Daur-II • 282

Pulau-Pulau Ternak

Ada zaman di mana suatu kumpulan manusia tidak mengerti bahwa ada ayam sedang berkokok, kalau si ayam tidak mengatakan kepada mereka bahwa ia sedang berkokok. Kalau di pagi hari matahari terbit, ia harus pasang iklan di radio, televisi, koran atau medsos yang mengumumkan bahwa ia sudah terbit. Kalau hujan turun dari angkasa, ia harus pasang baliho atau poster di jalan-jalan yang memaklumkan bahwa ia sedang mengguyur.

Di antara kumpulan manusia itu komunikasi dilaksanakan dengan transparansi tingkat puncak. Orang tidak bisa menangkap cinta orang lainnya kecuali si pecinta menyatakan secara terang-terangan bahwa ia mencintai orang dicintai. Pernyataannya minimal dengan kata-kata, bunyi dari mulutnya, atau tertulis di kertas, atau dengan memberikan uang, mobil dan rumah.

Kalau ada orang sedang bersedih, temannya baru mengerti sesudah orang itu memberi pernyataan: “Saya sedang bersedih, lho”. Kalau ada Setan mendatanginya, orang tidak paham bahwa itu Setan. Ketika si Setan menyatakan “Saya ini Malaikat lho”, maka orang itu meyakini bahwa ia telah didatangi oleh Malaikat. Demikian juga ketika yang lain-lain datang kepadanya dengan menyatakan “Saya merakyat lho”, “Saya Anti Korupsi lho”, “Saya Move on lho”, “Saya menyuarakan hati nurani rakyat lho” dan macam-macam lagi. Orang-orang itu menjadi tahu, percaya, kemudian mendoakannya sesudah setiap shalatnya.

Kalau ada orang Indonesia datang dan mengajak berteriak “NKRI Harga Mati”, merekapun meneriakkan kata yang sama. “Negara kita ini…”, mereka yakin ini adalah Negara. “Hidup Pancasila”, mereka pun memekikkan kata-kata itu, karena khawatir Pancasila mati. “Apa ada yang lebih baik dari sistem Demokrasi?”, mereka pun tidak berani berpikir kecuali Demokrasi adalah yang terbaik. Mereka tidak punya bahan dan alat berpikir untuk mengetahui apa NKRI, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan Demokrasi itu makna sesungguhnya. Itulah kumpulan Muqallidin, anut grubyug, rubuh-rubuh gedang.

Bahkan kumpulan manusia itu tidak mampu menemukan makna ketika saling memandang wajah di antara mereka. Apalagi merasakan raut muka. Terlebih lagi menyelami yang terkandung di balik ekspresi wajah itu. Meskipun penduduk sekampung menyaksikan ada tetangga yang menerobos api untuk menolong anak tetangganya yang rumahnya kebakaran, kalau kemudian si penolong itu menyatakan “saya takut kepada api”, maka semua orang di kampung itu menyimpulkan bahwa ia seorang penakut. Pada hidup mereka, fakta kalah oleh statement.

Untuk hal-hal yang tidak terkait langsung dengan keuntungan materiil pribadinya, atau dengan bidang ekspertasinya, dengan karier dan profesinya — kumpulan manusia itu hanya bisa berpikir sangat sejengkal, sangat datar dan sangat dangkal. Tidak ada logika lipatan, tikungan, dialektik, komprehensi, siklikal, zig-zag, jazzy. Tak bisa membedakan sudut pandang, sisi pandang, jarak pandang, pamrih pandang, kepentingan pandang. Apalagi “min haitsu la yahtasib”. Terlalu khayal untuk mengharapkan ada simulasi, tajribah, tafahhum, tadarrus, ta’arruf, tafaqquh, tashadduq, tahaqquq, apalagi ta`addub dan ta`dib.

Meskipun dua orang hampir tiap hari ke Masjid bersama, shalat berjamaah bersama, kalau kemudian salah seorang membisikkan ke telinga seorang lainnya “saya tidak sudi taat kepada Tuhan”, maka sahabatnya menyimpulkan bahwa temannya itu Kafir. Meskipun seseorang memegang beberapa biji tahi kambing, kalau Pak Lurah bilang itu adalah kue klepon hitam, maka tahi kambing itu dimakan oleh orang itu.

Kumpulan manusia itu, meskipun tampaknya dungu dan mudah ditipu, tetapi mereka memiliki daya hidup dan ketahanan mental yang luar biasa. Ketika ia memakan tahi kambing, ia berpikir “Oo begini rasanya klepon hitam”. Kemudian ia menyesuaikan saraf lidahnya terhadap keadaan itu, sehingga kalimat selanjutnya adalah “Oo begini yang namanya enak”. Kemudian Tuhan malah tidak tega kepada mereka, sehingga Ia membikin tahi kambing itu benar-benar terasa enak di mulut pemakannya. Bahkan Tuhan melarang zat-zat di dalam tahi kambing itu merusak kesehatan pemakannya.

“Itulah sebabnya Pakde kalian Tarmihim bersikeras menceritakan banyak hal tentang Mbah Markesot kepada kalian”, kata Sundusin kepada Toling dan lainnya, “minimal untuk melatih stamina, training kesabaran, kewaspadaan dalam keluasan dan akurasi di tengah kompleksitas. Supaya kalian tidak ikut berbaris menjadi binatang ternak, menghabiskan makanan dan merepotkan zaman”

Kemudian Sundusin mengingatkan kalimat Allah: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi Neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami kode-kode dari Allah. Mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat pertanda-pertanda kekuasaan Allah. Dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar amsal-amsal Allah. Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. [1] (Al-A’raf: 179)

Tetapi kemudian Seger sambil tertawa membantah Sundusin, menandinginya dengan firman yang lain: “Sesungguhnya Tuhanmu mengampuni orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki dirinya. Sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [2] (An-Nahl: 119)

Banyuwangi, 27 November 2017