Riuh Shalawat di Tengah Gaduh Ibukota

Pada Kenduri Cinta kali ini, Kiai Muzammil turut hadir. Agendanya hanya satu, ingin mengajak mengajak Jamaah Maiyah Kenduri Cinta untuk bershalawat bersama. Bulan ini masih bulan Maulid, sehingga Kiai Muzammil merasa perlu mengajak Jamaah Maiyah Kenduri Cinta untuk bershalawat bersama-sama.

Kiai Muzammil juga memperkenalkan jenis-jenis sholawat kepada Jamaah Kenduri Cinta. Seperti Sholawat Burdah, Barzanji, Simtud Duror, Diba`i, dll.

Spontan Kiai Muzammil langsung melantukkan shalawat Burdah. Dan tak disangka Jamaah Kenduri Cinta yang notabene adalah masyarakat urban ibukota hafal shalawat Burdah ini. Meriahlah malam ini dengan lantunan shalawat di pusat kota.

Di tengah sholawat saling bersambut, Cak Nun yang baru tiba langsung bergabung. Kiai Muzammil kemudian mengajak seluruh Jamaah untuk berdiri dan melantunkan sholawat Barzanji, dan isyik menikmati shalawatan bersama seluruh Jamaah Kenduri Cinta.

Fenomena yang sangat unik jika melihat fakta masyarakat urban di Jakarta, setiap hari yang mereka hadapi adalah kemacetan dan kebisingan di jalanan, belum lagi dinamika hidup mereka yang harus saling sikut, saling jegal, tidak disangka ternyata mereka hafal beberapa bait shalawatan. Kalimat-kalimat shalawat seperti sudah sangat akrab menemani mereka dalam menghadapi kerasnya hidup di Jakarta.

Setelah menyapa Jamaah, Cak Nun bercerita bahwa di tengah jadwal yang begitu padat saat ini, bersyukur malam ini dapat hadir di Kenduri Cinta. Cak Nun kemudian meminta Kiai Muzammil untuk menceritakan tentang kisah-kisah Nabi yang berhubungan dengan Kambing.

Kiai Muzammil bercerita, Rasulullah saw menggembala kambing sejak usia 2 tahun. Dan salah satu motivasi menggembala kambing adalah dalam rangka membalas jasa Ibunda Halimah yang telah menyusui Rasulullah Saw sewaktu kecil.

Masuklah ke Hutan Rimba Maiyah Secara Total

Menyambung kisah yang diceritakan oleh Kiai Muzammil, Cak Nun menceritakan tentang kisah Nabi Ibrahim yang diperintah Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail. Jarang dipahami oleh masyarakat bahwa perasaan Nabi Ibrahim saat itu dianggap tidak memiliki beban, karena melaksanakan perintah Allah. Padahal, seorang Nabi Ibrahim sekalipun adalah seorang manusia yang tetap memiliki sifat-sifat manusia. Tentu saja akan merasa berat dan sedih ketika mendapat perintah Allah untuk menyembelih Nabi Ismail.

Cak Nun menekankan kepada Jamaah agar memasuki Hutan Rimba Maiyah ini dengan totalitas kepasrahan kepada Allah. Cak Nun menggambarkan, jika suatu hari kita memasuki sebuah hutan, jangan hanya fokus pada satu tujuan saja. Misalkan kita menyukai durian, maka bukan hanya durian saja yang kita fokuskan untuk dicari. Karena di dalam hutan rimba, Allah tidak hanya menyediakan durian. Tetapi juga salak, mangga, apel, jeruk dan yang lain sebagainya.

Kebanyakan, ketika kita fokus terhadap durian, maka ketika berada di dalam hutan rimba pun hanya terfokus kepada durian. Mengabaikan jeruk, mangga, salak, apel dan yang lainnya. Padahal, Allah menyediakan banyak sekali buah-buahan di dalam hutan rimba itu.

Begitulah yang diharapkan oleh Cak Nun kepada Jamaah Maiyah apabila memasuki Hutan Rimba Maiyah. Ada banyak sekali pintu-pintu ilmu di Maiyah yang sangat mungkin kita temui. Bisa saja seseorang masuk ke Maiyah dengan satu tujuan pintu ilmu, tetapi dengan modal dasar kepasarahan total kepada Allah, maka sangat mungkin kita menemukan dan memasuki berbagai pintu-pintu ilmu di Maiyah. (Fahmi Agustian)

Pada Kenduri Cinta kali ini, Kiai Muzammil turut hadir. Agendanya hanya satu, ingin mengajak mengajak Jamaah Maiyah Kenduri Cinta untuk bershalawat bersama. Bulan ini masih bulan Maulid, sehingga Kiai Muzammil merasa perlu mengajak Jamaah Maiyah Kenduri Cinta untuk bershalawat bersama-sama. Kiai…