Romantis Hingga Aki Nini

Teman-teman menjulukinya sebagai Sahabat Umar. Julukan itu diberikan sebab penggiat Maiyah yang satu ini memang berperangai galak, sudah begitu di tempat kerja dia selalu membawa senjata pula. Maklumlah, sebab profesi dia memang sebagai seorang satpam.

Namun, sebab yang lebih substantif mengapa dia dijuluki seperti itu adalah  proses hijrah Sang Umar yang satu ini memang begitu radikal; minadz-dzulumati illan-nur. Sang Umar ini merupakan salah satu contoh sukses dari pengamalan Tombo Ati. Dengan menyaksikan keistiqomahannya bermaiyah, orang yang tidak mengenalnya tidak akan menyangka kalau ada masa lalu suram yang pernah Sang Umar jalani. Perangainya menunjukkan seolah-olah dia sudah istiqomah bermaiyah sejak bayi.

Usianya tidak lagi terbilang muda, tahun ini adalah tahun pertamanya menjalani pensiun dari profesinya. Meski sudah memasuki usia pensiun, tidak ada gurat kebahagiaan di wajahnya yang mengendur. Tidak ada serangan post-power syndrom sebagaimana lazimnya orang-orang yang baru saja mengakhiri masa kerjanya.

Pada banyak kesempatan, Sang Umar ini seringkali meluapkan rasa syukurnya atas takdir Allah yang mempertemukannya dengan Maiyah. Ndilallah, atas izin Allah, hidayah merasuk bukan melalui proses yang neko-neko. Bukan sebab pemahaman intelektual, bukan juga sebab cobaan yang mengaduk-aduk kehidupan seperti di sinetron-sinetron.

Uniknya, hidayah yang mebuat dia memilih berhijrah turun pada saat pertama kalinya Sang Umar ini menatap wajah-wajah personel KiaiKanjeng. “Saya menyaksikan kesejukan wajah-wajah yang baru pernah saya saksikan, seperti wajahnya para penghuni surga”, ujar Sang Umar.

Wajah-wajah tersebutlah yang mengawali proses pembalikan hidupnya. Tepatnya yakni ketika KiaiKanjeng bersama Mbah Nun diundang sebuah acara di IAIN Purwokerto sembilan tahun yang lalu. Sejak itu, ia mengaku mulai intens ‘mengejar’ Mbah Nun. Dah hidayah demi hidayah bertaburan, termasuk hingga bentuk-bentuk hidayah yang kalau diceritakan akan dikenali orang sebagai bentuk-bentuk mistis dan mitologis.

Ketimbang saya terancam oleh kilatan pedang Sang Umar sebab membagikan pengalaman mistis dan mitologis itu, lebih baik biarlah hal itu menjadi aurat spiritual bagi Sang Umar. Lebih baik saya berbagi tentang bagaimana proses hijrah yang revolusioner yang dilakukan Sang Umar tersebut.

Yang pertama-tama berbahagia dan memetik manfaat adalah orang terdekatnya, yakni Sang Istri tercinta. Bagaimana Sang Istri tidak merasakan bahagia yang meluap-luap, sebab dia yang menyaksikan langsung perubahan yang terjadi, menengarai before and after-nya. Walaupun Sang Istri belum mengenal Maiyah amat-amat, tetapi sebab ia tahu suaminya berubah sejak ikut Maiyahan, maka ketika tanggal 17 menjadi tanggal yang ditunggu-tunggu oleh mereka berdua. Ya, tanggal untuk datang ke forum Mocopat Syafaat.

Jarak 4 hingga 5 jam perjalanan ditempuh dengan perjalanan bersepeda motor berboncengan. Ada kisah pilu ketika di perjalanan harus mengalami kecelakaan ringan, terguling di menanjak dan meliuknya jalanan dekat Sempor, Kebumen. Tetapi itu tidak menyurutkan semangat mereka ber-Maiyah.

Pada kali lain, pernah Sang Istri berhalangan ikut Maiyahan, tetapi ia tidak ingin melepaskan suaminya begitu saja. Ia pun memberikan sangu, dan sangu berupa uang itu tidak sedikit, melebihi sangunya rapat-rapat kementerian. Dan bisa jadi itu adalah seluruh uang yang ia pegang, tak sayang diberikan kembali kepada suaminya untuk sangu Maiyahan.

Kalau boleh saya memaknai, Sang Umar bisa berhijrah dalam hidup yang pertama adalah sebab ia memenuhi panggilan hidayah Allah. Kemudian yang kedua, sebab ia bisa berhijrah adalah karena tidak lagi ada obsesi atas dunia.
Menjadi pensiunan satpam sekarang kesibukannya adalah membantu istri menjaga warung nasi rames dan kelontong di halaman rumahnya. Begitulah keseharian menjalani kehidupan yang sederhana dengan romantisme sampai aki nini.

Cita-cita mereka punsudah tercapai. Bahkan sudah terlampaui. Apa itu? Sangat sederhana cita-cita mereka. Ketika kondisi ekonomi masih berkesusahan dulu, mereka ingin memiliki rumah yang lebih baik kondisinya sehingga bisa digunakan untuk tempat berkumpul sedulur-sedulur Maiyah. Dan hari ini sudah tercapai.

Hari ini entah Sang Umar masih punya cita-cita yang lain apa tidak. Menjadi Kades enggan, menjadi RT tidak minat. Terus hidup mau apalagi sih? Begitulah kisah Sang Umar, orang yang paling berumur diantara para penggiat Maiyah Juguran Syafaat.

Teman-teman menjulukinya sebagai Sahabat Umar. Julukan itu diberikan sebab penggiat Maiyah yang satu ini memang berperangai galak, sudah begitu di tempat…