Rasa Agama Nusantara

Fa man sya`a falyu`min, wa man sya`a falyakfur”. Bagi yang berjuang mensungguh-sungguhi Allah, Islam, Al-Qur`an, Pancasila, dan Bhinneka Tunggal Ika, nikmatilah pagi hari kesungguhanmu seusai kegelapan malam.

Bagi yang butuh memanipulasi Allah, mengeksploitasi Islam, menunggangi Al-Qur`an, men-talbis-i Pancasila, dan memanfaatkan Bhinneka Tunggal Ika, demi mengejar keuntungan dunia, kemenangan politik dan kekuasaan — nikmatilah rahasia dan kejutan-kejutan “yaroh”.

Aku meneruskan pengabdianku merawat tetanaman di Kebun Nusantara.

Sejak jauh sebelum Masehi, manusia Nusantara sudah mengarungi kerinduan kepada asal-usulnya, supaya mengetahui arah dan tujuan pada ujung kehidupannya. Nenek moyang kita sudah mengolah rasa keagamaan, meskipun ada abad-abad di mana mereka belum didatangi oleh Agama.

Nenek moyang kita sudah sangat mendalam mencari Tuhan, meskipun ada kurun waktu di mana Tuhan belum menurunkan teks firman ke bumi. Manusia Nusantara melakukan perjalanan keluar dan ke dalam dirinya. Nenek moyang kita adalah para pecinta yang mencari kekasihnya. Di suatu tahap mereka menyadari bahwa yang mereka kangeni bukan sekadar kekasih, tapi Kekasih.

Ada yang menemukan banyak Kekasih. Mereka memberi sebutan-sebutan atau nama Kekasih. Ada yang melihat banyak Kekasih. Ada yang menyimpulkan ada tiga Kekasih. Sampai akhirnya menyepakati Kekasih itu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tak ada yang lebih sejati kebenarannya dari Esa, Tunggal, Siji, The Only, Satu-satunya.

Siapa gerangan nama-Nya? Apakah Ia perlu nama? Apakah Ia punya teman-teman sepergaulan sehingga perlu sebutan? Apakah manusia punya kemungkinan untuk mengetahui nama-Nya? Apakah pengetahuan dan ilmu manusia mampu menjangkau-Nya?

Pasti tidak. Kemungkinannya hanya satu: Sang Kekasih memperkenalkan diri-Nya kepada manusia yang diciptakannya. Terserah itu nama sejati-Nya, atau sekedar inisial agar manusia tidak kebingungan menyebut-Nya. Manusia tak juga mampu mengenali karakter dan sifat-sifat-Nya. 99 kah? Atau 240? Atau tak terbatas? Tan kinoyo ngopo, tan keno kiniro, laisa kamitslihi syaiun.

Tak ada daya pada manusia, kecuali Sang Kekasih sendiri yang hadir dan mengekspresikan diri pada batas kemampuan manusia untuk bisa mengakses-Nya. Apakah kehadiran-Nya bisa ditangkap oleh panca-indera? Rasionalkah bahwa Ia Tuhan kalau manusia bisa melihat-Nya? Ia menyatakan “la tudrikuHul abshar wa Huwa yudrikul abshar, wa Huwal Lathiful Khobir”. Makhluk tak sanggup melihatnya, Ia melihat semua makhluk-Nya, Ia Maha Lembut dan Maha Mengabarkan.

Kalau manusia mencari Tuhan, itu namanya rasa keagamaan atau religiusitas. Kalau Tuhan menginformasikan, menghidayahi, menyuruh dan melarang, itu namanya Agama atau religion. Kalau manusia menentukan inisiatif untuk mendekati Tuhan, apapun bentuknya, apapun ucapan dan gerakannya, kapapun waktunya — itu namanya rasa keagamaan. Di dalam Islam disebut Ibadah Muamalah. Kalau Tuhan yang mengatur peribadatan manusia kepada-Nya, dengan bentuk, gerakan, ucapan serta ketentuan waktunya — itu namanya Agama. Dalam Islam namanya Ibadah Mahdloh. Tanda Agama adalah kalau ada Ibadah Mahdloh. Karena kalau Ibadah Muamalah, yang meskipun juga baik, tetapi ia bukan Agama, melainkan rasa keagamaan.

Informasi Tuhan berjodoh dengan akal manusia yang Ia siapkan, dengan daya serap, daya tembus lahir batin. Tak terbatas kabar dari Allah, manusia hanya mampu mengakses sangat sedikit cipratannya. Apalagi formula literasi Tuhan sama sekali tidak seperti teks akademis ilmiahnya manusia. Jangan meneliti semut dengan kepustakaan utama Surat An-Naml, atau kebingungan mempelajari riwayat Nabi Musa karena tidak ada Surat Musa. Surat Lebah dan Surat Madu juga bukan kepustakaan tentang hewan.

Ada upaya religiusitas yang menemukan simbolisme evolusi kesadaran nilai dalam peradaban adalah satu Kelapa dengan empat tahap: Bluluk (Taurat), Cengkir (Zabur), Degan (Injil) kemudian Kelapa (Al-Qur`an). Jangan marah. Ini religiusitas, gairah pencarian cinta. Bukan Agama, bukan firman. Parameternya bukan benar salah menurut tafsir manusia, melainkan ridha Allah berdasarkan niat baik atau buruknya. Bluluk Cengkir Degan Kelapa itu satu, bukan empat. Tapi peradaban manusia sampai abad-21 meng-empat-kan itu dan mempertengkarkannya satu sama lain.

Paralel dengan “satu dianggap empat” itu, terdapat juga bias dan tipuan kamera ilmu manusia yang mendikotomikan Langit dengan Bumi, Dunia dengan Akhirat, Barat dengan Timur, Agama Samawi dengan Agama Ardli, Kesalahen Individu dan Kesalehan Sosial, Album Pop dan Album Religi, Nada dan Dakwah. Bahkan secara statis memilah makro dengan mikro, aku di sini Tuhan di sana, cinta kepada keluarga bersaing dengan cinta kepada Tanah Air, cinta kepada Tanah Air dicemburui oleh cinta kepada Tuhan. Seolah-olah manusia tidak pernah belajar fisika glepung, serbuk, gelembung, titik, garis, ruang, yang seluruhnya satu dalam Maha Gelembung Tuhan Yang Maha Esa. Seakan-akan belum ada software 010101.

Tuhan juga sangat getol menginformasikan ilmu melalui simbolisme buah, daun, pohon, dan kebun. Semua kalimat yang baik, manusia yang baik, Negara yang baik, masyarakat dan perusahaan yang baik: seperti pohon yang baik, “yang akarnya menghunjam ke bumi dan dedaunannya merambah langit”. Surga diperkenalkan dengan kata Al-Jannah, artinya kebun. Kehidupan adalah berkebun, agar kelak terlatih ketika menghuni Kebun Surga. Tetapi Ulama sibuk dengan pagarnya. Pendidikan Islam adalah pendidikan pagar, bukan melatih bercocok tanam di kebun kehidupan.

Dari sumpah Tuhan atas empat faktor: Tin, ambil buah. Dari Zaitun, lihat pohon. Dari Sinai, temukan hamparan tanah bebukitannya. Dan Baladil-Amin adalah bangunan peradaban manusianya. Terdapat evolusi yang “tidak taat waktu” dari Budha, Isa, Musa, hingga Muhammad. Benih nilai dulu, kemudian ditanam jadi pohon, kemudian ditata kebunnya, akhirnya dibangun Peradaban Al-Balad Al-Amin.

Islam jangan mandek di “Mekah” dulu sebagaimana aspirasi Islam yang berkembang di Eropa, Amerika, Kanada, Rusia. Sehingga terkagum-kagum pada “Ini Negara Kafir kok malah hukumnya bagus, pembangunannya hebat dan politiknya rahmatan lil’alamin”. Negara-negara Barat melaksanakan Islam Madinah tanpa Mekah, Kaum Muslimin menegakkan Mekah tanpa berpikir Madinah. Ummat Islam yang minoritas (15%) di Negeri Madinah, bekerjasama menciptakan Peradaban Madaniyah, di mana Rasulullah mengayomi mereka semua tanpa jabatan resmi sebagai Khalifah, meskipun desain pengayomannya adalah Khilafah.

Pada puncak evolusi Khilafah dikenal konsep “ahsanu taqwim” dan “asfala safilin”, yang di dalamnya terangkum dialektika benar-salah, baik-buruk dan mulia-hina. Khalifah artinya “membuntuti Tuhan dengan berjalan di belakangnya”. Tentu tidak secara fisik, melainkan nilai. Kalau kesadaran Abdullah adalah pengetahuan bahwa manusia dan kehidupan hanya diselenggarakan: kita terikat kepada Yang Maha Menyelenggarakan. Maka kesadaran Khalifatullah adalah bahwa kita tidak hanya hamba, kita adalah mandataris, asisten manajer untuk mengelola rahmatan lil’alamin.

Sementara Default value Abad-21 manusia adalah “tuhan”. Ketika menapak ke kesadaran Hamba Tuhan, manusia mengerti “aku tidak punya mata, aku hanya dipinjami mata dan diperkenankan melihat, sesungguhnya mataku adalah mata-Nya”. Demikian juga telinga, tanah, lautan, tambang, apapun saja sahabat pergaulan di alam semesta. Itulah sebabnya nenek moyang bangsa Nusantara mengajari cucu-cucunya untuk berupacara Ruwat Desa atau Merti Desa. Tapi begitu kita menjadi Negara, isi bumi kita kuras habis tanpa minta izin kepada Maha Pemiliknya. Kita manusia Abad Kemanusiaan Abad-21 merasa memiliki dunia dan alam semesta. Kita hutang melebihi tingginya gunung tanpa sopan santun dan a’izzah kepada anak cucu. Padahal manusia tidak rasional untuk merasa memiliki dirinya sendiri. Bahkan menumbuhkan

Mungkin karena itu sejatinya Bangsa dan Negara Indonesia butuh belajar Khilafah. Tidak sebagai gerakan politik, tapi sebagai ilmu dan program keselamatan masa depan. Kapan-kapan kita bertamasya ke Kebun Ilmu untuk menikmati keindahan betapa rasa keagamaan bangsa Nusantara telah bertemu dengan jodohnya, yakni hidayah dari Tuhan Yang Maha Esa. Kata orang Jawa: “Tumbu Ketemu Tutup”.

(Menuju “KALAU KEKASIH DISAKITI”)

Yogya Juni 2017.

“Fa man sya`a falyu`min, wa man sya`a falyakfur”. Bagi yang berjuang mensungguh-sungguhi Allah, Islam, Al-Qur`an, Pancasila, dan Bhinneka Tunggal Ika…