Rindu kepada Maiyah

Sampai sekarang, saya terus mencari sebenarnya apa yang membuat saya selalu rindu datang ke acara-acara Maiyahan, baik yang rutin maupun yang di luar jadwal rutin. Paling tidak, sampai pada tanggal 9 Oktober 2017 ketika ada acara Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng di Universitas AMIKOM saya menemukan beberapa hal.

Sebelum itu saya ingin mengutarakan sesuatu. Entah kenapa setiap KiaiKanjeng melantunkan shalawat badar untuk mengiringi Mbah Nun dan sohibul bait yang menuju panggung di acara-acara Maiyahan seluruh tubuh saya bergetar, ndredek karena bahagia. Rasa-rasanya Rasulullah hadir di situ. Saya tidak tahu apakah jamaah yang lain juga merasakan hal seperti itu. Monggo, direnungkan sendiri-sendiri.

Lanjut ke pembahasan awal. Hal pertama yang dapat saya temukan kenapa saya rindu dengan acara-acara Maiyahan adalah; saya duduk dalam acara-acara tersebut tetapi saya merasa bahwa ada salah satu unsur rohani yang melakukan aktivitas luar biasa dan menyenangkan. Beda halnya ketika berada di luar acara-acara Maiyahan. Saya melakukan banyak aktivitas, gerak sana, gerak sini, tetapi unsur rohani yang seharusnya melakukan banyak aktivitas malah diam, tidak bisa ngapa-ngapain. Ia seperti terpenjara. Silakan diurai sendiri. Saya juga tidak bisa menjelaskan secara eksplisit apa unsur rohani tersebut.

Mbah Nun dan juga para narasumber yang pernah berbicara di Maiyahan sering mengatakan mengapa kok bisa duduk berjam-jam, tanpa pipis, tanpa terlau banyak berubah posisi, kalau bahasa jawanya usek. Dengan penjelasan beliau-beliau saya cukup setuju. Tetapi saya tidak langsung memercayainya secara mentah-mentah, supaya ada dialektika tersendiri, sehingga saya bisa menemukan sesuatu melalui pencarian-pencarian saya sendiri.

Saya melakukan suatu perbandingan. Ketika saya duduk di acara-acara Maiyahan, saya hanya duduk di tanah atau aspal atau conblock dan itu hanya beralas kadang-kadang alas plastik, kadang-kadang koran, atau bekas bungkus semen yang saya bawa dari rumah. Tetapi saya bisa duduk bersila dalam waktu yang sangat lama, tidak kesemutan, tahan tidak pipis. Namun ketika saya nonton bioskop, saya di duduk di sebuah kursi yang empuk, di ruangan ber-AC (kadang-kadang merasa kedinginan) tetapi saya sangat sering berganti-ganti posisi duduk, kadang kaki di atas, kadang kaki di bawah, kadang jegang. Pokoknya usek, gerak-gerak terus.

Kalau betah atau tidak berada dalam posisi tersebut adalah akibat dari perasaan senang, saya nonton bioskop juga merasa senang. Tetapi kenyataannya tingkat betah atau tidaknya lebih lama di Maiyahan. Saya membuat kesimpulan sementara, kalau tadi ada unsur rohaniah yang beraktivitas secara luar biasa dan menyenangkan, yang ini ada unsur rohaniah yang rasanya seperti cocok, betah bahkan sumeleh dengan suasana dan nuansa yang terbangun di Maiyah. Yang ini, juga silakan diurai sendiri.

Ketika hadir dalam acara sinau bareng di AMIKOM saya duduk sangat dekat dengan sound out. Suara yang keluar dari sound out sangat keras. Tetapi, telinga saya menerimanya dengan sangat welcome. Juga banyak sekali jamaah yang lebih dekat dengan sound out, bahkan sampai mepet. Dan telinga mereka juga sangat welcome dengan keadaan tersebut.

Saya bandingkan ketika saya nonton konser band rock, ketika saya dekat dengan sound out rasa-rasanya di telinga keras sekali. Sehingga saya menjauhi wilayah yang dekat dengan sound out. Dan selalu, setelah acara selesai telinga dan kepala rasanya begitu capek. Tetapi menurut saya lain di Maiyahan. Apa saja yang keluar dari sound out seperti ada pola-pola dan ritme-ritme tertentu yang membuat indera pendengaran nyaman. Sehingga anggota tubuh yang lain juga nyaman. Rasanya seperti dipijiti.

Itu yang saya dapat temukan sementara ini. Masih sangat banyak yang bisa kita temukan dari kerinduan kita kepada Maiyah.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image