Sinau Bareng Membangun Manusia Indonesia di Eropa

Rebutan Masjid

Bagian 6 dari 8

Selepas acara sinau bareng dengan Cak Nun, kami diajak panitia Amsterdam untuk mengunjungi masjid baru mereka. Bekas TK yang disulap ciamik menjadi masjid. Lantai dua dengan balkon yang luas serasa pas dengan kopi jahe yang mereka suguhkan. Seperti di setiap tempat, Cak Nun serupa magnet diskusi untuk memperbincangkan apapun saja, dari lingkup lokal, regional, nasional, maupun internasional. Dan bahasan kita kali ini adalah tentang: rebutan masjid.

Harus tepa selira dalam perbedaan paham termasuk urusan masjid.
Harus tepa selira dalam perbedaan paham termasuk urusan masjid. Foto: Gandhie.

Selama masih ada tafsir, maka akan muncul pemahaman berbeda dari setiap orang atas Al Qur`an dan Hadits itu sendiri. Sehingga menjadi keniscayaan jika muncul perbedaan paham antara kelompok satu dengan kelompok yang lain. Begitu juga dengan saudara kita yang menamakan dirinya sunni salafi atau kelompok lain menyebut mereka dengan sebutan wahabi. Yang menjadi masalah adalah bahwa perbedaan ini tidak menjadikan dewasa di kalangan pengikutnya. Lebih-lebih jika berurusan dengan tempat ibadah. Toh juga sama-sama dengan muara yang serupa; mengibadahi Allah Subhanahu wa ta’ala. Sangat disesalkan jika kemudian karena beda cara pandang menyebabkan kelompok lain yang masih saudara se-Islam, bahkan se-Indonesia terusir dan mengharuskan mencari tempat ibadah lain.

Klaim atas masjid menjadi marak. Masjid ini dikuasai A, diatur B, ditunggangi C. Kenapa tidak bisa beribadah dengan keyakinan mahdzab masing-masing di satu masjid, dibagi jadwal kajian dan pemakaian aktivitasnya, dan bersama-sama saling menghormati. Ataukah jika memang harus steril dari aktivitas yang tidak sepaham, maka bisa dibantu kelompok lain untuk membangun masjid sendiri. Atau jika bahkan membantu orang lain yang tidak sepaham dalam urusan ibadah juga terlarang, kenapa tidak kemudian urunan untuk membangun masjid sendiri dan bukan dengan mengklaim bahwa masjid ini telah dikuasai oleh sekelompok pihak.

Saya bukan ahli agama, tapi waktu saya kecil, saya teringat ustadz TPA saya mengajarkan doa “Allahuma arinal haqqo-haqqo warzuqnatiba’a, wa arinal batiila-batiila, warzuqnajtinaba”. Tunjukkan duh Gusti kalau yang benar memang benar dan yang salah memang salah. Doa tersebut menunjukan kita tidak hidup dalam dunia yang murni hitam-putih. Bahkan kita sendiri masih mengupayakan untuk selalu mendekati spektrum warna putih.

Dunia ini bercampur, dan karena yang bercampur adalah manusia, maka wajib hukumnya bagi kita untuk menggunakan bahasa kemanusiaan. Bahasa tepa selira, bahasa kelapangan hati untuk menerima bahwa yang benar bukan hanya kita dan yang salah bukan hanya mereka, tetapi juga kita. Toh sebelumnya teman-teman di Amsterdaam berasal dari induk organisasi yang sama, PPME (Persatuan Pemuda Muslim seluruh Eropa). Idealnya juga bisa diselesaikan dengan semangat kebersamaan seperti ketika tahun 1973 membentuk organisasi tersebut.

Selepas acara sinau bareng dengan Cak Nun, kami diajak panitia Amsterdam untuk mengunjungi masjid baru mereka. Bekas TK yang disulap ciamik menjadi masjid.