Daur-II • 049

Riba, Mabuk, dan Gila

“Aku ingin sowan sujud kepada Allah dan sungkem ngapurancang di hadapan Rasulullah, untuk mengaku salah, melaporkan kegagalan hidupku, serta menyerahkan nasib sepenuh jiwaku”, rintih Mbah Sot.

“Enam puluh tahun lebih aku diutus hidup di dunia, hasilnya adalah gagal Iqra`. Semakin lama keberadaanku, semakin rusak kehidupan manusia. Semakin tua umurku, semakin lama jam terbang kekhalifahanku, kehidupan di bumi seperti kapal yang semakin goyang dan para penumpangnya semakin dirasuki penyakit gila”

“Kehidupan manusia dipenuhi dan dikendalikan oleh riba. Sampai hal-hal yang prinsippun dilebihkan atau dikurangi. Tidak hanya makanan, tapi juga terapan kata dan makna, pun kalimat, pengetahuan dan ilmu. Nilai-nilai yang berlakupun di-riba-kan. Kemauan manusia berposisi riba, menjauh dari presisi sunnah penciptaannya”

“Sistem, tatanan, institusi, manajemen, pengelolaan kebersamaan hidup, pertukaran kehendak, pergaulan dan interaksi di bidang apapun, dari kampung, pasar hingga urusan Negara, dipenuhi oleh kesengajaan inisiatif-inisiatif pengurangan dan pelebihan, yang merusak kebenaran nilai Allah untuk kehidupan manusia”

Orang-orang yang makan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran penyakit gila”. [1] (Al-Baqarah: 275). Dan “dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya”. [2] (Al-Hajj: 2).

“Penguasa di antara manusia makin mabuk, yang dianiaya makin kalap, pem-bias-an dari garis nilai Allah sampai ke derajat gila. Sungguh tak berguna kesertaan hidupku di antara ummat manusia di dunia”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra