Daur-II • 278

Qur`an Sepertiga dan Perang Sampyuh

Ratusan ribu kaum pendatang diburu dan dibunuh. Sama sekali tidak sulit untuk menemukan yang diburu. Tidak perlu diperiksa kartu identitasnya, tak perlu membuka buku sensus atau menyandera Kepala Desa untuk mendata siapa-siapa kaum pendatang yang menginjak-injak harga diri para penduduk asli itu. Cukup dengan penciuman atau sekelebatan mata memandang jenis wajah mereka.

Pemberangusan atas kaum pendatang itu berlangsung amat cepat. Ratusan ribu orang terkubur, atau kepala-kepala mereka ditancapkan di tonggak-tonggak pagar. Hukum tidak berdaya. Jangankan bertindak: sekadar mengidentifikasi data-data pemusnahan saja tidak mencukupi perangkat dan energinya. Sebab di belakangnya terdapat komplikasi sosial, konslet ekonomi dan akumulasi persaingan hidup yang panjang.

Markesot dengan sejumlah temannya menemukan area Pesantren yang luluh lantak rata tanah karena dibakar. Pak Kiai dan para santri mati. Tinggal Bu Nyai dan anak kecilnya. Sebuah Mushaf Al-Qur`an terbakar, tinggal sepertiganya, tergeletak di tanah. Markesot membawanya, menyimpannya dan menjadikannya cermin sejarah, untuk belajar kembali tentang manusia, dunia dan Negara. Markesot diminta untuk menyisir empat Kabupaten di sebelah barat sebuah Pulau Besar, untuk mengantisipasi jangan sampai pemberangusan melebar ke wilayah-wilayah itu.

Mungkin para pemberangus yang merasa digerogoti hartanya dan dicoreng martabatnya oleh kesombongan di pelabuhan itu, meskipun bukan pematuh Kitab Suci ini, tetapi secara naluriah melaksanakan perkenan dari Tuhan ini: “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. [1] (Al-Baqarah: 190)

***

Gentholing tampak semakin gelisah mendengar kisah berlanjut-lanjut bagai tak ada ujungnya ini. Pakde Tarmihim kemudian mengemukakan sesuatu seakan-akan ia mendengar apa yang bergejolak dalam hati Toling.

“Sekarang ini sekam dan simpanan bara api di Negerimu berpuluh-puluh kali lipat lebih besar dibanding yang terjadi di Pulau Besar itu. Di hari-hari mendatang generasi kalian tidak boleh terkejut apabila sewaktu-waktu terjadi ledakan sejarah. Bahkan komplikasi masalahnya jauh lebih ruwet. Komplikasi konfliknya jauh lebih sukar untuk dipetakan. Kalau generasi muda tidak segera menata diri, menjernihkan pikirannya dan melonggarkan hatinya, kalian akan benar-benar kebingungan meletakkan diri di tengah Perang Sampyuh yang sewaktu-waktu bisa terjadi”.

Toling tertunduk diam dalam kegelisahannya.

“Rasulullah saw beberapa waktu yang lalu menitipkan pesan agar kalian meningkatkan luasnya kesabaran dan detailnya kewaspadaan. Sebab kata Rasulullah beliau sendiri tidak mengalami komplikasi konflik seperti yang kalian alami. Di zaman beliau hanya ada satu Abu Jahal atau Abu Lahab. Sekarang ini Abu Jahal beribu-ribu jumlahnya. Abu Lahab merasuki jiwa ratusan juta penduduk Negeri kalian. Yang sebenarnya kalian alami bukan pertentangan antara Koalisi-A melawan Koalisi-B, Faksi-X melawan Faksi-Y, bukan Golongan-Ini melawan Golongan-Itu, bukan Ideologi-Dadap melawan Ideologi-Waru, apalagi Islam melawan Pancasila. Peta pertentangan yang berlangsung adalah Kaum Penindas di bagian atas dan menengah serta saluran-salurannya sampai ke bawah. Menimpa Rakyat tertindas di berbagai lapisan dan bagian”.

“Kaum Penindas terkadang tampak bertentangan satu sama lain, sehingga rakyat memilih jagoannya di antara mereka. Padahal mereka melakukan Talbis, mengkostumi ke-Iblis-an mereka dengan pakaian Malaikat…”

***

Di sebuah lapangan di wilayah paling utara barat Pulau Besar itu, Markesot mengumpulkan dua golongan masyarakat yang di area-area timur daerah mereka sedang diberangus. Tentu saja Markesot bukan seorang pemberani. Salah seorang temannya sudah jatuh sakit dan tergeletak begitu tiba di daerah itu. Markesot menemui satu-persatu pimpinan dua golongan masyarakat itu, dengan hati gemetar dan badan menggigil yang ia sembunyikan.

Kepada pemuka masyarakat yang sedang dalam proses diberangus, tidak terlalu rumit komunikasinya, sebab beliau merasa sedang didatangi oleh orang yang menemani beliau dan turut menjaga keamanan masyarakatnya. Tetapi berjumpa dan “berdiplomasi” dengan tetua masyarakat yang sangat kuat dan sedang melakukan pemberangusan massal, sebenarnya hampir pecah kepala Markesot.

Bertamu ke sebuah rumah di tepian hutan, Markesot berjalan amat sopan, setengah membungkuk dan langsung menghampiri tuan rumah, serta langsung memeluknya. Markesot berbisik ke telinga beliau: “Bapak, saya dan teman-teman datang dengan cinta, persaudaraan dan keikhlasan untuk meminta maaf dan memintakan maaf. Kami perlu mengetahui posisi kami di sini: apakah bagi Bapak, kami ini musuh ataukah saudara… Kalau saudara, kami bersyukur melebihi dalamnya lautan. Kalau kami ini musuh, kami akan siap-siap, meskipun pasti kami tidak berdaya dan kalah…”

Tuan rumah membalas pelukan Markesot lebih erat: “Saudara, Cak, Sampeyan saudara kami semua di sini…”

Markesot menarik napas lega. Dasar penakut. Tetapi berarti amanlah kumpulan massa dua masyarakat di lapangan nanti sore. Juga puji Tuhan, aman hari-hari sesudah itu di empat wilayah yang digemetari oleh Markesot dan teman-temannya.

Wa in ta’fu wa tashfahu”, jika engkau berlapang dada dan memaafkan, maka Allah pun “Ghofurun Rohim”, Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Bahkan Allah tidak memakai konteks “Ghaffarun Rahman”, karena begitu mendalam permaafan-Nya. [2] (At-Taghabun: 14) Pun Beliau tegaskan: “orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan. [3] (Asy-Syura: 43)

Di tengah dialog orang selapangan bola itu, hampir terjadi gesekan pembicaraan yang bisa menyulut api bentrokan. Markesot langsung terjun ke tengah massa, menghampiri salah seorang Ibu yang sedang memangku putra kecilnya. Markesot minta izin menggendong anak itu, membawanya ke podium dan meneruskan pembicaraannya. Alhamdulillah suasana menjadi reda dan sejuk kembali.

Yogya, 23 November 2017