Purna Bhakti Pak Munichy

Di Kampus Terpadu UII Jakal, pagi tadi Cak Nun menghadiri acara purna bhakti Pak Munichy Bahron Edress.
Di Kampus Terpadu UII Jakal, pagi tadi Cak Nun menghadiri acara purna bhakti Pak Munichy Bahron Edress.

Pagi tadi, selepas semalam acara di Festival Komunitas Lima Gunung Magelang, Cak Nun sudah berada di Kampus Terpadu UII Jalan Kaliurang untuk menghadiri sarasehan “Guruku, Sahabatku, dan Tauladanku.”

Acara ini digelar dalam rangka menyambut Purna Bhakti Ir. Munichy Bachron Edrees, M. Arch., IAI., AA., yang telah mendedikasikan diri selama 33 tahun sebagai dosen Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UII. Pak Munichy — sapaan akrabnya — tak hanya dosen, melainkan juga pendiri Prodi Arsitektur UII ini, dan pernah pula menjabat sebagai ketua asosiasi IAI.

Cak Nun diundang hadir karena merupakan salah satu sahabat dekat Pak Munichy dan teman sekolah waktu di SMA Muhi Yogyakarta. Secara khusus Cak Nun diminta berbagi cerita, kisah, dan hal-hal yang dirasakannya menyambut purna bhakti sahabatnya ini.

Dalam kesempatan ini, Cak Nun bercerita bahwa sepertinya di Lauhul Mahfudl nama Pak Munichy memang sudah tertulis dengan tinta emas. Sejak kecil orangnya rajin dan tekun. Diceritakan pula oleh Cak Nun  kemesraan persahabatannya sewaktu SMA itu. Ketika berjalan kaki menuju sekolah, Cak Nun selalu disalip Pak Munichy. “Pak Munichy lulus di semua hal. Dia orang yang baik dan jujur,” kata Cak Nun.

Ini lalu mengingatkan Cak Nun tentang “prestasi” Cak Nun sendiri di sekolah, yaitu bagaimana guru-guru rapat kelulusan siswa untuk akhirnya bersepakat meluluskan Cak Nun daripada akan merepotkan setahun lagi. Selain rajin, Cak Nun juga ingat Pak Munichy aktif melukis sejak SMA.

Pak Munichy mempunyai nasab tinggi yang terhormat karena Ia adalah salah satu cucu KH. Ahmad Dahlan. Di tengah-tengah masyarakat, Pak Munichy pun berkhidmat sebagai seorang mubaligh dan agak dicemburui mubaligh lain, karena pribadinya yang sangat lurus dan jujur.

Di sini pun, Cak Nun mengemukakan satu cara pandang bahwa manusia sebenarnya adalah penduduk surga yang sedang outbond ke Bumi sebentar. Nah, oleh Allah Pak Munichy diciptakan dengan Formula biologis yang sangat Arsitektural. Dalam pandangan Cak Nun, arsitek termasuk ujung tombak peradaban.

Sebab, peradaban manusia saat ini agak kacau dalam urusan memahami atau memperlakukan antara yang tampak dan yang tidak tampak. Talbis adalah fenomena yang terkait dengan hal ini. Tetapi di sisi lain, apa yang tampak atau kelihatan adalah wilayah karya arsitek. Maka arsitek adalah pelaku utama peradaban.

Buah persahaban antara Cak Nun dan Pak Munichy adalah pada salah satu kesempatan Mocopat Syafaat, Pak Munichy pernah hadir dan diminta oleh Cak Nun untuk berbagi kepada jamaah Mocopat Syafaat di antaranya mengenai sejarah Muhammadiyah yang beliau pahami sebagai cucu KH. Ahmad Dahlan. Jamaah menyimak penuturan beliau dan menikmati keindahan interaksi yang terbangun saat itu.

Acara Sarasehan “Guruku, Sahabatku, dan Tauladanku” ini dihadiri oleh civitas akademika UII, para sahabat dan kolega Pak Munichy. Acara berlangsung dalam suasana keakraban, penuh rasa terima kasih dari para muridnya, dan penghormatan atas dedikasi Pak Munichy selama 33 tahun berkiprah dan mengabdi di UII.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image