Revolusi Kupu-kupu pada September

Catatan Relaunching Novel "September" di Rumah Maiyah, 3 November 2017

Kegiatan mengejar kupu-kupu memang sungguh menyenangkan, jauh dari kesan mengerikan bagi si manusia. Tapi bagi si kupu-kupu yang dikejar, kegiatan ini mungkin tidak seceria itu. Bisa jadi malah traumatis, kelam dan peristiwa sejarah penuh tekanan baginya. Kasihan si kupu-kupu.

Foto: Arul.

Ini belum kalau kita mengingat, kisah “pengejaran kupu-kupu” ini diceritakan oleh seorang pria dengan kaos merah menyala revolusioner bernama Mas Andi.

Bulan September selalu mencekam buat saya gara-gara film itu (Pengkhianatan G30S garapan Arifin C Noer) karenanya saya berusaha mengembalikan hari-hari ceria masa kecil saya dengan pergi ke sawah, mengejar kupu-kupu.

Tentunya soal sudut, sisi dan jarak pandang. Saya pun menuliskan kalimat Mas Andi itu, tentu dengan jangkauan sudut, jarak, sisi pandang saya, dan ingatan.

Mas Andi bercerita begitu sebagai pengantar sebelum pertanyaan yang diajukan pada Pak Noorca M Massardi, di Rumah Maiyah pada Jumat malam tanggal 3 November 2017. Rumah Maiyah saat itu memang menjadi tempat re-launching novel Pak Noorca, berjudul “SEPTEMBER” yang diterbitkan ulang oleh penerbit Basabasi Yogyakarta.

Novel Pak Noorca ini cukup unik, dia bukan novel sejarah namun menggambarkan satu sudut pandang sejarah soal kejadian tragis 1965 dengan mem-fiksikannya. Pak Noorca menyampaikan bahwa apa yang dituliskannya dalam novel ini memang disusun berdasarkan data-data yang ditemukannya.

Foto: Arul

Soal data ini kemudian menjadi titik masuk Pak Iman Budi Santosa, yang juga tampil sebagai pembicara malam itu. Kita selalu berkutat dengan data sejarah, tapi siapa yang berhak mengklaim sebagai pemilik data?

Pak Iman kemudian menceritakan pengalaman beliau ketika meletus kejadian September/Oktober 1965 itu. Beliau berangkat pagi-pagi untuk praktik perkebunan dengan nyangking cangkul, bertemu tentara yang berjaga, ditanya ini-itu untuk kemudian dibiarkan berangkat. Pak Iman mengingat pada hari berikutnya sekolah diliburkan. Bagi siswa sekolah, libur tentu menyenangkan.

Kisah yang dialami Pak Iman, yang saat itu seorang siswa sekolah perkebunan, adalah kisah biasa saja mengenai seorang siswa yang tidak tahu-menahu bahwa ada kejadian menggemparkan di ibukota sana. Tapi ini juga adalah data.

Dengan kesederhanaan bahasanya, Pak Iman sedang menyampaikan apa yang sessungguhnya belakangan ini sedang marak di kalangan pemerhati dan akademisi sejarah. Bahwa data sejarah, tidak lagi dipegang oleh otoritas tertentu. Setiap orang dengan keterbatasan sudut, sisi dan jarak pandangnya berhak mengajukan hasil peresapannya dan mesti diakui sebagai data juga.  Soal uji kelayakan dan validitas data, nah itu bahasan berbeda.

Sejarah sebagai ilmu memang tidak bicara fakta masa lalu, karenanya ilmu sejarah bukanlah digolongkan ilmu pasti. Istilahnya, the past is unpredictable”. Dia bicara soal data yang relevan terhadap satu peristiwa atau tokoh, kemudian disusun menjadi satu narasi utuh. Pengertian dan klasifikasi soal “Data” dan “Relevansi” inilah yang belakangan sedang mengalami pembongkaran makna.

Foto: Arul

Mbah Nun sebagai tuan rumah, kemudian juga menambahkan beberapa cerita dari pengalaman masa kecil beliau. Saya sendiri punya data pribadi yang kalau boleh saya sampaikan di tulisan ini begini; Mereka yang dikenal sebagai orang besar, manusia berjiwa besar entah kenapa selalu memiliki memori masa kecil yang tertanam kuat dan saya selalu menikmati saat Mbah Nun bercerita soal pengalaman masa kecilnya.

Mbah Nun bercerita bagaimana menyaksikan kedua belah pihak yang bertikai saat itu sama-sama memiliki pembenaran, sama-sama beringas saat ada kesempatan. Artinya, ini memang persoalan watak manusia, sehingga cukup aneh bila ada wacana pelurusan sejarah yang hanya berdasarkan satu sudut pandang.

Novel Pak Noorca oleh Mbah Nun memang juga satu sudut pandang sejarah, namun penulisnya memiliki kearifan yang tinggi sehingga tidak tergoda dengan istilah “pelurusan sejarah” apalagi sampai menuntut permintaan maaf. Dalam kondisi perang, chaos, siapa harus minta maaf ke siapa? Ada sama-sama pelaku dari kedua belah pihak, ada sama-sama korban tak berdaya juga dari keduanya.

Mbah Nun bercerita juga, bagaimana beliau mendatangi satu pondok pesantren yang dibantai seluruh penghuninya untuk hanya disisakan Bu Nyai seorang diri, namun Mbah Nun juga menyaksikan bagaimana satu keluarga pendukung partai diseret ke pinggir kali bakda jumatan untuk dihabisi oleh warga. Kembali, siapa harus minta maaf ke siapa?

Adakah kita punya pilihan? Selain kembali ke kalimat-kalimat mbah-mbah kita terdahulu sing uwis ya uwis. Mbesuk aja dibaleni maneh… Kalimat itu diucapkan juga oleh Pak Iman, dan entah kenapa dalam otak saya tersetel rekaman suara Mbah Nun “TAPI KITA BANDEL…!” dalam pembacaan puisi “Kemana Anak-Anak Itu”.

Foto: Arul

Mas Niam sebagai pihak paling moderat dalam acara ini (maksud saya, moderator) pun mempersilahkan hadirin wal hadirot untuk bertanya-jawab pada para pembicara. Seorang Mbak mengawali dengan bertanya mengenai kiat menulis di masa kini. oleh Mbah Nun pertanyaan ini dijawab serius dengan singkat padat “Caranya menulis ya nulis!”

Mas Andi yang saya ceritakan di awal itu mendapat giliran kedua, dengan pengantar kisah diwajibkan nonton film G30S setiap bulan September, Mas Andi menyampaikan apresiasinya terhadap novel SEPTEMBER Pak Noorca yang, selain mengejar kupu-kupu, disebutnya telah menyelamatkan masa kecilnya (Mas Andi, BUKAN kupu-kupu).

Saya, yang datang sebenarnya tidak begitu tahu akan ada acara apa di Rumah Maiyah sebelumnya, hanya berbekal bahwa ada yang perlu diliput, mendapati Pak Noorca M Massardi dan Mbak Rayni Massardi akhirnya tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya mengenai soal film. Nama Pak Noorca dan Mbak Rayni memang selalu ada disebut bila kita mengkaji sejarah film nasional. Pun mungkin bukan betul pertanyaan, hanya sekadar mengkonfirmasi sedikit asumsi saya mengenai film G30S. Ini tidak akan saya perpanjang, karena rasanya kurang enak menulis tentang diri sendiri.

Ada kegundahan sendiri memang bagi penikmat film, menyaksikan bagaimana sebuah karya dari tangan maestro sekelas Arifin C Noer, dipersidangkan oleh khalayak hanya berdasarkan muatan, konten, tanpa film itu diapresiasi teknis-teknisnya; kelamnya pencahayaan, music score yang simple dan efektif, make up, busana, pergerakan kamera dlsb. Tapi sudahlah, ini kemudian jadi bahan obrolan saya dengan Pak Noorca pasca acara berlangsung.

Pada pembacaan persoalan yang ruwet semrawut seperti kejadian 65, kita mungkin sebaiknya sebisa mungkin menghindari pola pikir parsial melainkan –kalau boleh kita sebut– sudut pandang silmi, melembut. Dan dari kelembutan, kita melihat dengan holistik, bagaimana realitas adalah lingkaran sebab-akibat.

Kita perlu mengerti proses seperti kupu-kupu itu. Dari ulet, bertapa kepompong kemudian sedikit demi sedikit merekahkan sayap yang merentang, kemudian terbang menghirup cakrawala kebebasan untuk kemudian… Dikejar Mas-mas berbaju merah?

Foto: Arul

Mungkin lain kali para kupu-kupu dari berbagai poltibiro juga mengadakan rapat, merencanakan pembalasan dendam pada teror berkaos merah dan melancarkan serangan revolusi kupu-kupu. Yah, imajinasi saya saja. (MZ Fadil)

*Kalimat “Revolusi Kupu-Kupu” adalah judul dari sebuah lakon teater yang pernah saya tulis untuk dipentaskan di kampus

Kegiatan mengejar kupu-kupu memang sungguh menyenangkan, jauh dari kesan mengerikan bagi si manusia. Tapi bagi si kupu-kupu yang dikejar, kegiatan ini…