Refleksi Urban, “Menagih Hidayah di Maiyah”

Masya Allah, anak-anakku kita di sini bahagia. Tertawa lega, saling mencintai. Diridloi Allah.” –Mbah Nun

Untuk membuka sebuah tulisan, kalimat setidak-tidaknya ingin dimengerti sebagai bahasa yang memiliki caranya sendiri untuk menyampaikan. Bukan soal berita, artikel, ataupun opini yang memiliki misi untuk menaikkan atau menjatuhkan sebuah fenomena. Tapi sebuah bentuk perspektif yang tersampaikan dengan niat apa adanya. Seperti halnya prolog berikut, Maiyah adalah sebuah hidayah; berikut tulis Mbah Nun pada salah satu Tetes di caknun.com.

Refleksi sederhananya barangkali begini. Hidayah menurut pengertian umum, merupakan sebuah hal baru yang diterima dan disepakati diri sendiri; wawasan, sudut pandang, paradigma, dll. Dialektiknya mungkin seperti ini; sebuah cahaya yang sudah sewajarnya ada di depan sebuah pintu rumah kita, cahaya itu akan masuk ke dalam rumah ketika kita membuka pintunya. Premisnya adalah bahwa ‘hidayah’ merupakan hal baru yang ‘wajar’, wajar ada dalam diri kita dan wajar tidak. Seperti yang kita tahu dengan wajar, bahwa ‘kewajaran’ tersebut memiliki bobot value; ayat, nasihat-nasihat, teguran psikis, dll.  Good meaning-nya terletak pada, apakah kita akan membukakan pintu untuk ‘hidayah’ tersebut atau tidak?

Jadi, “Maiyah adalah sebuah hidayah” terletak pada mindset. Yaitu persoalan apakah mind kita akan kita setting dengan hal-hal yang sudah diprogreskan dalam kajian di Maiyah, atau tidak. Jika tidak, maka alur yang terjadi akan seperti yang sempat saya alami beberapa bulan lalu. Kecewa, marah, bahkan ingin menuntut pada semua orang yang hadir dalam Maiyahan.

Pada awal tahun 2017 sekitar bulan tiga atau empat, untuk kedua kalinya saya mengikuti pengajian Maiyah yang diselenggarakan di Kampus Polinema Malang. Pada waktu itu, saya sangat khidmat menikmati gamelan KiaiKanjeng yang berkolaborasi dengan seorang profesor perempuan di bidang musik dan ethnomusicology yaitu Anne K. Rasmussen. Menurut berita beliau adalah seorang Peniliti Musik Islam di Indonesia.

Musik yang dimainkan begitu indah, beberapa petikan dawai Timur Tengah dikelilingi dengan suara Gamelan Jawa. Saya mendengarkan sambil membayangkan seorang Cleopatra turun dari langit dan mecium tangan Raja Nusantara sebagai bentuk saling menghormati dan menghargai sesama manusia istimewa di muka bumi. Benar, sungguh alunan musiknya menggiring imajinasi metaforis.

Selesainya kedua permainan musik tersebut, kajian dimulai membahas soal Kebahagiaan menjadi rakyat Indonesia. Mbah Nun kemudian memberikan kalimat-kalimat pemantik. Seingat saya waktu itu cerita tentang carut-marut sistem pemerintahan. Diterima-dan tidak diterima masyarakan tercermin dari beberapa kegiatan masyarakat yang secara substansi adalah kreatif, tapi nyatanya tunggangan beberapa kepentingan politis, dan beberapa ketimpangan-ketimpangan lain, sehingga berulang kali Mbah Nun mengeluarkan statement, “Masya Allah, anak-anakku kita di sini bahagia. Tertawa lega, saling mencintai. Diridloi Allah.” Mungkin lebih dari dua atau tiga kali beliau mengucapkan kalimat serupa, yang menurut saya mengandung sebuah doa dalam pengucapan beliau.

Kalimat itu saya eja, saya ingat-ingat betul. Sampai beberapa waktu kemudian saya ingin pergi ke toilet karena kebelet pipis. Situasi di tengah jamaah memang hangat, tapi cuaca Malang malam hari tidak. Kemudian saya mencoba mencari di mana ada kamar kecil yang bisa digunakan di dekat-dekat area panggung Maiyah. Ternyata tidak ada, jamaah harus ke belakang masjid. Meskipun tidak terhitung jauh tapi hal tersebut dijalani oleh orang-orang dengan kondisi ‘kebelet’, maka semua menjadi tegang dan membuat risau, termasuk saya.

Setelah sampai di depan masjid, yang terjadi bukanlah hal yang saya harapkan, antrian sangat-sangat panjang. Saya tidak sempat menghitung, tapi percayalah, sangat panjang. Kemudian saya bergabung di antrian. Dalam beberapa menit saya sadar, ternyata saya bergabung di antrian ‘Laki-laki’, spontan saya berpindah ke antrian sebelah, ternyata juga antrian ‘Laki-laki’. Normalanya sebuah masjid menyediakan dua kamar kecil, untuk laki-laki dan perempuan. Tapi kedua antrian panjang semua berisi laki-laki termasuk di depan kamar kecil perempuan. Kemudian saya teliti pelan-pelan, ternyata ada beberapa ibu-ibu dan adik-adik mahasiswi antri di tengah-tengah barisan antrian laki-laki itu.

Mulanya demikian, seorang ibu menegur mas-mas mahasiswa yang antri panjang di depan kamar kecil perempuan. Dengan iba dia memohon untuk didahulukan karena sakit perut dan meninggalkan anaknya di tengah ratusan jamaah Maiyah. Saya simak betul kejadian tersebut. Yang mengecewakan adalah, mahasiswa itu menjawab dengan angkuhnya untuk ikut mengantri di belakang karena dia juga sudah berdiri mengantri lama. Belum selesai di sana, kemudian bapak-bapak di depannya ikut serta menegur ibu tersebut, seingat saya sampai muncul kalimat “Ojo rewel ae a bu, bu”. Jangat cerewet dong Bu. Semoga ingatan saya tidak menimbulkan madlarat.

Spontan mendengar hal tersebut, saya maju dan menggandeng ibu itu memutus barisan antrian kira-kira ada 20-25 orang. Seketika itu beberapa laki-laki muda nyeletuk dengan ungkapan-ungkapan kesal kerana mereka merasa kami srobot antriannya. “Maaf, mas dan bapak-bapak. Silahkan berkenan pindah antrian ke sebelah, ini kamar kecil khusus ‘Perempuan’. Njenengan tidak akan mendapatkan barokah Maiyah kalau begini cara menerapkan ilmu-ilmu. Jangan membuat malu Maiyah di depan toilet.” Jelas saya dengan perasaan menahan kesal dan amarah.

Lalu kami berdua disusul ibu dan mahasiswi yang lain membuat antrian kebelakang di depan kamar kecil ‘Perempuan’. Secara polaritas, pertimbangan mahasiswa tersebut ideal ‘one-one; antri-antri’. Tapi apakah secara kesadaran kemanusiaan, menunjukkan sikap cerdas dalam berakhlak sosial? Refleksi tersebut kembali pada diri masing-masing. Bahkan, mengingat Cak Nun mengulang kalimat-kalimat “Masya Allah, anak-anakku kita di sini bahagia. Tertawa lega, saling mencintai. Diridloi Allah.” Sepertinya belum berlaku pada antrian toilet. Dalam hati saya ingin mengadu kepada Mbah Nun, Hidayah saling mencintai dan bahagia belum samai pada ‘Antrian Toilet Saat Maiyah’.

Refleksi ini kecil, remeh, bahkan terjadi di toilet. Tapi akan lebih terlihat kecil, kerdil, ketika Hidayah yang begitu istimewa melalui Mbah Nun berupa, “Masya Allah, anak-anakku kita di sini bahagia. Tertawa lega, saling mencintai. Diridloi Allah.” tidak bisa diterima dalam menkonstruksikan etika-etika sederhana.

Yang pada umumnya kita ketahui, bahwa Maiyah mengkaji ilmu-ilmu dan wawasan yang mengerucut pada Oriented Ethic. Bahkan kita ingat kaidah fiqih, “Almuhafadhatu ‘alal qadimis-shalih, wal akhdzu bil jadidil ashlah.” Kita dihimbau untuk tidak taqlid, budaya meniru tanpa tahu-menahu, karena itu Maiyah terbuka untuk siapapun yang ingin bergabung di barisan pengajian, peng-kajian, peng-aji-an.

Tidakkah persoalan ‘Saling Menghargai’ adalah lebih didahulukan untuk membangun sebuah kelompok yang baik? Kelompok yang baik untuk membangun sebuah progres yang baik? Progres yang baik untuk membangun sebuah budaya yang baik? Budaya yang baik untuk membuat keluhuran yang baik? Keluhuran yang baik untuk membangun sebuah nusantara yang baik?

Nusantara inilah yang melahirkan Indonesia yang sedang luka, di sinilah barangkali Maiyah adalah ruang istirahat Indonesia dari luka-luka berkepanjangan. Tidakkah demikian? Lalu durasi duduk kita bermaiyah hampir setengah dari satu malam, tidakkah sia-sia tanpa sebuah Hidayah? Menagih diri sendiri untuk memberi hidayah yang datang, open minded dalam membaca semiotic dan dalalah. Dan mengaplikasikannya menjadi sebuah kualitas akhlak sosial. Semoga kita segera saling mencintai, menghargai, dan diberi kecerdasan menerima Hidayah lantaran siapapun.

Masya Allah, anak-anakku kita di sini bahagia. Tertawa lega, saling mencintai. Diridloi Allah.” –Mbah Nun Untuk membuka sebuah tulisan, kalimat…