta tahun lalu, Sabrang menyampaikan; Kemampuan melihat sudut pandang terhadap informasi membuat kita menjadi lebih taktis dan tepat dalam mengambil keputusan”.

Apa yang kita alami hari ini adalah banjir informasi yang sangat deras, dan kita masing-masing dituntut untuk memiliki filter yang sangat ketat, sehingga informasi yang sampai kedalam diri kita dapat kita pilih. Kecenderungan orang hari ini adalah mudahnya menyebarkan informasi tanpa melakukan check and re-check terlebih dahulu. Dengan kemudahan teknologi yang ada dalam genggaman tangan berupa smartphone, justru menjadikan manusia sangat malas untuk melakukan tabayyun, apakah informasi yang sampai kepada mereka adalah informasi yang benar atau hoax. 

Kesadaran Literasi bukan hanya soal kemauan untuk menulis, melainkan juga mencakup budaya kita dalam membaca. Setiap hari, berapa berita yang anda baca setiap hari, berapa rubrik berita yang anda minati, berapa portal atau surat kabar yang anda baca. Kemudian bandingkan dengan jumlah buku yang anda baca dalam seminggu terakhir ini. Lebih banyak mana; membaca berita di internet atau membaca buku secara manual? Sepertinya mayoritas akan menjawab lebih sering membaca berita dalam bentuk digital.

Benar bahwa kita harus beradptasi dengan teknologi yang semakin maju. Tetapi, jika kita tidak memiliki kesadaran dalam memfilter setiap informasi yang ada, maka yang akan terjadi adalah semakin menyebarnya informasi yang bukan hanya hoax, bahkan bisa saja informasi tersebut adalah informasi yang benar sesuai dengan fakta, tetapi kita menyebarkannya tidak pada tempatnya, tidak pada momentum yang tepat. Ada banyak contoh kasus dimana sebuah informasi baik berupa gambar, teks, audio maupun video yang disebarluaskan untuk konteks yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan. Cak Nun sendiri mengalami hal ini, dimana kutipan-kutipan dari tulisan atau cuplikan video yang tersebar luas di internet, seringkali digunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Yang hanya dimanfaatkan pada momen-momen tertentu demi kepentingan segelintir pihak semata.

Di dunia digital yang semakin pesat perkembangannya hari ini, nyatanya justru tidak dibarengi dengan bijaknya masyarakat dalam mencerna informasi. Saling klaim kebenaran menjadi bumbu peristiwa yang setiap hari kita lihat di media sosial. Banyak orang berpendapat, berkomentar, menganalisis, menyimpulkan hanya berdasar kebenarannya masing-masing, dan mengeliminir pendapat orang lain, yang belum tentu pendapat orang lain itu salah. Mungkin memang kebenaran yang kita yakini adalah yang paling benar, tetapi harus kita sadari bahwa hal itu hanyalah sebuah probabilitas yang tidak seharusnya kita klaim sejak awal. Kita seharusnya juga menghargai pendapat orang lain. Karena setiap orang berhak memiliki kebenaran yang ia yakini, karena setiap manusia menjalani proses pencarian kebenaran yang berbeda-beda. Sayangnya, terlalu banyak orang yang merasa benar sendiri.

Di Kenduri Cinta pernah dibahas apa yang dimaksud dengan Ahmaq. Ahmaq adalah orang yang bodoh dan merasa paling alim dan pintar. Ruwaibidhoh sendiri memiliki pemahaman yang lebih detail dari sekedar Ahmaq. Ruwaibidhoh adalah orang yang bukan hanya bodoh, tetapi juga dungu, bebal, bahkan hina yang kemudian dia merasa paling berhak untuk mencampuri urusan masyarakat luas.

Secara moral, kita tidak diperbolehkan melakukan klaim atas benar atau salahnya seseorang atas sikap maupun pendapatnya. Tetapi, kita memiliki hak untuk mengingatkan orang lain manakala apa yang dilakukan oleh orang lain tidak sesuai dengan hati kecil kita. Perilaku seseorang apakah itu baik atau buruk, bagi manusia yang lainnya cukup dirasa dengan hati kecil, maka kemudian orang mampu menilai apakah yang dilakukan itu baik atau buruk. Kalau istilah Jawanya itu; Roso. Jadi, hati kita bisa merasakan dan mengidentifikasi; kayaknya ndak kayak gini deh, harusnya kan begitu, sepertinya bukan ini yang seharusnya dilakukan, dst.

Yang kita alami di Indonesia hari ini, sama-sama tinggal di sebuah rumah yang sama, tetapi saling beradu kebenaran satu sama lain. Sama-sama mengaku sebagai Warga Negara Indonesia yang menjunjung tinggi UUD 1945 dan Pancasila, meneriakkan Bhinneka Tunggal Ika tetapi tidak mau menerima perbedaan pendapat orang lain. Yang kita saksikan hari ini adalah kebenaran yang diyakini dipaksakan untuk juga diyakini oleh orang lain. Bukankah seharusnya Bhinneka Tunggal Ika adalah menerima semua perbedaan yang ada dan berangkulan menjadi satu. Atau jika kita menggunakan terminologi dalam Islam, terdapat metode; wa amruhum syuuro bainahum. Yang seharusnya kita lakukan adalah duduk bersama, bermusyawarah membicarakan yang terbaik untuk kebaikan bersama.

Maka, salah satu yang kita perjuangkan di Maiyah adalah proses untuk terus menerus belajar tentang keseimbangan dalam hidup. Di Maiyah, kita belajar tentang keseimbangan sejak dalam fikiran. Keseimbangan yang terus menerus kita latih di Maiyah ini, salah satu hasilnya adalah kita mencari apa yang benar bukan siapa yang benar. Kemudian, dalam rangka refleksi perenungan kedalam diri kita masing-masing, kita melihat ke dalam diri kita apa yang salah, adakah yang salah dalam diri kita, adakah laku yang salah dalam diri kita.

9 Juni 2000 merupakan tonggak sejarah Kenduri Cinta. Langkah awal yang digagas saat itu tidaklah bertujuan untuk pencapaian-pencapaian duniawi. Kenduri Cinta tidak sekalipun memiliki niatan untuk meraih popularitas, eksistensi apalagi memiliki keinginan untuk diakui oleh Indonesia. Spirit PadhangmBulan mencoba ditanam benihnya di Ibukota Jakarta pada 9 Juni 2000 silam. PadhangmBulan yang merupakan “Ibu” Maiyah Nusantara kini telah melahirkan tunas- tunas baru yang sedang berproses untuk turut serta menjaga keistiqomahan dalam nandur benih-benih yang Allah mencintainya dan mereka mencintai Allah.

Seperti yang tersirat di Surat Ali Imron ayat 31; Qul inkuntum tuhibbunallaha fa abi’uuni yuhbibkumullah, wa yaghfir lakum dzunuubakum, wallahu ghofuurun rohiimun. Atas dasar semangat mencintai Kekasih Allah; Muhammad Saw, sejak 9 Juni 2000 silam Kenduri Cinta terus berproses, berjuang, melangkah menebarkan cinta, kasih dan sayang kepada sesama manusia. Menumbuhkan kesadaran bahwa kita sebagai ahsanu taqwiim merupakan makhluk yang diciptakan oleh Allah dengan mandat tertinggi; khalifatullah. Namun, sebelum kita menapaki capaian itu, melalui Kenduri Cinta dan Maiyah, kita belajar untuk terus menerus menyadarkan diri kita, bahwa kita adalah Hamba Allah, yang sudah seharusnya bukan hanya tunduk dan patuh, melainkan juga untuk tidak pernah berhenti untuk bersyukur atas segala anugerah yang telah diberikan oleh Allah Swt.

17 tahun Kenduri Cinta berproses dan melangkah hingga hari ini. Orang yang datang bisa saja berganti. Penggiat yang meracik di dapur Kenduri Cinta bisa saja berganti. Bumbu dan bahan masakan yang akan dimasak pun bisa saja berganti, tetapi semangat yang tumbuh harus tetap lestari; menata hati, menjernihkan pikiran, menuju Indonesia mulia.

Istiqomahnya Kenduri Cinta merupakan peran dari semua pihak, tidak ada seorang pun yang berhak mengklaim bahwa hanya karena perannya sendiri lah Kenduri Cinta mampu bertahan hingga hari ini. Semua pihak yang pernah terlibat dan melibatkan diri di Kenduri Cinta, memiliki peran dan memiliki jasanya masing-masing. Kita semua yang menjaganya, kita semua yang Insya Allah kelak diizinkan oleh Allah untuk menuai apa yang kita tanam hari ini.

PADA EDISI 16 tahun Kenduri Cinta tahun lalu, Sabrang menyampaikan; Kemampuan melihat sudut pandang terhadap informasi membuat kita menjadi lebih taktis…